Kecaman dan Peringatan Para Ahli pada Negara Maju yang Memulai Vaksin Dosis Ketiga

Joe Biden

Joe Biden mengumumkam bahwa Amerika Serikat akan memulai vaksin dosis ketiga pada bulan September 2021

Oleh ICAD M IRSYAAD

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, Kamis kemarin (19/8) dalam wawancara televisi mengatakan bahwa hari ini ia dan istrinya akan mendapatkan suntikan vaksin dosis ketiga. Hal itu disampaikan setelah sebelumnya Biden mengumumkan AS akan memula vaksin dosi ketiga.

“Selebihnya untukku. Bukan untuk kalian. Amerika lebih dahulu.” Inilah kebijakan Covid-19 di AS sekarang. 

Gregg Gonsalves, seorang epidemiologi di Universitas Yale, menanggapi  sentimen tersebut dalam twitternya, pada hari Rabu lalu. “Dalam situasi darurat global, kita tidak seharusnya menimbun vaksin untuk diri sendiri. Tidak seharusnya mengambil kebijakan bahwa vaksin tambahan hanya berlaku bagi orang-orang tertentu. Ketimpangan tersebut begitu menyedihkan karena masih banyak warga negara miskin yang belum mendapat vaksin,” kata Gregg Gonsalves.

Senada dengan Gonsalves, para ilmuwan dan ahli kesehatan publik kini tengah khawatir dengan tindakan negara-negara maju yang sedang melancarkan vaksinasi dosis ketigaMenurut para ahli, kebijakan tersebut adalah perbuatan yang kejam, karena masih banyak negara miskin yang harus dibantu. Banyak negara miskin yang belum mendapat akses vaksin dan belum menyelesaikan tahap vaksin dosis pertama. Pemberlakuan kebijakan vaksinasi dosis ketiga, secara tidak langsung akan memperlambat durasi pandemi global.

Suntikan vaksin ketiga

“Siapa pun yang berpikiran bahwa memvaksinasi orang-orang di Amerika dengan dosis ketiga, bukanlah suatu masalah bagi laju proses vaksinasi di negara lain, adalah suatu hal yang keliru,” kata Scott Hensley, seorang peneliti vaksin Universitas Pennsylvania.

“Bukan hanya berIsiko membuang-buang vaksin yang sebenarnya dapat diberikan bagi jutaan orang lain, tapi efektivitas vaksin dosis ketiga juga masih diragukan,” tulis William Parker dan Govid Persad, yang bekerja sebagai asisten direktur di bidang kesehatan.

“Negara-negara berpendapatan tinggi telah melakukan perjanjian bilateral dengan manufaktur vaksin untuk mendapatkan tingkat laju vaksinasi yang 50 kali lebih cepat dari negara-negara miskin,” tegas Parker dan Persad. Tentu hal tersebut merupakan sebuah bencana bagi kemanusiaan.

Akan tetapi, pemerintah di Amerika Serikat dan negara kaya lainnya seperti Jerman, Perancis, dan Inggris, telah mengabaikan peringatan tersebut. Tidak menghiraukan desakan WHO (World Health Organization) untuk membantu negara miskin dalam melawan Covid-19.

Berdasarkan pada hasil riset analisis ilmu pengetahuan perusahaan Airfinity, negara-negara G7 tengah menimbun hampir satu milliar dosis vaksin. Sementara itu, jika ketidakadilan ini terus berlangsung maka banyak negara miskin yang tidak akan mendapat akses vaksin secara menyeluruh hingga tahun 2024 atau setelahnya.

Tapi, peringatan dan kecaman para ilmuwan tersebut diabaikan. Pejabat teratas dan Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia, mengatakan bahwa, “Kita bersiap untuk menawarkan suntikan tambahan bagi semua warga Amerika. Dimulai sejak tanggal 20 September 2021 dan delapan bulan ke depan bagi individu yang baru menerima vaksin dosis kedua, baik vaksin Pfizer atau Moderna,” tegas Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia AS.

Kini, para pejabat Amerika merujuk pada data yang mengindikasikan perlindungan terhadap SARS-CoV-2. Hal tersebut dilakukan untuk membenarkan seruan tentang vaksin tambahan bagi seluruh populasi Amerika Serikat. Data yang dirujuk adalah penelitian dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) yang menyatakan bahwa efektivitas vaksin dapat menurun seiring berjalannya waktu. Meski pada kenyataannya vaksin tetap efektif untuk memperkecil risiko penyakit dan kematian.

“Studi terbaru telah mengindikasikan bahwa vaksin Covid-19 memiliki tingkat efektivitas sebesar 55% untuk melawan semua infeksi, 80% untuk menekan gejala infeksi, dan 90% atau lebih mengurangi resiko dirawat di rumah sakit,” tulis New York Times.

Ketika pejabat administrasi Biden mengatakan, bahwa penelitian CDC menyediakan cukup bukti untuk melakukan vaksinasi tambahan, para ilmuwan masih tetap tidak yakin. Para ilmuwan meyakini bahwa dosis tambahan tersebut lebih baik diperuntukkan untuk orang-orang yang belum divaksin.

“Jatuh sakit seperti anjing dan berbaring di tempat tidur dengan kondisi Covid-19 yang parah, dan tidak dirawat di rumah sakit. Saya rasa hal tersebut bukanlah sebuah alasan yang cukup baik untuk penerapan vaksin tambahan,” kata Dr. Céline Gounder, spesialis penyakit menular yang bekerja di Rumah Sakit Pusat Bellevue. Ia juga mengatakan kepada Times, bahwa “Kita akan lebih terlindungi bila memvaksinasi orang-orang yang belum divaksinasi di sini dan di seluruh dunia.”

Tapi, kebijakan “Selebihnya untukku. Bukan untuk kalian. Amerika lebih dahulu,” sudah ditetapkan dan kini telah menjadi semboyan yang tidak mempedulikan peringatan dan kecaman para ilmuwan. Bahkan tentu juga tidak akan peduli pada kecaman dunia.*

*Icad M Irsyaad, mahasiswa FIB Universitas Indonesia

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.