Kuliner Nusantara: Nasi Padang Sepuluhribuan

Foto Heryus Saputro Samhudi

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

TAHUN 1989, untuk kedua kalinya saya ke Timor Timur / Timtim (kini negara Timor Leste) yang dalam bahasa Tetun menyebutnya Timor Lorosa’e. Sebagai provinsi Indonesia ke-27 waktu itu (berdiri tanggal 17 Juli 1976 hingga 19 Oktober 1999) tak perlu passport masuk, selain izin dari otoritas terkait dan (bagi saja) dukungan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), organisasi profesi tempat saya bernaung

Bersama almarhum fotografer Nyoman Dewantara (juga dari majalah femina). Kami blusukan tak cuma di Dili dan kawasan barat (Maubara, Ermera, Alieu, Maliana,, Suai, Bobonaro, Ainaro dan Same) tapi juga pantai utara Manatuto, lapangan udara Baucau, pelabuhan laut Lautem, Viqueque, Los Palos hingga padang sabana Tutuala yang kini menjadi Nino Konis Santana National Park, di dekat Pulau Jaco.

Kejutan terjadi di Los Palos, kota paling timur dan masih amat sepi, di mana di sebuah areal pinggir jalan tanah, kami temukan bangunan rumah sederhana bertuliskan Rumah Makan (RM) Padang. Yang tanya punya tanya… ternyata sudah eksis sejak sepuluh tahun silam. Ini satu-satunya Warung Nasi Padang yang saya temukan di sekujur keramaian Timor Timur saat itu. Gile…! Bener-bener pelopor.

RM Padang/ Warung Padang/ Restoran Nasi Padang adalah model bisnis warung makan yang menjual ragam kuliner khas Minangkabau. Penamaan ini sebenarnya tak begitu tepat, karena asal masakan dan pelaku bisnis ini tak hanya dari kota Padang, tapi juga dari Agam, Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Tanah Datar, dan wilayah Sumatera Barat lainnya. Rasa masakannya pun berbeda satu sama lainnya.

Tapi barangkali, ibarat pepatah “kerbau punya susu, lembu punya nama”, karena Padang ibu kota Sumatera Barat yang dikenal luas, maka seperti ada kesepakatan budaya, semua pebisnis kuliner Minangkabau di luar Sumatera Barat menabalkan resto atau warung makan yang dikelolanya dengan merek atau kata RM Padang atau Restoran Padang atau Warung Nasi Padang.

RM Padang memang terkenal di Indonesia bahkan dunia, disukai berbagai kalangan serta bermacam etnis dan bangsa karena citarasanya yang lezat serta daya adaptasinya yang bisa menyesuaikan diri dengan lidah atau selera masyarakat di mana rumah makan ini berada.

Nasi Padang Rp. 10.000an – pilihan aman dalam rasa dan harga.

Di luar Sumatra Barat hidangannya tidak terlalu pedas, berbeda dengan rumah makan yang ada di tanah kelahirannya sendiri.

Usaha Nasi Padang hadir dalam berbagai tingkatan sosial, mulai dari warung kaki lima yang harganya terjangkau kalangan bawah, rumah makan dengan target pasar kalangan menengah, hingga restoran mewah yang menargetkan kalangan atas dengan harga yang cukup tinggi sesuai fasilitas yang disediakan. Bagi saya, Nasi Padang pilihan paling ‘aman’ di kota mana pun kaki melangkah,

Hal menarik, dan kini sedang nge-trend adalah resto-resto nasi padang dengan embe-embel kata “sepuluhribuan” atau “serba Rp 10.000”. Artinya, Anda cukup membayar Rp10.000 untuk makan kenyang berupa nasi putih, lauk-pauk utama pilihan (berbahan daging sapi atau ayam, ikan, gulai tunjang atau lainnya), gulai Nangka atau daun singkong, plus air teh hangat, Bisa juga dibungkus. Asyik, kan…!

10/02/2022 PK 10:24 WIB

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.