Para siswa SMAN 2 Depok tengah menunggu pintu ruang pertemuan. Menurut Kepala Sekolah, petugas kebersihan terlambat untuk membuka pintu ruangan, sementara siswa Rohani Kristen sudah datang. Ketua PGI Gomar Gultom menyatakan betapa banyaknya siswa Kristen yang tidak mendapatkan Pendidikan Agama di sekolah-sekolah negeri, termasuk di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, dan lainnya.
Seide.id – Diskriminasi terhadap penganut agama minoritas masih berlangsung di sekolah sekolah. Juga di kawasan pinggiran ibukota. Terbaru, menjadi viral dugaan diskriminasi terhadap siswa-siswi beragama Kristen di SMA Negeri 2 Depok, Jawa Barat. Ia meminta Dinas Pendidikan Jawa Barat mengambil tindakan tegas.
Ketua Umum Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Gomar Gultom menyayangkan diskriminasi itu merespons unggahan viral di media sosial yang menyebut siswa beragama Kristen mengikuti ekstrakurikuler Rohani Kristen (Rohkris) di lorong sekolah karena dilarang memakai ruang kelas.
“Saya sangat menyayangkan terjadinya perlakukan yang sangat diskriminatif itu. Saatnya Dinas Pendidikan Jawa Barat mengambil tindakan tegas kepada staf sekolah ini, yang bahkan berniat membubarkan Rohkris,” kata Gomar dalam keterangannya, Jumat (7/10).
Gomar mengatakan perlakuan diskriminatif itu bertentangan dengan semangat Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Aturan itu mengamanatkan peserta didik menerima pembinaan budi pekerti sesuai dengan agamanya.
Melansir CNNIndonesia, Gomar meminta SMAN 2 Depok yang berstatus sekolah dikelola negara agar memberikan layanan dan fasilitas pembinaan spiritual dan budi pekerti kepada seluruh siswa.
“Tanpa memandang suku dan agamanya, baik seturut dengan tuntutan kurikulum maupun kebutuhan ekstrakurikuler,” kata dia.
Dugaan diskriminasi kepada siswa Kristen di SMAN 2 Depok menambah daftar panjang perlakuan negara yang sangat diskriminatif terhadap siswa non-Islam. Ia lantas menyoroti kelangkaan guru pendidikan agama Kristen di sekolah-sekolah negeri.
Membeberkan Data Pokok Pendidikan Kemedikburistek RI 2020, Gomar menunjukkan rasio jumlah guru pendidikan Agama kristen di sekolah negeri adalah 1 banding 8,5. Artinya, dari 8 atau 9 sekolah negeri hanya ada satu guru pendidikan agama Kristen.
“Data ini menunjukkan betapa banyaknya siswa Kristen yang tidak mendapatkan Pendidikan Agama di sekolah-sekolah negeri, termasuk di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, dan lainnya,” ujarnya.
Bantahan Kepala SMAN 2 Depok
Kepala Sekolah SMAN 2 Depok Wawan Ridwan menegaskan tidak ada praktik diskriminasi terhadap siswa beragama tertentu di sekolah.
Wawan mengatakan seluruh aktivitas keagamaan di SMAN 2 Depok sudah terfasilitasi dengan baik. Menurutnya, tidak ada larangan apa pun untuk mengadakan kegiatan agama di SMAN 2 Depok.
“Tidak ada praktik diskriminasi terhadap kelompok agama tertentu di SMAN 2 Depok,” kata Wawan dalam keterangan tertulis dikutip dari detikcom.
Wawan pun menjelaskan kronologi yang sebenarnya terjadi pada 30 September 2022 itu. Dia menuturkan peristiwa itu bermula saat ruang multiguna yang biasa digunakan siswa Rohani Kristen dalam kondisi berantakan lantaran dipakai untuk meletakkan seragam siswa kelas X.
“Oleh karena itu, untuk kegiatan Doa Pagi (Saat Teduh) bagi siswa-siswi beragama Kristen dipindahkan ke ruang pertemuan lantai 2. Informasi pindahnya ruangan sudah disampaikan oleh pihak sarpras pada hari Kamis ke kepala sekolah, petugas kebersihan (office boy), dan salah satu siswa Rohkris,” kata Wawan.
Wawan pun menepis jika siswanya tidak diberi ruangan. Dia mengatakan, dalam foto yang beredar itu, para siswa tengah menunggu pintu ruang pertemuan dibuka oleh petugas kebersihan. Sebab, lanjutnya, saat itu menyebut petugas kebersihan terlambat untuk membuka pintu ruangan, sementara siswa Rohani Kristen sudah datang.
“Jadi ketika mereka menunggu di lorong ruang pertemuan. Jadi foto yang beredar di media bahwa seakan-akan murid sedang duduk di selasar atau pelataran atau lorong karena tidak diberi ruangan untuk kegiatan, sebetulnya tidak sesuai dengan yang diberitakan,” sebutnya.
Sementara itu, pembina Rohkris SMAN 2 Depok, Mayesti Sitorus, mengaku sebagai pihak yang memfoto siswa yang viral dinarasikan tidak diberi ruangan untuk berkegiatan. Mayesti mengaku mengirimkan foto itu di grup alumni SMAN 2 Depok.
“Yang foto ya saya, dikirim di grup. Kita punya grup alumni, siswa-siswi alumni, angkatan 37, 36, 35,” kata Mayesti.
Mayesti mengatakan foto itu diambilnya saat siswa Rohani Kristen akan melakukan “Saat Teduh” yang merupakan kegiatan doa pagi bagi siswa Kristen setiap hari Selasa hingga Jumat.
Mayesti pun mengungkap alasannya mengambil foto tersebut. Dia berharap sekolah mempersiapkan tempat untuk siswa melakukan kegiatan Rohkris agar tidak mengganggu jam pelajaran siswa. – dms.






