Seide.id – Sejak lama, lebih 15 tahun lalu, saya diundang untuk pembekalan para purna karya, pensiunan perusahaan, ASN, selain pemuka agama.
Pendeta dari seluruh pelosok Tanah Air yang menjelang emiritus, dikumpulkan untuk menerima pembekalan bagaimana masih mungkin mengulur potensi hidup sehatnya. Saya memberikannya dalam bentuk seminar, sebagaimana lazim saya sampaikan untuk masyarakat kebanyakan, lebih 20 tahun lalu, yaitu Sehat Itu Murah.
Desember 2022 lalu saya diundang ke Bali, tepatnya Desa Wisata Blimbingsari, ujung barat Bali, di sebuah gereja indah, yang juga dijadikan destinasi wisata, di situ saya menyampaikan seminar pembekalan hidup sehat kepada puluhan Pendeta GPIB yang mau emiritus datang dari beberapa kota.
Menarik, kalau nyatanya tidak sepenuhnya dari peserta Pendeta, sudah memahami bagaimana hidup sehat semestinya dilakukan. Itu saya tangkap dari beberapa pertanyaan yang muncul ketika seminar.
Pembekalan hidup sehat perlu, karena dengan menguasai bagaimaa hidup sehat dilakukan, menentukan tingkat kebahagiaan sepanjang selama selebihnya umur.
Bahwa sehat itu nomor satu, karena tanpa kesehatan semua yang kita miliki, dan kita sukai, dan kita harapkan, menjadi kehilangan makna. Sekadar sakit gigi saja pun sudah mengganggu hari bahagia kita karena kita berada dalam kondisi tidak nyaman fisik. Apalagi kalau harus menanggung penyakit yang lebih berat, lebih komplikasi, lebih kritis. Sudah akibat kita abai, atau ketidakthuan bagaimana hidup sehat dirawat.
Bahwa sesungguhnya setiap penyakit masih mungkin kita cegah kalau masyarakat diberi tahu caranya. Seminar saya “selama lebih 20 tahun, “Sehat Itu Murah” memberi tahu akan hal itu. Termasuk bagaimana meredam penyakit yang sudah terlanjur kita idap. Itu menjadi berarti masih mungkin hidup berdamai dengan penyakit. Berarti masih bisa tetap sehat. Berarti masih ada harapan mengulur umur lebih panjang. Bahasa statistik kedokteran bicara soal bagaimana umur masih memungkinkan untuk diulur.
Buat dunia medik, selalu ada harapan untuk mengulur umur lebih panjang. Umur harapan hidup (life expectancy) setiap negara semakin tahun semakin bertambah. Itu berarti potensi biologis tubuh manusia, masih bisa terus ditingkatkan, dengan ilmu serta teknologi medis yang kian berkembang, sehingga angka mati muda semakin berkurang.
Kehadiran stem-cell, sel punca, misalnya, menjanjikan ada jaminan manusia bisa mengganti spare part organ tubuhnya yang rusak, yang tadinya sudah tidak ada harapan masih bisa berfungsi dan orang kehilangan nyawa. Kini harapan itu tersedia. Yang dulu kasus penyakit harus kehilangan nyawa, sekarang dengan temuan teknologi medis baru, dimungkinkan nyawa untuk masih bisa diselamatkan. Di mata dunia medik, nasib kesehatan manusia itu ditentukan oleh seberapa optimal orang ikhtiarkan sebelum keputusan maut dan ajal itu tiba.
Salam tetap sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL





