Anies Akui Ada Politik Identitas Saat Melawan Ahok di Pilkada 2017

Seide.idAnies Baswedan mengakui adanya peranan politik identitas saat melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di pilkada DKI-Jakarta 2017. Usai pilkada Anies pun menggantikan Ahok sebagai Gubernur dan kini bersiap untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Ucapan Anies Baswedan tentang politik indentitas yang berkaitan dengan pilkada dan pemilu ini, mengundang kritik.
Pasalnya, memainkan suku, ras, agama, dan identitas lainnya pada pemilihan, bukan untuk dimaklumi karena hal ini memecah belah bangsa.

“Artinya Anies tak segan memainkan “politik ayat dan mayat untuk berkuasa,” ujar Akmad Sahal, Pengurus cabang istimewa NU Amerika Serikat.

“Ia pake politisasi agama utk bisa menang pilpres. Meski akibatnya NKRI terbelah terpecah, dia ga peduli. Anies mencitrakan diri sbg toleran pluralis. Pdhl sejatinya dia perobek tenun kebangsaan,” kata Sahal di akun Twitternya, Sabtu (18/3/2023).

Ferdinand Hutahaean mempertanyakan kenapa Anies masih dibiarkan.

“Inilah sesungguhnya yang Merusak prinsip Demokrasi. Kenapa orang ini tidak ditangkap saja?,”ujar Ferdinand dalam keterangannya (18/3).

Sedang Politikus PDIP, Ruhut Sitompul, mengungkap politik identitas Anies dengan memposting tangkapan layar, di akun Twitternya.

“Makin terang benderang isi perutnya, nggak bisa dibohongin kadrun pe’ak sich sudah dari sono no leluhurnya di yamen MERDEKA,” ujar Ruhut seperti dikutip, Rabu (22/3)

Politik Identitas

Sebelumnya, dalam kunjungannya ke Surabaya, Anies tidak hanya meminta agar simpatisannya mengawal kelancaran agendanya mulai dari persiapannya hingga pelaksanaan pemilu 2024. Tapi ia juga berbicara tentang politik identitas saat acara di Shangri-La hotel, (17/3).

Menurut Anies, politik identitas tak bisa dihindari karena setiap calon yang bersaing punya identitas.

“Politik identitas itu adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Misalnya calon yang bersaing adalah laki-laki dan perempuan, maka di situ ada identitas gender,” kata Anies.

Anies lantas mengungkap tentang Pilkada DKI 2017 ketika yang bersaing paslon yang berbeda agama. Saat itu, Anies berpasangan dengan Sandiaga Uno melawan Basuki Tjahaja Purnama dengan pasangannya, Djarot Saiful Hidayat.

“Yang terjadi pada 2017, calon yang bersaing agamanya berbeda. Maka identitasnya yang terlihat adalah agama. Itu akan terus terjadi selama calonnya punya identitas berbeda, baik gender, suku, maupun agama,” ujar Anies.

Oleh sebab itu, kata Anies, penting bagi tiap calon yang bersaing dalam pemilu untuk memiliki kedewasaan setelah pemilu selesai.

“Yang menang mau merangkul yang kalah. Sedangkan yang kalah juga harus mau mengakui kekalahannya,” ujarnya.

Ucapan Anies yang tidak menolak penggunaan politik indentitas yang menyebabkan perpecahan, tapi menyiratkan mentolerir penggunaannya dalam pemilihan, hingga kini jadi pembicaraan.
(ricke senduk)

Ahok: kalau mau jadi pejabat

Ahok BTP, Penghargaan Atas Kejujuran, Anti Korupsi dan Ketegasan

Avatar photo

About Ricke Senduk

Jurnalis, Penulis, tinggal di Jakarta Selatan