Seide.id -Berani berubah itu hebat, tapi berani menerima kenyataan pahit itu anugerah Allah yang harus disyukuri.
Sepahit-pahitnya kenyataan hidup, hal itu semestinya diterima dengan kebesaran jiwa. Tidak harus ditolak, diingkari, atau diperdebatkan, tapi wajib disyukuri agar hidup ini tanpa beban, dan ikhlas.
Sesungguhnya, hati orangtua mana yang sanggup menerima kenyataan itu, ketika anak gadisnya minta izin menikah, tapi sebagai istri kedua!
Jelas, kabar itu bagai petir di siang bolong. Orangtua mana yang tidak terpukul? Hal itu aib bagi keluarga, dan harus dicari solusinya.
Saya amati wajah putriku dengan seksama. Salah bicara, ngeracau, atau kami yang salah mendengar? Saya genggam erat tangan istriku yang gemetaran, supaya tenang.
“Kau serius, Nduk? Kami tidak salah dengar? Selama ini kau tidak cerita teman laki-lakimu. Apa kau ha…?!”
“Tidak, Pak…,” suara putriku lirih bergetar menahan isak.
“Nduk, Bapak Ibu jelas sangat sedih dan kecewa, jika keinginanmu seperti itu. Kau ikut suatu organisasi lalu kau mau menjadi istri kedua? Bagaimana pandangan orang lain pada keluarga? Coba kau pikir seksama. Apakah kau bahagia di atas penderitaan orang lain? Ya, sebelum semua itu terlambat…”
Selalu membiasakan diri bersikap tenang dan tidak emosional. Hal itu saya lakukan agar mampu berpikir dengan jernih.
Saya diamkan putriku menahan isak. Saya bangkit, lalu memeluknya agar ia puas melepas beban di hatinya.
Sesungguhnya hati saya teramat lega mendengar kepastian, bahwa putriku tidak hamil duluan. Tapi, kenapa ia meminta izin menikah, meski sebagai istri kedua? Kenapa tidak calonnya itu yang datang untuk ‘nembung’, melamar langsung…?
“Nduk, jika calonmu itu mempunyai etiket baik, seharusnya ia datang ke rumah. Kenalan dengan kami. Lebih baik kau terbuka dan terus terang pada kami agar kami dapat membantumu…,” kata saya lembut.
Pikiran saya didera oleh penasaran dan sekaligus rasa penyesalan. Penasaran, karena saya ingin tahu jatidiri laki-laki yang mempengaruhi putriku. Penyesalan, karena kami sebagai orangtua kurang jeli dan peduli, sehingga tidak melihat perubahan perilaku aneh anak sendiri.
Padahal, kami selalu mengajari dan membiasakan anak untuk berani jujur dan terbuka pada keluarga. Untuk berdiskusi atau bertukar pikiran. Karena bekerja, putriku lalu kos di dekat kantor, dan berubah? Pulang seminggu sekali setiap Jumat, dan selama ini belum sekalipun ia membawa teman laki-lakinya ke rumah. Lalu?
Pikiran saya makin tidak keruan, karena ingat suatu organisasi yang mampu mencuci otak pengikutnya. Saya juga jadi ingat cerita banyak orang. Ada gadis yang senang pacaran dengan laki-laki yang lebih tua, kebapakan, melindungi, mapan, dan seterusnya. Mungkinkah putriku pacaran secara sembunyi…?
Pikiran jahat itu segera kuhalau jauh.
“Nduk, cinta itu tidak harus bersatu. Ingatlah, ia mempunyai keluarga. Apakah kau tega menyakiti hati wanita itu dan anak-anaknya. Bapak percaya padamu, Nduk, kau dapat memikirkan dan memutuskan yang baik. Jangan hanya menuruti perasaan, tapi bawalah dalam doa penyerahanmu pada Yang Kuasa.”
“Nduk, Ibu senang jika kau mau terbuka pada Ibu,” tandas istriku membesarkan hati.
Kami bertiga beradu pandang dalam diam.
Selang beberapa hari, putriku pindah pekerjaan dan tidak kos lagi. Saya tidak menanyakan alasannya.
Tapi saya berpikir positif, bahwa putriku ingin menjauhi lelaki itu. Karena wajahnya senantiasa cerah sumringah.
Selalu bertekun dalam doa, karena hanya Allah yang mampu mengubah hati kita…
Mas Redjo /Red -Joss






