Seide.id – Awal tahun 2022 digegerkan dengan aksi seorang pemuda yang menendang sebuah sesajen di area Gunung Semeru.
Entah faktor apa yang melatar belakangi tindakan si pemuda itu, tindakan tersebut dianggap sebagai tindakan yang kurang toleran terhadap sebagian masyarakat penghayat kepercayaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.
Tulisan ini tidak ingin membahas lebih lanjut terkait pertentangan sebuah pandangan seseorang yang kurang bisa menerima perbedaan ajaran yang ia yakini dengan ajaran keyakinan lain namun tulisan ini ingin mengupas informasi tentang konsep sesajen dalam kebudayaan Jawa.
Herusatoto mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk budaya, dan budaya manusia penuh dengan simbol sehingga dapat dikatakan bahwa budaya manusia diwarnai dengan unsur-unsur simbolik.
Kata simbol berasal dari bahasa Yunani, “symbolos” yang berarti tanda tau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang.
Sesaji Sebagai Simbol Ritual
Berdasarkan pendapat Endraswara, dikatakan bahwa simbol-simbol ritual ada yang berupa sesaji.
Sesaji merupakan aktualisasi dari pikiran, keinginan, dan perasaan pelaku agar lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Upaya mendekatkan diri melalui sesaji sesungguhnya merupakan bentuk akumulasi budaya yang betrsifat abstrak.
Sesaji juga sebagai sarana “negosiasi” spiritual kepada hal-hal gaib.
Hal ini dilakukan agar makhluk-makhluk halus diatas kekuatan manusia tidak mengganggu.
Dengan pemberian makanan secara simbolis kepada ruh halus, diharapkan ruh tersebut akan jinak, dan mau membantu hidup manusia.
Upaya Manusia Agar Senantiasa Selamat
Syamsuddin menjelaskan bahwa manusia selalu berusaha menyelamatkan atau membebaskan dirinya dari segala ancaman yang datang dari lingkungan hidupnya.
Untuk itu, manusia secara perorangan atau berkelompok mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lain, atau dengan kekuatan-kekuatan gaib diluar dirinya melalui upacara.
Bentuk Sesajen
Sesajen sendiri dapat disajikan dengan menggunakan berbagai jenis makanan (buah-buahan, tumbuhan, nasi, lauk, telur ayam, dan sebagainya).
Oleh: Khoirunnis Salamah




