Seide.id – Hari-hari ini, di umurku yang tak lagi muda ini, mudah saja menjumpai hal-hal yang membuatku terharu, gembira dan bergairah. Misalnya, kalender bekas yang sisi belakangnya masih putih, kosong, asyik untuk diorat-oret. Atau jika si Adek membelikan kanvas dan akrilik, waaah.., asoy.
Berapa umurku sekarang?
Sebetulnya tak perlu aku rahasiakan sih, cuma supaya lebih dramatis (haha), menurut Ian Anderson, vocalis Jethro Tull: “Too old to rock’n roll, too young to die”. Jika mengaso di sela-sela menggambar atau kehilangan ide (bukan bosan ya, karena masih banyak sekali keasyikan menggambar dan misteri yg menunggu untuk dijelajahi), aku mendengarkan lagu dgn volume lumayan keras atau bengak-bengok menyanyi.
Sebuah laptop peninggalan si Kk dari zaman dia kuliah dulu yang engsel-engselnya sudah aku ikat dengan klem plastik, supaya bisa dibuka-tutup, siap memanjakan telingaku dengan lagu-lagu yang tinggal aku pilih dari youtube. Atau menyanyi-nyanyi dengan fasilitas karaoke seadanya, lalu merekamnya begitu saja dengan hp dengan tampilan ilustrasi lukisanku. Sudah lebih dari cukuplah rasanya ituuu…
Beberapa hari lalu, aku mengira si Adek libur, eh ternyata dia masih mengajar. Ketika aku mengeraskan volume, siap-siap menyanyi, lalu:… “Ayaaah,…berisiiikkk. Adek lagi ngajaaarrr!”.
Maka, pagi tadi ketika dia mengantar ibunya keluar membeli sesuatu.. jreng-jreng-jreeeng.. mulailah aku aku bersiap-siap bengak-bengok.
Lagu yang aku nyanyikan ini adalah salah-satu dari beberapa hits Neil Young. Judulnya: “Old Man”. Tapi, sebelum aku blanyongan tentang lagu ini dan kiprah Neil young di dunia musik, izinkan aku membukanya dengan: salah-sambung yang lucu, di kantorku dulu.
Ilustrasi, Aries Tanjung
Suatu ketika, seseorang menelpon ke-kantor. Di seberang sana entah di mana, rupanya si penelpon ingin berbicara dengan seseorang bernama sama dengan namaku. Dulu itu, telepon selular mungkin sudah ada, tapi baru, karena itu baru sedikiiiit sekali yang menggunakan.
Telepon dari luar, biasanya ke resepsionis terlebih dulu, nanti baru disalurkan ke-karyawan yang dimaksud. Nah si penelepon rupanya ingin berbicara dengan karyawan (yang kebetulan) bernama sama denganku, tapi di unit majalah lain.
Terjadilah dialog seperti ini. “Halooo,…ini Aries Muda?” (Aku langsung tahu, siapa yang dimaksud, karena aku kebetulan memang kenal dengan orang itu)
“Bukan…ini…(sambil tertawa aku bilang) ini…Aries tua”
“Ee,…siapaaa?
“Aries tuwaaa…!”
“Ooh,…ee,…ma’af mas,…ee saya mau bicara dengan…”
“Ya, ya,…saya tahu kamu mau bicara dengan siapa. Saya sambungkan yaa”
“Oh,…ya, ya,…terimakasih mas!”
Yah, meski aku waktu itu belum tua-tua-amat… tapi pasti lebih tualah daripada Aries Muda.
Lumayan banyak lagu Neil Young yqng menjadi hits di Indonesia pada era ’70-90an.
Ma’af jika aku agak sulit atau tak cukup bisa membedakan antara lagu Neil Young ketika dia masih bersolo karier atau ketika dia bersama teman-temannya, baik di Bufalo Springfield atau di CSNY (David Crosby, Stephen Stills, Graham Nash dan Neil Young). Demikian juga urutan tahunnya. “Heart of Gold”, “Harvest”, “After the Gold rush”, “Old Man”, “Helpless”, “Our House”, “Teach your children”, dll.
Dari sosok, wajah, penampilan dan syair-syair lagunya, dulu aku mengira, Neil Young itu orang Indian. Ternyata aku salah, Neil ternyata musisi Kanada. Sesungguhnya tak terlalu salah juga sih. Karena Kanada yg sepi, karena populasinya sedikit banget, berhutan, berbukit-bukit dan luas itu identik dengan Indian. Hlo?!…
Ketika masih bersolo karier, Neil Young berkesempatan manggung di sebuah acara amal. Pada acara itu ada musisi lain bernama Stephen Stills juga manggung bersama bandnya (kelak mengajaknya bergabung di CSNY). Stills tertarik kepada penampilan, gaya menyanyi dan syair-syair lagu Neil Young yang menurutnya: “Sangat berfihak kepada lingkungan, kemanusiaan dan bumi”.
Mereka berkenalan. Lalu, akrab berteman. Neil Young dan Stephen Stills, lalu membuat band bernama: Bufalo Springfield. Membuat album. Dan,…menjadi hit!
Para kritikus memuji. Neil Young dan Stephen Stills, telah ‘mengangkat derajat’ musik yang tadinya ‘hanya’ sekadar musik country (tentu tak ada salahnya dengan itu) menjadi: “Folk rock progresif dengan sound lebih bertenaga dan syair yang lebih tajam dan menggugat!”
Setelah Bufalo Springfield membuat beberapa album dan fakum, lalu Stephen Stills, mengajak Neil Young bergabung dengan David Crosby dan Graham Nash. Menjadi CSNY, singkatan dari nama-nama mereka.
Lalu, CSNY, tak terbendung lagi menjadi pencetak banyak hits. Teman-temannya kerap bergurau: “Neil itu penyanyi country dan balada. Tapi jika ingin nge-rock, dia bergabung dengan CSN, menjadi CSNY..haha”.
Menurutku, harmoni dan pembagian suara dari 4 orang itu ketika menyanyi, bahkan seandainya tak diiringi musik sekali pun, rasanya keindahan dan harmonisasinya belum tertandingi hingga hari ini….
Lagu “Old Man” bercerita tentang seseorang bernama Broken Arrow, yang akan bertransaksi tentang tanah peternakannya yang luas. Kala itu, lagu ini menjadi hit, menduduki anak tangga ke-4 di Kanada. Menjadi salah-satu dari 100 lagu terbaik dunia. 2 musisi ternama lain yg membantu mengisi musik untuk lagu ini adalah: James Taylor yang bermain banjo dan Linda Ronstadt menjadi backing vocalist.
Nah dunsanak, selamat bengak-bengok menyanyi, supaya paru-paru kuat. Tetap berkeringat, tetap semangat.
(Aries Tanjung)






