Blues

Seorang musisi kulit hitam pernah membuat ungkapan dramatis untuk musisi kulit putih: “You can play Jazz, Rock, or Pop. But you can’t play the Blues. Never!”


Blues, kerap disebut sebagai bapak musik Rock, Jazz dan Pop. Tapi aku lebih sreg menyebut: ibu.

Yak,…tentu saja orang kulit putih tak bisa memainkan, tepatnya ‘merasakan’ atau memainkan musik itu ‘dengan perasaan’.

Karena, bagaimana mungkin orang kulit putih bisa merasakan feel-nya?

Musik blues lahir dari ratapan penderitaan orang-orang kulit hitam. Nenek moyang mereka berasal dari Afrika. Kemudian dibawa ke Amerika untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan kapas di Texas dan di sekitar sungai Mississipi.

Tatkala beristirahat, mereka ‘menghibur diri dengan meratap’. Mereka seperti melantunkan penderitaan mereka dalam irama yang ngelangut dan sendu. Sebagai ‘patokan ketukan’, bahkan konon mereka memukul-mukul logam dan rantai yang mengkerangkeng kaki-kaki mereka supaya tak minggat.

Uthak-athik-gathuk ngawurku begini: Blues yang lahir di Mississipi, adalah lelaki. Sedangkan Jazz yg lahir di New Orleans adalah perempuan. Kemudian mereka bertemu, pacaran dan menikah. Lalu lahirlah anak-anak mereka yaitu: Rock, Rock’n Roll, Art Rock, SweetRock, Hard Rock, Regtime, Metal, R&B, Fusion, Trash, Ska, Pop, dll.

Ada yg membandingkannya dengan saluang, seni tradisi di ranah Minang. Sebetulnya, kurang tepat. Di ranah Minang, seni saluang berisi kisah, hikayat, sejarah dan semacam kata-kata bijak atau nasehat. Sementara blues ‘cuma’ berisi ratapan-ratapan yang disenandungkan dengan sendu, seperti berulang-ulang,

Sesungguhnya blues, seperti ‘tak membutuhkan’ bebunyian atau musik sebagai pengiring atau latar belakang, karena blues adalah musik itu sendiri.

Blues adalah penderitaan yang disenandungkan dalam ratapan.

Alunan ratapan blues, pada perkembangannya sepertinya sangat terasa dan ‘terwakili’ dalam ‘jeritan’ suara harmonika.

Lalu, pada perkembangannya, suara ratapan itu berkembang. Tak hanya harmonika, tapi juga jeritan merintih-rintih pada saxophone. Di era yang lebih modern, berkembang pada sayatan melodi gitar elektrik (di antaranya yang terkenal: John Lee Hooker, Muudy Waters, dll). Lalu di era lebih modern dan lebih progresif, seperti BB King dan Jimmy Hendrix.

Di era ’60an sampai awal ’70an ketika dunia dilanda sesuatu yang serba progresif di hampir segala bidang, blues di Amerika seperti memasuki fase jenuh. Orang-orang di deluruh dunia seperti sedang tergila-gila pada Rock’n Roll.

Meski sudah ‘diperingatkan’ oleh musisi kulit hitam bahwa musisi kulit putih tak akan pernah bisa memainkan blues, karena tak mungkin merasakan ‘feel’-nya, tapi musisi kulit putih tetap ‘bandel’ untuk mencoba.

Lalu, dalam fase kekosongan itu, musisi Inggris datang untuk mengisi.

Mulai dari John Mayal, Edgar & Johny Winter, Eric Clapton, Cuby & Blizard, Steve Ray Vaughn, Led Zeppelin, Rolling Stone, Jan Ackerman sampai Rod Stewart.

Lalu,…hampir semua band Rock pada era ’70an selalu ‘menyisipkan’ blues pada setiap albumnya…

(Aries Tanjung)

Bob, Seniman Tiga Zaman