“Cintaku Mentok di Kebun Jagung (4)

Di pucuk Pulau/Gunung/Danau Satonda di utara Pulau Sumbawa, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.Foto-foto Dokumentasi Restiawati Niskala.


Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

MALAMNYA, di antara hangat api unggun, Almarhum Soenardi DM, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Berita Yudha sekaligus Sekjen PWI Pusat, meresmikan Jamboree RYC 1979.

Selain peserta, di arena hadir para pimpinan daerah dan petinggi militer serta para seniman Ujung Pandang yang antara lain Aspar Paturusi – penyair/dramawan yang 1971 tampil di film Sanrego karya almarhum Arifin C Noer

Djamal, dramawan/penyair asal Ujung Pandang, mendapuk saya baca puisi. Saya maju ke depan untuk baca Sajak Cinta Tutup Tahun yang saya ungkap buat Resti. Mendengar pengakuan itu, di tengah sorak hadirin, Djadjo Dondi Raharjo dari Pencinta Alam Garata Jakarta dan kini anggota kehormatan (MK-1000-UI) Mapala UI, membimbing Resti ke samping saya untuk menemani baca puisi

Sepenuh hati saya baca itu puisi. Sepenuh hati, usai membaca, saya ucapkan terima kasih pada Resti, dan sepenuh hati…di antara kilau cahaya unggun dan sorot ratusan pasang mata…saya rengkuh, saya cium…pipi Resti sebelah kiri.

Hadirin bertepuk tangan, riuh. Saat itu terdengar (entah siapa yang nyeletuk) kalimat Cintaku Mentok Di Kebun Jagungsebagai pengganti tajuk itu puisi, ha…ha…ha…!

Buku Kisah-Kisah Hidupku. Ditulis di mas pandemi

Puisi sudah saya baca. Fakta rasa hati sudah saya ungkap, bahkan pipi kiri Resti sudah saya cium secara terbuka. Sebagai laki-laki, saya harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah saya perbuat. Maka di atas “Geladak Ilolutta” (ini tajuk puisi saya berikutnya) yang berlayar dari Ujung Pandang menuju Tanjung Priok, sebelum badai menerjang di Perairan Masalembo, terus terang saya ungkap kepada Resti:

“Mau jadi istri saya?” Resti tidak menjawab. Tapi di balik binar matanya, lagi-lagi saya menangkap ‘lampu hijau’, sebentuk harapan bagi saya untuk merebut hatinya.

Sejujurnya, banyak teman seperjalanan yang tak setuju. Apalagi mengingat saya yang masih lebih dekat sebagai anak jalanan yang madesu (masa depannya suram), ketimbang jurnalis di majalah Sonata pimpinan Kadjat Adra’i.

Hidup, rezeki dan jodoh itu hak prerogative Allah SWT. Tapi manusia wajib berusaha meraihnya sebaik mungkin. Demikian pula saya, berkeras sekuat tenaga memenangkan hati Resti. Alhamdulillah, awal Januari 1980 Sajak Cinta Tutup Tahun dimuat Majalah gadis, dan pada 18 April 1982 terbit sebagai pengantar pada lembar kartu undangan pernikahan kami. Cintaku mentok di kebun jagung.

Subhanallah…! ***

18/04/2022 PK 00:49 WIB.

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.