Kisah Li Chung, Editor yang Memilih Jalani Hidup Baru dengan Membuka Warung

Li Chuang di Warung Pojoknya - ABCNews

Awalnya pulang kampung untuk mendapatkan ketenangan. Tapi malah mengalami serangan kecemasan, sehingga balik lagi ke Beijing. Dia tetap menolak pekerjaan lamanya dan memilih membuka warung kecil di kampung di tengah kota, dan menjalani hidup dengan santai. Perubahan hidupnya menjadi inspirasi bagi generasi muda China kini – dan mencemaskan pemerintah . foto foto: ABCNews

DUA TAHUN lalu, Li Chuang pindah dari kota metropolitan Beijing yang ramai ke sebuah biara kuno di Cina tengah untuk mencari ketenangan.   Pada usia 32 tahun, pekerjaan sehari-hari sebagai editor di sebuah penerbit terkenal.

“Ini bukan tentang kecepatan menjadi cepat atau lambat, tetapi saya merasa itu tidak berarti,” kata Li, kepada koresponden ABCNews yang khusus mewawancarainya.

Jadi dia berhenti dari pekerjaannya dan berziarah ke Gunung Wudang di Provinsi Hubei, yang terkenal dengan praktik Taoisme dan Tao Chinanya.

Di antara puncak yang tertutup salju yang diselimuti awan, Li tinggal bersama biksu lokal, menganut filosofi Tao hidup selaras dengan alam.

Namun setelah enam bulan di sana, dia kembali ke kota.  “Saya mengalami serangan kecemasan,” kenangnya. “Detak jantung berpacu, aliran darah … Saya merasa seperti akan mati. Saya harus pergi ke gawat darurat. Tapi bangsal darurat di rumah sakit bukanlah solusi.”

Meski demikian Li Chuang tidak kembali ke pekerjaan lamanya di kantor. Sebagai editor, seperti sebelumnya. Dia memilih membuka warung,  di rumah kosong milik kakek-neneknya di perkampungan — di gang sempit di Kota Tua Beijing.

Ini adalah lingkungan kelas pekerja seperti tempat dia dibesarkan.  “Saya ingin menemukan kembali akar saya, jadi saya kembali ke titik awal saya di hutong,” katanya.

Li Chuang merupakan salah satu dari semakin banyak profesional muda di China yang menolak narasi yang berlaku selama ini,  tentang kesuksesan demi gaya hidup minimalis.

Alih-alih bekerja keras, membeli rumah, menikah dan memiliki anak, beberapa pemuda Tionghoa memilih keluar dari jebakan tikus dan mengambil pekerjaan bergaji rendah – atau tidak bekerja sama sekali.

Tindakan perlawanan sederhana ini umumnya dikenal sebagai tang ping, atau “flying flat”. Dalam terjemahan bebas tang ping dimaknai menjalani “gaya hidup nyantai”. Banyak rebahan.

Dia menghabiskan waktu berlatih Tai Chi di pagi hari dan, saat warung sepi di malam hari, dia memainkan gitar atau alat musik Quqinnya.

Li Chuang mengungkapkan, sejak berhenti dari pekerjaan kantornya, kini dia memiliki lebih banyak waktu luang. Dia mengatakan itu menempatkan dia dalam pola pikir yang lebih positif.

Dengan tinggi hampir 190cm, ia tampak seperti raksasa di tokonya seluas 15 meter persegi, tinggal di tumpukan bermacam jajalan dan jualan mulai dari keripik hingga kertas toilet.

Dia mengaku tidak suka label. Sebaliknya, ia lebih suka menggambarkan dirinya sebagai “dalam proses pencarian”.

“Mungkin (orang lain) membutuhkan label ini untuk memahami bagaimana saya bisa hidup tanpa ambisi. Sedangkan, saya tidak memberontak. Saya hanya ingin membuat diri saya nyaman dan bebas dari kecemasan,” katanya, mengenakan t-shirt, celana pendek.

Gerakan berbaring datar muncul pada bulan April setelah sebuah posting blog oleh pekerja pabrik Luo Huazhong berjudul, Berbaring datar adalah keadilan.

Terbakar karena terlalu banyak bekerja, pria berusia 31 tahun itu berhenti dan bersepeda lebih dari 2.000 km dari provinsi Sichuan ke Tibet, bekerja serabutan di sepanjang jalan.

Gerakan ‘tangping’ telah menjadi fenomena sosial di China tahun ini.

Selanjutnya, Manifesto melawan Materialisme

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.