Foto : Gerd Altmann/Pixabay
Oleh: Jlitheng
Untuk dapat bergembira itu tidak perlu dengan alasan yang rumit-rumit, tapi biasa-biasa sajalah.
Tadi malam saya sungguh bergembira. Dalam jumpa BKSN ke 4 yang dapat saya hadiri. Saya duduk bersebelahan dengan kawan lama yang sejak pandemi tak pernah jumpa.
Beliau seorang PATI yang low profile. Badannya tidak tinggi kekar layaknya angkatan, sehingga sosoknya tidak berkesan seram . Hadir bersama istrinya yang sama pembawaannya, low profile.
Low profile, bersahaja, seirama sekali dengan pesan bacaan hari ini, bahwa relasi manusia yang bermartabat tidak dilandaskan pada pangkat, derajat atau materi, tapi pada kesetaraan sebagai Imago Dei, gambar Allah, Citra-Nya.
Relasi yang tak bermartabat digambarkan oleh Lukas seperti relasi orang kaya dan kikir dengan Lazarus yang menderita. Yang berdampak pada derita abadi bagi si kaya dan bahagia lekal untuk Lazarus yang menderita di dunia.
Menarik sekali pernyataan seorang suami ysng telah lebih 10 tahun hidup dengan istrinya yang lumpuh. Ia tidak melihat sakit itu sebagai tanda murka Allah, tapi kesempatan baru bagi saya untuk membangun relasi yang lebih baik, lebih setara, lebih suci, lebih menyatakan Imago Dei.
Sebagai suami saya melihat pesan Tuhan dalam sakit istriku untuk mencintainya lebih sungguh san lebih bermartabat.
Ya, dalam keadaan apapun kita harus bertahan. Berdiri Teguh dalam Pengharapan.






