Seide.id – Negara berpenduduk 22 juta jiwa yang terjerat utang ini baru saja mengumumkan gagal membayar hutang luar negeri alias default.
Situasi Sri Lanka yang terus memburuk berkepanjangan memancing protes selama berbulan-bulan yang disertai desakan agar Presiden Gotabaya Rajapaksa mundur.
“Waktu bagi Gotabaya untuk bersujud dengan bermartabat sudah lama berlalu. Sekarang kita harus mengusirnya,” ujar pemimpin mahasiswa Wasantha Mudalige seperti dikutip Channel News Asia, Senin (20/6).
Cadangan devisa negara ini habis. Banyak tersedot untuk membayar kewajiban cicilan utang.
Utang luar negeri Sri Lanka mencapai 51 miliar dollar AS atau jika dirupiahkan setara dengan Rp 731 triliun (kurs Rp 14.351). Ini belum termasuk pembayaran utang domestik yang diterbitkan pemerintah.
Para pejabat Sri Lanka menyebutkan, pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina membuat ekonomi negara itu semakin sempoyongan.
Utang pada China
Di luar nilai tersebut, utang negara ini pada China pun menumpuk hingga melampaui 5 miliar dollar AS.
China memang kerap memberi pinjaman untuk pembangunan infrastruktur. Namun bagi sebagian negara, utang yang diberikan malah menjadi “petaka”.
Beberapa negara di dunia dilaporkan justru terjebak utang tersebut karena tak mampu membayarnya karena proyeknya tidak berguna, dikorupsi atau mangkrak.
Mengutip Times of India, pemerintah Sri Lanka dilaporkan berutang kepada Beijing untuk sejumlah infrastruktur proyek sejak 2005.
Pinjaman ini digunakan untuk mendanai berbagai pembangunan berbagai proyek infrastruktur, termasuk jalan, bandara, dan pelabuhan.
Negara itu telah menerima miliaran dollar pinjaman lunak dari China, tetapi negara kepulauan itu telah dilanda krisis valuta asing yang menurut beberapa analis telah mendorongnya ke ambang default atau gagal bayar.
Melobi China
Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa telah meminta China untuk merestrukturisasi pembayaran utangnya sebagai upaya untuk membantu mengatasi situasi keuangannya yang memburuk.
Rajapaksa mengajukan permintaan tersebut dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi beberapa waktu lalu.
“Presiden menekankan bahwa restrukturisasi utang merupakan solusi atas krisis ekonomi yang terjadi akibat pandemi Covid-19,” kata Kantor Kepresidenan.
Pernyataan itu juga mengatakan, China diminta untuk memberikan persyaratan “konsesi” untuk ekspornya ke Sri Lanka, yang berjumlah sekitar 3,5 miliar dollar AS tahun lalu, tanpa memberikan perincian lebih lanjut.
Selanjutnya, Rajapaksa juga menawarkan untuk mengizinkan turis China kembali ke Sri Lanka asalkan mereka mematuhi peraturan yang ketat mengenai virus corona.
Sebelum pandemi Covid-19 melanda, turis dari China merupakan salah satu sumber utama pariwisata Sri Lanka. Dalam beberapa bulan terakhir, Sri Lanka telah mengalami krisis utang dan valuta asing yang parah, yang diperburuk oleh hilangnya pendapatan dari turis selama pandemi.
(ricke senduk)
Berita terkait : Sri Lanka Bangkrut






