Deretan kafe, toko yang menjual barang merchandise artis K-pop, telepon genggam, aneka stiker maupun sneakers, oleh-oleh khas Korea. Juga menawarkan kafe untuk binatang piaraan, seperti kucing, anjing, rubah, aneka binatang melata atau burung. Ini memang wilayah palugada; “apa yang lu mau gua ada”.
KITA tahu, Jakarta bisa disebut sebagai surga belanja, minimal jika dilihat dari jumlah mal. Saat ini Ibu Kota memiliki 130 mal. Luar biasa.
Sebanyak 130 mal dibangun untuk memenuhi hasrat belanja 10 juta warga Jakarta. Lalu ada berapa mal di Seoul, Korea Selatan? Data menunjukkan, hanya ada 30 mal untuk melayani jumlah warga yang hampir sama dengan Jakarta. Tapi Seoul tak hanya punya mal namun juga punya 30.000 toko retail.
Di jalan protokol Jakarta seperti Sudirman-Thamrin dengan trotoar lebar mirip Seoul, memang terdapat sejumlah mal megah dan pusat perkantoran dengan gedung yang tinggi. Namun, orang kebanyakan hanya bisa menjadi penonton. Mal menjadi sesuatu yang asing dan tidak akrab bagi mayoritas warganya. Mal hanya “milik” orang-orang berduit.
Bandingkan dengan Seoul. Di jalan protokol justru yang banyak adalah deretan pertokoan kecil, toko retail. Deretan toko tersebut bisa dimasuki siapa saja, baik yang berniat belanja dengan uang tak berseri maupun uang pas-pasan maupun warga yang sekadar window shopping (cuma lihat-lihat).
Itu pula yang bisa dilhat di kawasan Hongdae; deretan toko yang menjual hampir semua kebutuhan di jalan panjang yang saling bersilang. Jakarta memang punya mal yang jauh lebih banyak dibandingkan Seoul. Tapi tidak ada kawasan belanja seluas dan selengkap Hongdae yang dilengkapi area nyaman untuk pejalan kaki.
Surga belanja
Sekadar informasi, Hongdae berasal dari nama Universitas Hongik, yang ada di kawasan belanja tersebut. Dalam bahasa Korea, daehag berarti universitas. Dari situlah nama Hongdae berasal. Artinya, Universitas Hongik.
Hongdae benar-benar kawasan wisata sekaligus surga belanja. Di sini wisatawan bisa belanja apapun: pakaian, makanan, toko buku, parfum, alat kecantikan, perhiasan, dan beragam boneka. Ada juga deretan kafe, toko yang menjual barang merchandise artis K-pop, telepon genggam, aneka stiker maupun sneakers, oleh-oleh khas Korea, dan lain-lain.
Ada juga hotel bintang lima hingga kelas guest house. Bahkan, Hongdae juga menawarkan kafe untuk binatang piaraan, seperti kucing, anjing, rubah, aneka binatang melata atau burung. Ini memang wilayah palugada; “apa yang lu mau gua ada”.
“Bahkan, ada juga arena outdoor untuk pentas, baik artis yang sudah terkenal maupun pengamen jalanan. Tak jarang arena pentas tersebut juga didatangi pencari bakat. Jika bernasib baik, bisa jadi seorang pengamen jalanan yang berbakat diorbitkan pencari bakat dan menjadi artis terkenal,” ungkap guide lokal yang akrab disapa Leo. Karena itulah, YG Entertainment, agensi K-pop utama juga memilih berkantor di daerah tersebut.
Tempat seni urban
Leo juga menuturkan, sejak dibangun tahun 1990-an, daerah Hongdae memang dikenal sebagai tempat seni urban dan band Indie. Bisa jadi, itu pula yang membuat mayoritas pengunjung adalah anak muda hingga saat ini.
Hongdae juga terkenal karena ada salah satu sudutnya yang menyajikan seni mural (lukisan dinding dalam ukuran besar). Ada banyak mural yang dilukis di seluruh jalan Hongdae. Salah satu area terkenal untuk mural ini adalah Hongdae Mural Street yang juga dikenal sebagai “Jalan Picasso”.
Menurut brosur tentang wisata Korsel, para pembuat mural tak lain adalah mahasiswa seni dari Universitas Hongik. Sejak itulah, berbagai seniman ikut meramaikan seni mural dan berbagai jenis seni lainnya di kawasan Hongdae. Bahkan, tahun 1993 untuk pertama kalinya lahir ‘Festival Seni Jalanan’.
Karena kuatnya unsur seni, pusat belanja jalanan ini juga sering dijadikan tempat shooting sejumlah film. Misalnya, Mary Stayed Out All Night (2010), Flower Boy Ramyun Shop (2011), dan A Gentleman’s Dignity (2012). Ada juga film reality show yang berjudul Fromis’s Room (2017), dan film reality show yang berjudul Blackpink House (2018).
Wilayah demokratis
Keragaman juga terlihat dari pengunjung yang datang, baik dari usia maupun kelas ekonomi dengan pakian aneka mode dan aneka warna serta aneka harga. Tentu saja ada juga generasi yang lebi tua yang datang ke sini. Hongdae seolah dibangun untuk menunjukkan suatu daerah yang sangat demokratis.
Prinsip demokratis juga terlihat dari harga barang yang dijual. Walaupun ada banyak toko yang menjual barang branded dengan harga fantastis, namun banyak toko berlabel “harga terjangkau”. Mungkin karena mayoritas pengunjung adalah anak muda, khususnya kalangan mahasiswa.
Hongdae juga diangap unik. Sebab, pengunjung bisa menemukan suasana unik di Seoul. Ada banyak kafe unik, restoran yang menyediakan hidangan super yummy, klub-klub dan butik yang sedang trendi, museum tiga dimensi, hingga toko yang menjual barang bekas.
Dengan memiliki kawasan belanja yang sangat luas dan unik seperti Hongdae, wajar jika jumlah wisatawan yang datang ke Negeri Ginseng itu terus meningkat. Menurut Visit Korea, tahun 2000 tercatat sekitar 20 juta wisatawan yang datang ke Korea Selatan. Di tahun yang sama, wisatawan yang mengunjungi Indonesia hanya 4,02 juta.
Karena itu, pusat wisata belanja Hongdae layak dijadikan salah satu strategi untuk menarik banyak wisatawan. Strategi itu membangun kawasan pusat belanja yang sangat luas, nyaman, serta menawarkan komoditas dan harga yang beragam yang kira-kira bisa mewakili semangat demokrasi. Itulah semangat manusia modern. ***





