Flora Indonesia: Bunga Bangkai (2), SINDIRAN PRESIDEN JOKO WIDODO

Presiden Jokowi dan Umbi Parang. Tumbuhan elephant foot yam atau stinky lily, ini memang menyimpan ‘kisah hitam’ dalam ingatan banyak orang Indonesia, bukan cuma karena bunganya yang bau busuk seperti bangkai tikus. Tapi juga sejarahnya di masa lalu.

BUNGA bangkai jenis porang (Amorphophallus paeoniifolius) yang tanggal 24 November 2021 mekar di pekarangan belakang rumah kakak kami di Kota Bogor, serentak mengingatkan saya pada kunker (kunjungan kerja) Mas Jokowi, Presiden Kita, ke Jawa Timur beberapa waktu silam, yang diberitakan secara luas di berbagai media massa, dalam dan luar negeri.

Satu kunker Mas Jokowi yang viral dan jadi trending topic, bahkan di medsos serta obrolan warung kopi kakilima, adalah saat Presiden mampir ke gudang pengepul umbi porang di Madiun, 19 Agustus 2021. Bagi saya, kunker ini bukan cuma mengejutkan, tapi sekaligus juga menjadi semacam sindiran Presiden kepada kita yang selama ini menyia-nyiakan keberlimpahan porang di tanah Indonesia.

Umbi porang bukan hal baru bagi masyarakat pedesaan di Indonesia. Porang adalah jenis tumbuhan Amorphophallus (bunga bangkai) dari 23 jenis yang tumbuh di Indonesia, dan dari sekitar 170 jenis yang tumbuh di dunia. Porang juga dikenal dengan nama suweg, dan sering dicampurbaurkan dengan iles-iles/badur (Amorphophallus muelenri) karena keduanya menghasilkan umbi batang yang dapat dimakan dan kemiripan morfologi daun pada fase vegetatifnya.

Tanaman asli Asia Tenggara yang ruah tumbuh di persada Indonesia, dan dicatat Sir Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jawa 1811 – 1815, dan penuls buku Stories of Java terbitan London 1817) sebagai tumbuhan elephant foot yam atau stinky lily, ini memang menyimpan ‘kisah hitam’ dalam ingatan banyak orang Indonesia, bukan cuma karena bunganya yang bau busuk seperti bangkai tikus.

Bunga majemuk tunggal tumbuhan porang, menghasilkan biji-biji buah pelanjut generasi. foto Heryus Saputro

“Tentara Jepang yang fasis itu, yang 3,5 tahun menduduki secara tidak sah tanah Indonesia, tak kalah jahatnya dengan Tentara VOC dan NICA Belanda yang 3,5 abad menjajah kita,” kata almarhum Pak Samhudi, bapak saya. Satu kejahatan tentara Jepang antara tahun 1942 – 1945 adalah memaksa masyarakat (dengan todongan senapan) untuk mencari dan mengumpulkan umbi porang (suweg) dan iles-iles yang tumbuh di pinggir kebun atau serasah hutan.

Masih kata almarhum bapak saya, umbi porang diangkut ke markas Kempetai di Gedong Lada (kini Museum Bahari Indonesia) di Pasar Ikan Jakarta, dikapalkan untuk stok bahan makanan tantara Jepang. Bapak saya benar, Sebab di lembar sejarah yang saya baca, Jepang di Perang Dunia ke-2 antara lain memang membekali tentaranya dengan bahan pangan berupa ragam umbi bunga bangkai, yang beberapa jenisnya tumbuh di Jepang dan dikenal sebagai Konjac, bahan tepung Konyaku yang populer se-dunia itu.

Tak kenal maka tak sayang. Begitu juga rasanya orang Indonesia selama ini abai ihwal kehadiran umbi porang dan sejenisnya, yang melimpah ruah di Indonesia, tapi lebih dipandang sebagai racun busuk bau tikus, sampai kemudian Mas Jokowi seperti sengaja membuka mata kita saat kunkernya ke Madiun Jawa, bahwa “Umbi porang (dan sejenisnya) laris di pasar luar negeri, lho…!” *** (Bersambung)

29/11/2021 PK 08:37 WIB


About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.