DINIHARI, MAS TEGUH MINTA PULANG

Herman Widjaja

Seide – Sebagai orang pinggiran yang tidak memahami seluk-beluk dunia persilatan, mengenal soaok hebat seperti Teguh Esha adalah sebuah kesempatan luar biasa. Mimpi pun tidak pernah sebelumnya. 

Seperti masyarakat pada umumnya, nama Teguh Esha saya kenal karena membaca novelnya, “Ali Topan Anak Jalanan”. Novel itu saya baca ketika di SMA. Karakter Ali Topan yang bengal, bebas dan berani, betul-betul mengesankan. Apalagi dalam cerita, disinggung juga tentang Belanda Depok yang dekil dan panuan. Makdikipe! 

Setelah saya bekerja di media masa, tahun 80-an, nama Teguh Esha kembali mencuat setelah ia berurusan dengan aparat, karena praktek keagamaan yang dijalaninya dinilai menyimpang. 

Tahun 1997 seorang teman yang menjadi produser sinetron memperkenalkan saya dengan sang novelis hebat itu. Ketika itu saya diminta ikut membantu menulis. Walau pun baru pertama bertemu, kami langsung akrab. Teguh Esha tidak mengesankan dirinya sebagai tokoh yang dikenal secara nasional. 

Suatu malam Teguh Esha ikut ke rumah saya di Depok, untuk mendiskusikan naskah sinetron “Ali Topan Anak Jalanan”. Waktu itu saya masih bujangan, tinggal sendiri.di rumah. 

Teguh Esha sempat melihat-lihat bagian belakang rumah saya yang berhadapan langsung dengan Cagar Alam Pancoran Mas, hanya dibatasi oleh pagar tembok setinggi 1,5 meter. Ada pohon bambu yang rimbun, beberapa pohon besar dan semak-semak. 

“Wah rumah lu asyik banget nih! Gua betah di sini,” katanya. Komentar biasa orang yang kelamaan main di kota. 

Usai melihat-lihat sekeliling, kami ngobrol di ruang tamu. Dia minta kopi dan merokok. Sampai pukul 24.00 malam dia makin asyik ngobrol. Bila saya singgung tentang naskah yang akan kami bahas, dia dengan enteng menjawab, “Gampang, nanti aja…!”. 

Jarum jam terus bergerak. Saya semakin resah. Kira-kira pukul 02.00 dinihari dia mengatakan ingin pulang ke Jakarta. Saya kaget setengah mati. Yang pertama adalah soal rencana membahas naskah sinetron Ali Topan Anak Jalanan, yang kedua sudah jam segitu, mau naik apa? 

“Lu tulis aja dah, gw percaya lu bisa. Sekarang anterin gua cari taksi!” katanya, enteng. 

Dinihari itu saya mengantarnya ke jalan raya yang berjarak kira-kira setengah kilometer dari rumah saya. Beruntung dinihari itu sudah ada taksi yang ke luar untuk mencari penumpang menuju bandara. 

Selama pembuatan sinetron Ali Topan saya dan beliau sempat beberapa kali ketemu. Tetapi sejak kerusuhan 1998 sampai saya bekerja di media lagi, tidak pernah ketemu. 

Tahun 2007 ketika saya sedang makan ayam bakar Gantari di Bulungan, secara tidak sengaja, bertemu beliau. Kami langsung nyambung lagi. Dia banyak bercerita tentang gagasan yang akan dibuat ke depan. Setelah itu kami tidak pernah bertemu. 

Ketika sutradara John de Rantau mengadakan selamatan pembuatan film Ali Topan Anak Jalanan di Warung Presiden / Apresiasi (Wapres), sekitar tiga tahun lalu, kami bertemu lagi. Seperti biasa, kami langsung akrab. Selesai acara, dia meminta saya untuk mengumpulkan kliping media yang menulis acara tersebut. Dia minta kliping itu diantarkan ke Blok M beberapa hari setelah itu. 

Saya mengantarkan bundel kliping itu ke Blok M pada hari yang dijanjikan. Tetapi kami tidak bertemu, teleponnya juga tidak bisa dihubungi. 

Sejak itu kami tidak pernah ketemu. Teman yang sering ke Bulungan mengatakan Teguh Esha sudah jarang datang ke Bulungan. Dia mulai sakit-sakitan. Hari ini saya mendapat kabar beliau telah dipanggil oleh Sang Khalik. Selamat jalan Mas Teguh. Namamu akan tetap ada di hati.

Avatar photo

About Herman Wijaya

Wartawan, Penulis, Fotografer, Videografer