Surga & Neraka yang Diciptakan Oleh Pikiran Sendiri

Seide.id – Maaf, jika tidak sependapat dan tidak berkenan dengan pemikiran saya ini. Karena kisah ini didasari oleh pengalaman saya sendiri.

Kisah ini terjadi 11 Januari 2024. Saya memposting dari blog saya untuk dibagikan ke FB. Judul tulisan motivasi saya: “Membangun Silaturahmi.”

Aneh tapi nyata, tulisan saya diblok oleh FB, karena dilaporkan oleh entah siapa. Sehingga melanggar spam. Padahal tulisan saya tidak berisi politik, ujaran kebencian, atau sara, tapi motivasi.

Apakah orang yang melaporkan itu iri hati, benci, dan tidak menyukai saya?

Ah, maaf. Saya tidak mau menilai buruk dalam pertemanan. Bisa jadi si Anu tanpa sengaja salah ngeklik, dan saya dianggap bersalah oleh FB.

Selesai? Ya, saya anggap selesai, dan saya memaafkan Anu. Jika FB menghapus tulisan itu, saya maklumi, karena komputer itu tidak mau kroscek untuk membaca. Saya juga tidak mau berharap banyak tentang peninjauan kembali oleh FB.

Saya menulis itu untuk bersenang-senang, karena hati yang riang itu obat. Tujuannya agar saya tidak cepat pikun, jauh dari stres, dan penyakit. Tapi sehat dan bahagia.

Dari pengalaman itu, saya dapat menarik benang merah, bahwa sesungguhnya Surga dan Neraka itu diciptakan oleh pikiran sendiri.

Ketika berprangka buruk, bahwa Anu iri hati atau benci, saya jadi dikejar rasa penasaran. Apa yang membuat Anu iri? Apa hebatnya saya? Sederet pertanyaan melesat, sehingga hati saya jadi risau, tidak tenang, gelisah, dan was-was.

Pikiran saya juga jadi tidak karuan. Tiba-tiba saya ingat tetangga sebelah rumah yang ditikam orang tak dikenal, hingga tewas. Padahal ia sopan, ramah, dan dermawan.

Saya lalu refleksi diri. Saya takut, jika perilaku atau postingan saya menyinggung atau melukai hati pertemanan. Meskipun postingan saya berisi motivasi dan inspirasi kehidupan. Ya, siapa tahu…

Sesungguhnya, ketika memasukkan hal buruk, baik lewat bacaan, cerita teman, dan pengalaman masa lalu yang sedih berarti kita meracuni pikiran dan hati ini. Sehingga kita harus berbesar hati untuk berani berdamai dengan diri sendiri. Untuk memberi maaf, mengampuni, dan mengasihi orang yang menyakiti atau bersalah pada kita. Tujuannya agar hati kita tidak tersiksa dan menderita.

Begitu pula, jika kita selalu berpikir positif dan berbaik sangka pada siapa pun, hati kita menjadi tenang, tentram, dan damai.

Selalu mengasihi sesama dan murah hati, membuat kita bahagia.

Hidup menderita dan bahagia itu sesungguhnya berasal dari pikiran sendiri.

Kau pilih yang mana?

Mas Redjo/ Red-Joss

Hening dalam Bising

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang