Seide.id– Dunsanak, berapa lamakah, karya-karya anda masih diingat orang, tahun-tahun ke-depan? 20?, 30?, 50 tahun?
Victor Hugo, kemarin berulang tahun. Jika masih hidup, umurnya 221 tahun. Karya-karyanya yang sudah menjadi klasik (jika musik, menurut kritikus -jika menurutku sih ini ‘secara matematis’- karya musik yang sudah berusia 50 tahun tapi masih didengarkan orang, layak disebut klasik) dan mendunia, masih terus dibaca bahkan menjadi inspirasi terus menerus untuk dibuat film.
Victor Hugo, boleh dibilang adalah icon sastra modern Prancis. Minatnya merambah dan melebar, sekitar dunia literasi. Dia juga menulis puisi, naskah drama, teater, pejuang kesetaraan, pejuang kemanusiaan dan politisi yang sangat disegani. Dalam dunia sastra Peancis, dia dijuluki ‘novelis romantis’. Tapi menurutku tepatnya: ‘romantis tapi tragis’ atau (karena kisah-kisah dan cara berceritanya) ‘tragis tapi tetap romantis’.
Novel-novelnya, banyak sekali, selama sekitar 50-60 tahun karirnya. Tapi kita di sini (paling tidak aku) sedikit sekali mengetahui karya-karyanya.
Sekolah SMP-ku dulu, punya tradisi yang sangat elok untuk dunia literasi. Jika jam pelajaran kosong, maka ketua kelas melapor kepada sekolah. Nanti kepala sekolah akan menawarkan kepada kami, apakah mata pelajaran kosong itu (karena gurunya berhalangan) akan digantikan dengan pelajaran lain atau, nha ini:..murid-murid dipersilakan memilih buku di perpustakaan untuk dibaca.
Nah, di perpustakaan itulah aku mengenal novel-novel dari penulis-penulis besar dunia yang sdh diterjemahkan dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Seperti Victor Hugo, Ernest Heningway, Abdoel Moeis, Dowes Decker, Marah Rusli, Ramadhan KH, Nh Dini, Yukio Mishima, Hamka, sampai Alexander Dumas dan majalah Si Kuncung. Tapi tak ada Pramudya Ananta Toer,…hehe, lucu ya?. Dan aku ragu, adakah sekolah-sekolah sekarang merayakan cinta literasi seperti SMP-ku dulu?
Nah, di perpustakaan itulah, aku ‘mengenal’ 2 novel Hugo yang sudah menjadi klasik dan mendunia. Yaitu: “The Hubchback of Notre Dame” dan “Les Miserables”.
Seperti kita tahu, “Hunchback” adalah kisah tentang si bongkok bernama Cuasimodo penjaga Notre Dame yang dianggap orang paling buruk di Paris. Seorang perempuan bernama Esmeralda trenyuh dan kasihan, karena Cuasimodo selalu dihina dan diperlakukan semena-mena. Di balik kisah ‘tragis romantis’ ini, sesungguhnya Hugo ingin mengajak seluruh rakyat Prancis, khususnya Paris untuk membangun kembali infrastruktur kota Paris nan romantis, setelah porak-poranda dihantam revolusi Prancis.
“Les Miserables” sudah beberapa kali dibuat film. Yang agak baru adalah buatan Hollywood, menjadi film musical. “Les Miserables” berfokus kepada 4 orang tokoh utama. Jean Valjean (Hugh Jackman, aktor Australi yg sukses berkarir di Hollywood), Javert (Russel Crowe, aktor Australia atau New Zealand? yg juga sukses di hollywood), Fantine (Anna Hathaway) dan Cosset (Amanda Seyfried).
“Les Miserables” kurang-lebih berarti: kesengsaraan, penderitaan, nestapa, kesedihan, kesusahan, nelangsa, merana, teraniaya, diperlakukan semena-mena, dsbg. Lihatlah, betapa banyaknya kosa-kata kita tentang penderitaan. Sebaliknya, kita memiliki hanya 2-3 saja kata yang artinya kesenangan. Adakah karena manusia memang hidup dalam kesengsaraan?.
Valjean, menjalani ‘hukuman yang terlalu berat’ untuk kesalahan yang ‘terlalu ringan’. Yaitu, dipenjara beberapa tahun untuk mencuri roti, ditambah beberapa tahun untuk mencoba melarikan diri dari penjara (karena merasa diperlakukan tak adil itu). Setelah menjalani hukuman (atau tetap menjadi buronan, karena melarikan diri(?), Valjean mengubah identitas tentang jatidirinya. Lalu, karena kebaikan, pekerja keras dan keberuntungan,…hidupnya sukses.
Fantine, yang jatuh bangun menbiayai hidupnya, bahkan untuk sekadar hidup untuk dirinya sendiri dan anaknya, Cosset, rela melakukan apa saja, bahkan menjadi wanita pemuas dahaga lelaki.
Valjean tak tega melihat Cosset, gadis kecil yang cantik, menderita, bekerja keras, karena dititipkan kepada sebuah keluarga yg kerap bertindak semena-mena. Setelah diangkat anak oleh Valjean, hidup Cosset menjadi lebih baik. Coset tumbuh menjadi gadis cantik.
Tapi, setiap berurusan dengan hukum ketika membela Fantine, Cosset dan keadilan pada umumnya, Valjean selalu terbentur dan menghadapi dilema, apakah dia tetap menggunakan identitas barunya, atau terpaksa membongkar identitas lama, yang asli? Apalagi Javert, inspektur polisi yg sangat terobsesi kepada hukum secara sangat kaku itu, terus mengejarnya…
Oya,…ada bintang film Prancis yang namanya langsung melambung dan terkenal di dunia karena sebuah film yang ‘membawa-bawa’ nama besar Hugo. Film itu berjudul “The Story of Adele H”. Dunsanak pasti menduga, bintang film itu adalah: Sophie Marceau,…bukan! Akrris cantik berwajah eksotis itu bernama: Isabel Adjani (dulu ada plesetan garing kriuk,…Isabel Aja nih,…gak ada sambungannya?).
Film “Story of Adele H” yang berdasarkan buku harian itu, bercerita tentang anak ke-dua Victor Hugo yang bernama Adele. Adele sangat terobsesi kepada seorang tentara. Dalam film yang romantis, artistik dan ‘ngelangut’ itu, baik suasana film yang magis dan wajah dan akting Isabele yang pas, membuat dia diganjar Oscar…
Selamat Ulang Tahun, mbah Hugo. Terimakasih sdh melengkapi kami dengan bacaan ‘tragis nan romantis’ atau ‘romantis tapi tragis”…
(Aries Tanjung)






