Seide.id – Kalau diamati sejak dulu hingga sekarang, semua masalah bangsa, mulai dari susahnya mengatur masyarakat, kurang hormat pada pemimpin negara, gontok-gontokan kalangan elite, polarisasi anak bangsa, belum sehatnya bangsa, besar peran tidak terbentuknya karakter.
Karakter itu dibentuk diciptakan, sejak awal anak berkembang. Jepang butuh 4 tahun untuk membentuk karakter anak kelak menjadi somebody, menjadi seseorang. Hormat pada yang lebih tua, tahu sopan santun, tidak mengusik kepentingan umum. Anak TK membungkuk sempurna kepada sopir bus sekolah yang mengantarkannya pulang, setiap kali turun. Kebiasaan baik yang menjadi perilaku sepanjang hayatnya. Di tempat publik tidak membunyikan ring phone, supaya tidak mengganggu orang lain. Tidak bicara seenaknya, juga tidak tertawa-tawa. Kalau membuka HP pun bicaranya sepelan mungkin. Kebiasaan baik yang ditanam sejak kecil, membangun karakter elok.
Pendidikan karakter ialah internalisasi nilai dalam pendidikan. Sekolah tak cukup mengajar, melainkan juga mendidik. Sekolah bisa meraih prestasi akademik tinggi, tapi tanpa pendidikan karakter, anak didik belum tentu menjadi orang baik. Orang pintar banyak. Tapi pintar dan baik, tidak banyak. Sekolah Katolik yang saya amati, tidak fokus berorientasi prestasi akademik, terlebih bagaimana menciptakan anak berkarakter mulia. Anak yang tidak egois, bukan yang mau menang sendiri, atau yang tidak memikirkan orang lain.
Prestasi akademik yang kurang, masih bisa disusulkan kemudian. Tapi kalau pendidikan karakter kurang, tak ada kesempatan kedua. Anak sudah jelek integritasnya sejak awal, mungkin kriminal, tidak tahu etiket, alih-alih beretika.
Kita cenderung fokus mendahulukan pendidikan agama, lupa mendidik karakter, sehingga kita melihat kuat tutur ayat-ayatnya, patuh ritual keagamaannya, tapi masih culas dan serong. Jumat dan Minggu penuh orang beribadat, tapi kasus korupsi tidak berkurang. Beriman belum tentu paralel dengan berkarakter. Film My Name is Khan bilang begitu. Bahwa di dunia hanya ada dua jenis manusia, yaitu orang baik, dan orang tidak baik, apapun agama, bangsa, dan statusnya.
Tidak berlebihan kalau bangsa membutuhkan pendidikan karakter. Juga Presiden Jokowi mencanangkan Revolusi Mental di awal. Buat penyelenggara negara betapa pelik mengatur anak bangsa, bahkan soal antre, soal sopan santun di jalan raya, soal tidak buang sampah sembarangan, bagaimana patuh pada aturan. Konon lebih susah mendidik anak antre ketimbang mengajarkan matematik.
Bila masa membentuk karakter itu sudah kadung terlewatkan, ketika anak didik sudah terlanjur tertanam kebiasaan tidak baik, sukar mengubahnya untuk menjadi baik. Demikian yang terjadi dalam dunia kesehatan. Masyarakat kita sudah terlanjur terbentuk perilaku tidak sehat sampai usia dewasa, sampai sudah menjadi ayah-ibu, maka generasi akan menerima warisan perilaku tidak sehat juga, ketika kurikulum sekolah pun tidak membentuk perilaku sehat.
Karena masyarakat sudah terlanjur berperilaku dan berkarakter tidak baik, inilah beban di pundak setiap penyelenggara negara. Kita tidak menginvestasi pembentukan karakter sejak sekolah perdana anak, maka kemudian menjadi ongkos yang menyisihkan anggaran negara yang tidak kecil. BPJS di awal dulu sampai tekor lebih 20 T rupiah, karena sebagian besar, kalau bukan semua peserta masyarakatnya sudah tidak sehat.
Masyarakat tidak sehat lebih disebabkan oleh perilaku tidak sehat, karena perilaku sehatnya belum atau tidak dibentuk di sekolah. Masalah menjadi sakit sebagian besar masyarakat sebab perilaku tidak sehat. Untuk mengubah perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat, pekerjaan yang musykil. Negara harus membayar mahal untuk itu, karena yang terjadi sudah menjadi masalah nasional. Banjir berulang akibat perilaku buang sampah ke sungai.
Sukarnya mengajak imunsiasi, memelihara lingkungan, tidak buang sampah ke sungai, dan lalu laut kita sudah menjadi tong sampah terbesar. Tidak heran kalau masih ada orang dengan nama besar, kalangan elite, tapi kurang santun pergaulan sosialnya, dan saya menemukan banyak dalam kehidupan saya sebagai dokter. Cara bertutur kata, cara menyapa, tidak tahu berterima kasih. Pelajaran dasar anak didik di sekolah ada tiga: tahu mengucapkan kapan berterima kasih, minta tolong, dan minta maaf. Ada nama besar jumawa tidak melakukan yang menjadi pendidikan dasar berkarakternya.
Yang masih mungkin dilakukan, ialah rekayasa sosial, social engineering. Untuk itu perlu mesin, perlu tangan besi. Seperti Singapura di awalnya dulu mendisiplinkan rakyatnya yang sebelumnya tidak berdisiplin hidup. Anak buang sampah sembarangan, orangtuanya ikut dihukum. Semua pelanggar sekecil apapun aturan pemerintah, kena ganjaran denda. Kini Singapura menikmati, semua terpaksa berdisiplin dan ikut aturan. Gubernur DKI Bang Ali Sadikin pernah melakukan dengan mengganjar pembuang sampah sembarangan dengan denda besar waktu itu, tapi aturan jadi macan ompong, karena implementasinya longgar.
Jadi ke depan, perlu beberapa generasi untuk membersihkan bangsa dari kekotoran karakter buruk anak bangsa. Dengan memulai mendahulukan pendidikan karakter sejak sekolah perdana seperti Jepang melakukannya. Bila tumbuh bangsa berkarakter, bukan saja beban pemerintah jadi ringan, tapi negara tidak dirongrong oleh banyak masalah bangsa yang sebetulnya tidak perlu terjadi.
Kalau sekarang masih ada warga masyarakat yang tercipta tahu aturan, bertata krama, sopan santun, welas asih, tepa slira, memikirkan orang lain, elok perilakunya, itu karena buah pendidikan di rumah. Karena peran ayah-ibunya, sehingga anak taku beretiket, beretika, dan kuat pula imannya. Iman yang senantiasa naik kelas.
Salam berkarakter,
Dr Handrawan Nadesul
Ikuti : Bergelar Belum Tentu Pintar






