Penulis Jlitheng
Paus Fransiskus mengajak umat Kristiani sedunia mendoakan perdamaian di Ukraina pada Rabu (2/3/2022), hari pertama Puasa Katolik.
Sangat tepat mendoakan perdamaian itu dengan doa yang ditulis oleh Santo Fransiskus Asisi: “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.”
Ada enam penyebab kondisi tidak damai terjadi: kebencian, penghinaan, perselisihan, kesesatan, kebimbangan, putus asa, dan kegelapan.
[1] Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
[2] Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan
[3] Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
[3] Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
[4] Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian
[5] Bila terjadi putus asa, jadikanlah aku pembawa harapan
[6] Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Aksi nyata damai datang dari Chems-Eddine Hafiz, rektor Masjid Agung Kota Paris, Perancis.
Dalam pernyataan seusai audiensi pribadinya dengan Paus Fransiskus di Vatikan pada 28 Februari lalu, Chems-Eddine Hafiz mengatakan bahwa Paus menyatakan keprihatinannya yang mendalam akan nasib para migran yang membanjiri Eropa sehubungan dengan konflik di Ukraina.
Merespons inisiatif Paus, rektor Masjid Agung Kota Paris akan mengundang para muslimin di Perancis, bertepatan dengan shalat Jumat, 4 Maret 2022, untuk berdoa demi mengakhiri perang di Ukraina dan mendoakan umat manusia untuk menggunakan perasaannya.
Sebuah gerakan iman yang layak kita dukung dengan aksi nyata: kepala keluarga mengajak anggota keluarganya, ketua lingkungan mengajak umat lingkungannya, kepala paroki mengajak umat parokinya. Ajakan yang digaungkan, lebih dari sebatas pengumuman atau pemberitahuan. Shall we?
Salam sehat dan tak jemu berbagi cahaya.






