Tentang Kewajiban Memperingati Hari Wayang Nasional

Indonesia memiliki 100 jenis wayang yang tesebar di berbagai daerah dan pulau pulau Nusantara. Menyambut Hari Wayang Nasinal 2021, sebanyak 12 jenis di antaranya akan dipertunjukan secara virtual, 7-9 November 2021 – termasuk wayang dari Kamboja (kanan), yang menjadi bintang tamu – selain wayang golek dan wayang orang dan wayang kuit. foto : dimas

SENI pertunjukkan wayang termasuk di acara kegiatan yang terdampak pandemi Covid-19.  Setelah hilang kesempatan tanggapan dan pertunjukkan, para dalang kini mengkhawatirkan akan adanya perubahan drastis di tengah masyarakat dalam cara menonton wayang, yang berbeda dari sebelum adanya pandemi Covid-19.

Tradisi menonton semalam suntuk kemungkinan bakal berubah, juga respon lain terhadap seni wayang umumnya. Demikian antara lain dikatakan Kabul Budiono, pemerhati wayang yag juga dikenal sebagai jurnalis senior dan kini menjadi Anggota Dewan Pengawas di TVRI – menyambut perkembangan mutakhir seni wayang Indonesia, dalam acara temu pers dan soft opening perayaan Hari Wayang Nasional 2021 di Sekretariat Senawangi, Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta Timur, Jum’at (8/10/2021), kemarin.

Jurnalis senior lain Ninok Leksono menyatakan, tantangan bangsa Indonesia dalam seni wayang selain melestarikan juga mempopulerkan juga menginovasi wayang. Salahsatu bentuk inovasi adalah memangkas durasi petunjukannya . “Orang dulu kuat nonton wayang semalam suntuk , karena tak ada kerjaan lain. Sekarang banak aktifitas dan jadwal padat, ” kata mantan jurnalis Kompas, Anggota Dewan Pers, yang juga Rektor Universitas Multi Media Nusantara UMN.

Ninok menawarkan participatory journalism untuk para jurnalis, dimana selain meliput kegiaan, mendalami, juga menjadi pemain. Bersama sama Kabul Boediono Ninok mengisi waktu senggangnya main ketoprak dan wayang orang. “Dengan terlibat di dalamnya, kita tahu kesulitan kesulan mereka, “katanya.

Kepala Bidang Humas Senawangi, Eny Sulistyowati SPd, SE, MM, di seantero Indonesia saat ini ada  lebih dari 100 jenis wayang. Menyambut Hari Wayang Nasional ke-3 di tahun 2021 ini, masih dalam suasana pandemi, pihak panitia mencadangkan dua format kegiatan, yakni tatap muka dan virtual. “Jaga jaga, kalau ada pengetatan lagi, ” kata wanita penari wayang klasik dan pengusaha ini.  

Dalam perayaan Hari Wayang 2021 tahun ini Senawangi hanya bisa menampilkan 12 jenis, dari Indonesia dan penyaji wayang manca yakni dari Kamboja. “Karena masih pandemi, kami tampilkan virtual, ” katanya. Setiap jenis wayang tampil 30 menit, untuk wayang orang 45 menit, ” jelasnya. 

Semua pertunjukkan direkam di studio, ditampilkan virtual, dan diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa, tambahnya.  

“Dampak yang pasti – pada tahun 2020 lalu kami nggak merayakan Hari Wayang, karena pandemi Covid, ” ungkapnya dalam obrolan dengan Seide.id.  “Untuk tahun 2021 ini, kami paksakan ada perayaan. Sebab kalau nggak pada tertidur semua, ” tambahnya.

Dalam kegiatan perayaan, selain pertunjukkan virtual, juga ada diskusi, dimana tahun ini dilakukan dalam format webinar nasional, menghadirkan pembicara dari luar negeri juga.

“Dari keseluruhan kegiatan ada 20 persen yang tatap muka, khususnya pada saat opening, 7 November 2021, menghadirkan VVIP. “Ada beberapa tokoh nasional yang konfirm, yang lainnya, menunggu audensi, “kata Eny seraya mengucapkan semua kegiatan menyambut hari wayang dipusatkan di Gedung Kautaman Wayang – Taman Mini, Jakarta.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo sudah menyatakan konfirmasinya untuk membuka resmi, meski belum ada kepastian hadir di lokasi atau mengunakan virtual. “Beliau sudah mengagendakan waktunya, pada hari itu untuk kita, “jelasnya.

“Tema kegiatan tahun ini adalah Sena Wangi sebagai National Charakter Builder.  Menjadikan wayang sebagai sarana membangun karakter bangsa, ” paparnya.

Selanjutnya, Kewajiban memperingati Hari Wayang Nasional

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.