‘The Power of the Dog’, Puisi Maskulinitas Jane Campion

Ini adalah sastra di atas seluloid. Kritik memberinya nilai 90, tapi penonton hanya memberi angka tak lebih dari 70, lebih rendah dari film-film superhero Marvel.

Oleh AYU SULISTYOWATI

SUNGGUH beruntung Netflix membeli dan mengedarkan film ini. Selain The Lost Daughter, sepertinya The Power of the Dog akan jadi tiket Netflix ke Oscar tahun depan. 

Film ini membawa kita ke Montana di tahun 1925. Berkenalan dengan dua kakak adik pemilik peternakan: Phil dan George Burbank. Phil yang kharismatik dan disegani, sekilas tampak macho dan tak suka basa-basi, berbanding terbalik dengan George. 

Suatu saat, saat keduanya dan para rancher anak buah mereka berhenti di dekat pemukiman, mereka bermalam sebelum kembali ke rumah mereka yang jauh di pelosok. Mereka makan di sebuah restoran yang dikelola Rose Gordon, janda satu anak remaja, Peter.

George meski tampak kalem dan tidak agresif tak mau buang waktu saat melihat Rose yang masih cukup muda dan menarik, ia segera mendekati perempuan berambut pirang tersebut. Bahkan ia juga tak mau buang waktu untuk segera melamarnya. 

Phil tak begitu peduli ketika George mengatakan akan menikahi Rose — yang tampak segan bahkan kurang suka pada Phil. Rose tak suka ketika Phil memperolok Peter saat menyajikan makanan kepada Phil dan anak buahnya tempo hari. Apalagi ketika Phil membakar bunga kertas bikinan anaknya tersebut.

Peter yang kurus dan jangkung itu tampak ringkih, bahkan sedikit feminine terlihat sebagai remaja cerdas yang sangat cinta alam dan seni. Ia juga jauh dari agresif, bahkan tak melawan ketika para koboi mengerjainya. 

Lalu tak lama, George memboyong Rose ke rumah peternakan mereka yang luas. Memperkenalkan Rose pada orang-orang penting di sana. Meski ‘naik derajat’ tapi Rose tampak gugup menghadapi hidup barunya, dan kebiasaan lama yang ia tutupi kembali muncul: ia diam-diam mulai minum. Di tempat-tempat tertentu ia menyembunyikan botol-botol minuman yang sewaktu-waktu bisa ia tenggak. 

Tak lama ia menjemput Peter untuk menemaninya di peternakan, setidaknya sementara waktu. Ia berharap kehadiran anak tunggalnya itu bisa membantunya lebih mudah beradaptasi di sana. Tapi yang terjadi adalah di luar keingingan dan dugaannya. Peter malah lama-lama dekat dengan Phil, kelewat dekat bahkan. Ini membuat Rose makin stress dan kebiasaan minumnya makin menggila. 

Sementara itu kita diajak melihat siapa Phil sebenarnya. Sekejam apa pria itu? Searogan apa? Segila apa? Sewaras apa? Siapa Bronco Henry ‘junjungan’ yang sering ia sebut-sebut itu? Dan kenapa ia bisa dekat dengan Peter? Apa yang ia inginkan dari remaja yang tampak lugu itu? 

Film ini hadir dengan twist pada ujung cerita. 

Ini adalah sastra di atas seluloid. Kritik memberinya nilai 90, tapi penonton hanya memberi angka tak lebih dari 70, lebih rendah dari film-film superhero Marvel yang sangat menghibur tanpa peduli seburuk apa naskah atau aktingnya. 

Begitulah nasib film ‘sastra’, film serius yang digarap dengan biaya lebih rendah dengan hasil maksimal. Film berkelas yang sialnya tak disukai semua orang. 

Benedict Cumberbatch bermain sangat bagus sebagai Phil Burbank. Ia berhasil menampilkan kompleksitas sebuah karakter: seorang koboi macho, kadang ia kejam, kadang ia lemah, kadang ia berbahaya, kadang ia jinak. Dan ia meyembunyikan sesuatu. Banyak kritik yang menduga kalau aktor asal Inggris itu bisa memenangkan piala Oscar tahun depan. 

Kirsten Dunst bermain natural sebagai single mother, janda yang dijatuhcintai lelaki kaya, ibu yang kawatir pada anak kesayangan satu-satunya. Dan ia juga menyembunyikan kelemahannya. Kodi Smith-McPhee pun berakting pas sebagai si Peter yang selintas pemalu dan penakut itu. 

Jane Campion, pemenang Oscar 1994 untuk kategori naskah terbaik, lewat The Pianomengadaptasi sendiri naskahnya dari novel karya Thomas Savage di tahun 1967. Konon, novel ini merupakan salah satu pengalaman pribadi Savage, dan bagi orang yang mengenal sang penulis, banyak yang tak bisa membedakan mana fiksi dan mana yang bukan dalam kisah The Power of the Dog ini. 

Film ini juga menjadi kembalinya Campion sebagai sutradara layar lebar vakum selama 12 tahun. Ia adalah perempuan pertama yang permah mendapat Oscar sebagai penulis naskah terbaik lewat film yang ia sutradarai di tahun 1994, The Piano. 

The Power of the Dog, disebut-sebut punya kans memenangkan Campion sebagai sutradara terbaik Oscar tahun depan. Harus diakui Campion memang mengerjakan tugasnya dengan baik di film ini. Bukan hanya mengarahkan para pemainnya dengan luar biasa, namun ia juga sukses bisa merekrut tim yang tak kalah bagusnya.

Lihatlah bagaimana gambar-gambar yang diambil director of photography Ari Wegner tampil indah, puitis, bahkan kadang bercerita tanpa adegan penting tampil bertenaga. Juga bagaimana music score yang dikomposisi Johhny Greenwood bermain penuh rasa dan membuat film ini makin menggigit. 

Akhir kata, The Power of the Dog hadir sebagai salah satu film terbaik tahun ini. Sebuah film layak, bahkan wajib tonton bagi penyuka film berkelas. 

Rating: A-

Genre: Western, Drama

Sutradara: Jane Campion

Pemain: Benedict Cumberbatch, Kirsten Dunst, Jesse Plemons, Kodi Smith-McPhee 

Produksi: BBC Films, New Zealand

Tayang di: Netflix 

About Ayu Sulistyowati

Mantan Senior Editor di Catchplay, Penulis Lepas Rumah Beruang Production, Penulis Naskah Lepas di Paso Film Centre, Editor Majalah Prodo, Editor In Chief kemana.com, Sekretaris di Bloomberg, Reporter di cewekbanget.id (1995-1997)