69. TAK-TIK KALAMARICA
Kalamarica yang licik dan sakti itu segera memasuki Hutan Dandaka. Ia seorang diri saja. Menyamar sebagai seekor kijang berbulu emas.
Gerakannya yang lincah membuat decak kagum siapa pun yang melihatnya.
“Aku harus masuk ke tengah hutan Dandaka ini sampai menemukan keberadaan Dewi Sinta,” katanya dalam hati.
Sementara Prabu Rahwana atau Dasamuka terus mencari dan mengawasi gerak-gerik Kalamarica yang telah menyamar menjadi seekor kijang berbulu emas yang selanjutnya hanya disebut si kijang emas saja.
Setelah beberapa waktu lamanya akhirnya si kijang emas menemukan tempat kediaman Raden Ramayana di dalam Hutan Dandaka.
Ketika Dewi Sinta melihat kelebat si Kijang Emas maka katanya.
“Kanda Rama, lihatlah si Kijang Emas itu.”
“Apa Dinda?”
“Lihatlah si Kijang berbulu emas itu, alangkah elok dan cantiknya.”
“Oh, ya?”
“Kijang emas yang cantik.”
“Betul Dinda.”
‘Kanda?!”
“Ya, Dinda?!”
“Aku ingin Kijang Emas itu.”
“Lihat, ia sangat jinak!”
Raden Rama Wijaya mencoba mendekatinya, tetapi si Kijang Emas meledek terus. Selalu luput dari tangan Ramawijaya.
“Dia sulit untuk ditangkap!” kata Raden Rama kepada Dewi Sinta kekasihnya.
“Kalau begitu, biar aku saja yang menangkapnya, Kanda.” kata Lesmana.
“Aku juga bersedia untuk menangkapnya,” kata Raden Satrugna.
“Tidak! Aku sendiri yang hendak menangkapnya kata Raden Ramawijaya.
Kijang Emas terus meledek Dewi Sinta dengan berlenggak-lenggok di bawah pohon kendal yang banyak seluruhnya.
“Percayalah, aku pasti bisa menangkap Kijang Emas itu.”
Akhirnya diputuskan bahwa yang hendak menangkap Kijang Emas itu adalah Raden Ramawijaya, sedangkan Raden Lesmana Widagda dan Raden Satrugna mendapat tugas untuk menjaga keselamatan Dewi Sinta.
Dengan membawa jemparing atau anak panah beserta busurnya Raden Ramawijaya atau Raden Ramayana memburu Kijang Emas itu. Kijang emas semakin menjauh dari keberadaan Dewi Sinta, sementara itu Raden Rama Wijaya terus memburunya.
Satrugna yang mengkhawatirkan keselamatan kakaknya ia segera menyusul memasuki Hutan Dandaka yang sangat lebat itu. Sedangkan Dewi Sinta tinggal berdua dengan Raden Lesmana saja.
Dasar Kijang Emas penjelmaan Kalamarica yang licik. Ia menirukan suara Raden Ramawijaya seolah-olah ia sedang mendapatkan kesulitan di tengah hutan, dan suara itu sampai di telinga Dewi Sinta hingga berulang-ulang.
“Lesmana, Lesmana! Tidakkah engkau mendengar suara jeritan kakandamu itu? Ia sedang mengalami kesulitan di dalam hutan ini!”
“Tenang Kanda Dewi.”
“Tenang bagaimana,?”
“Kanda Ramayana satria sakti.”
“Aku mengkhawatirkannya!”
“Jangan khawatir!’
“Jangan khawatir?”
“Ya, jangan khawatir. Percayapah, tak akan ada seorang pun yang mengganggu Kanda Ramawijaya.”
“Buktinya kakanda
Rama berteriak-teriak minta tolong dan menyebut-nyebut namamu.”
“Itu bukan suara Kanda Ramawijaya.”
“Lesmana, tolonglah aku!”
Suara itu terdengar lagi.
“Dengar, dengar Lesmana!”
“Bukan, itu bukan suara Kanda Ramawijaya.”
“Lesmana, tolonglah aku!” lagi-lagi suara itu menggaung di angkasa.
Suara itu adalah suara Rahwana atau Prabu Dasamuka yang terbang tinggi di angkasa membantu kelicikan Dityakala Kalamarica yang sedang menyamar menjadi seekor Kijang Emas.
“Lesmana, kau tak mau menolong Kanda Ramawijaya? Sekarang aku tahu bahwa engkau sesungguhnya tega pada Kakanda Ramawijaya dan engkau mencintai aku bukan?” kata Dewi Sinta.
“Duh, Kakanda Dewi Sinta. Lesmana tak memiliki perasaan seperti itu.”
“Buktinya sudah jelas, engkau tak mau menolong kakandamu Ramawijaya yang sedang mengalami sebuah kesulitan di dalam hutan yang sangat lebat ini.”
“Kanda Dewi Sinta. Aku akan menuruti kehendak kakanda Dewi. Tetapi sebelumnya aku akan berkata kepada Kanda Dewi.”
“Engkau akan berkata apa kepadaku Lesmana?”
“Karena pikiran Kanda Dewi Sinta yang sedemikian itu kepada Lesmana maka jadilah saksi, kalau aku akan menjadi satria wadat (tidak akan beristri atau menikah) selamanya. Yang kedua, jika terjadi apa-apa dengan Kanda Dewi Sinta jangan salahkan Lesmana. Ketiga, kandha Dewi jangan sekali-kali keluar dari lingkaran tanah di sekitar kanda Dewi Shinta. Karena lingkaran tanah bermantra ini yang akan menjaga keselamatan Kanda Dewi Sinta. Sudahlah sekarang aku hendak menyusul Kakanda Ramawijaya. Jaga diri Kanda Dewi Sinta baik-baik.”
(70) KALAMARICA TEWAS
Setelah Raden Ramayana jauh dengan keberadaan Dewi Sinta, ia segera membuka topengnya. Ia berubah dari wujud Kijang Emas menjadi rupa raksasa bernama Dityakala Kalamarica.
“Hilangnya Kijang Emas dari hadapanku sekarang ada raksasa berwajah buruk rupa. Apakah engkau yang menjelma menjadi seekor Kijang Emas buruanku tadi?” Tanya Raden Ramayana.
“Betul, aku yang menyamar sebagai seekor Kijang Emas itu tadi.”
“Apa maumu?”
‘ini merupakan sebagian rencana dari Prabu Rahwana atau Prabu Dasamuka untuk menculik Dewi Sinta istrimu yang cantik jelita itu!”
“Kurangajar sekali engkau ini!”
Mendengar kata-kata Kalamarica, Raden Ramayana segera menarik anak panah dari busurnya kemudian dilepaskannya tepat mengenai dada Kala marica. Kalamarica tewas ketika.





