Foto : Daniel Tsai/Pixabay
Fr. M. Christoforus, BHK
Renungan ini, untuk menghormati para Ibu kita
Mater Dolorosa adalah sebuah “gelar” keagungan, ketulusan, kesetiaan, bahkan keteguhan beriman Sang Bunda Maria (Siti Maryam).
Dalam refleksi kita ini, para saudara-saudari beriman, kita akan merenung refleksikan hal “penderitaan” Sang Bunda Maria, “Mater Dolorosa,” Bunda yang berduka.
Dari mana datangnya kekuatan, kesetiaan, serta ketulusan Sang Bunda Maria. Dia sanggup, dan perkasa menahan derita menghadapi seluruh realitas panggilan hidupnya yang penuh misteri. Bahkan juga kala mengalami dan menyaksikan sendiri penderitaan putranya, sang Yesus Kristus di jalan-jalan kota suci Yerusalem.
Marialah tokoh penyaksi abadi serta pelintas jalan-jalan pahit pedih bernama “via Dolorosa,” jalan kedukaan.
Sang Maria, bersama Maria yang lain adalah simbol ketegaran para Ibu kita di negeri tercinta ini dari hari ke hari.
Merekalah para saksi abadi menghadapi derita putra-putri mereka di jalan-jalan hidup ini. Merekalah pihak yang paling memahami gerak bola mata duka para putra-putri mereka.
Mereka ternyata, tidak saja gratis memberikan rahimnya untuk dihuni, bahkan juga sekeping hatinya untuk terus belajar memahami gejolak batin pahit pedih sang anak mereka.
Sesungguhnya, tapak-tapak kaki merekalah yang paling setia beriring bersama sang putra di jalan penuh kekerasan hari-hari ini.
Dan, mereka pulalah yang berdiri teguh di bawah kaki tiang palang salib kehidupan di bukit Golgota hidup ini. Mereka jugalah yang mendengarkan lantang swara sang putra yang berseru lesu, “Bapak, sudah selesai,” dan mereka juga yang mendengarkan asa paling agung di jagad hidup ini, “Bapak, ampunilah mereka karena tidak mengerti, apa yang mereka lakukan.”
Hanya ibu-ibu perkasa yang mampu menampung serta memaknakan arti mahaluhur dari teriakan histeris ini.
Dan juga, kadang kala dalam keputusasaan sang anak mereka pun turut berkeluh lemah, “Bapak, mengapa Engkau meninggalkan Daku.”
Marilah kita, terus merenungrefleksikan ketegaran hati sang Bunda Mater Dolorosa.
Semoga, kita pun dikuatkan oleh kekokohan iman Sang Bunda Mater Dolorosa.
Malang, 4 September 2022






