KOREKSI : Ada kesalahan yang mengganggu pada kisah berseri Cintaku Mentok di Kebon Jagung. Nomor 1,2 langsung melompat kisah ke 4. Mohon maaf kepada penulisnya. Berikut adalah kisah seri ke-3. Mohon Maaf kepada penulisnya. REDAKSI
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
APA Resti, subject-matter puisi, sama punya rasa bahwa perjumpaan ini adalah “…sajak yang hinggap atas janjiNya, atau hanya sampir yang mampir atas rindu pada yang jauh di seberang laut?” Saya tak tahu. Tapi ‘lampu hijau’ lagi-lagi saya jumpai berkerejap di binar matanya, saat malamnya kami berhimpun di lingkar api unggun Jamboree Remaja Yudha Club 1979 di Biringkanaya, Ujung Pandang
Remaja Yudha Club (RYC) adalah organisasi kepemudaan non-politik dibawah koran Berita Yudha yang berkantor di Gedung AKA, Jalan Bangka II, Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Jamboree merupakan acara tahunan RYC Pusat. Saya ikut serta sebagai Ketua RYC Cabang Jakarta merangkap Ketua/Pendiri Youth Science Club – RYC Pusat.
Jamboree tak cuma dihadiri anggota yang mewakili cabang RYC se-Indonesia, tapi juga klub-klub pencinta alam simpatisan. Resti misalnya, adalah peserta simpatisan dari klub Pencinta Alam Aditya ASMI Jakarta. Kami sama bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok dengan Kapal Nuburi milik PELNI, bersama peserta wakil RYC Cabang Bandung, Purwokerto, Semarang, Surabaya dan Bengkulu.
Dua hari dua malam sebagai penumpang Kelas Deck, mabuk laut digoyang ombak, pagi tanggal 26 Desember kami tiba di Pelabuhan Soekarno-Hatta Ujung Pandang. Dengan truk Kopassandha (kini Kopassus) Grup IV yang saat itu bermarkas di Ujung Pandang, kami ‘tembak langsung’ menuju lokasi Jamboree. Di lokasi, menjelang sore, saya ‘temukan’ Resti di antara bebatang jagung dengan mata sembab.
Rupanya, dia ditinggal (atau tertinggal) teman-temannya satu geng, yang sedang sowan ke rumah seorang kerabat di Kota Ujung Pandang. Sepi sendiri di tenda kelompoknya, dan langkahnya sampai ke dekat saya yang sedang membangun tenda pribadi di ‘pasak hati Negeri Badik”. Seperti kata Chairil Anwar, tak perlu sedu sedan itu. Ayo kemari, Dik. Bantu saya membangun tenda…
Tak lama kami ngobrol di bawah langit terbuka, sebelum kemudian dia pamit buat beberes di tenda kelompoknya, sambil berpesan agar saya berkenan ikut menjaganya hingga teman-temannya kembali. Ya, ya…tentu saja. Tiap pencinta alam harus saling menjaga satu sama lain. Itu kredo Baden Powell, Bapak Pandu se-Dunia. Dan lahirlah Sajak Cinta Tutup Tahun (bersambung)






