Awas, Badai Materialisme…!

“Sedahsyat-dahsyatnya badai kehidupan, lebih dahsyat badai materialisme. Semoga kita tidak menduakan Allah.”        –red-joss

Badai hidup itu datang setiap saat dan tidak kenal waktu. Bisa muncul di sembarang tempat. Bahkan pada dini hari, saat kita terbangun karena suara gemuruh hujan angin disertai bunyi petir yang nggegirisi hati.

Kenyataannya, banyak di antara kita yang memilih lebih nyaman dan senang untuk tidur kembali. Badai kenyamanan membuat kita tidak peka atau sadar. Bahwa Allah sedang menjamah kita. IA ingin ngobrol agar kita makin mendekatkan diri pada-Nya.

Badai hidup yang nyata itu saat kita diuji dalam realita. Sering kali, kita sadar saat disodori fakta: sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ketika persoalan demi persoalan datang bergulung, kita sulit untuk berpikir jernih. Kita tidak tahu harus bersikap bagaimana dan berbuat apa. Selain hanya mengeluh dan protes: di mana Allah? Kenapa IA tak peduli pada kita?

Banyak di antara kita yang salah persepsi. Badai kehidupan itu ada tidak sebatas pada hal-hal pahit, menyakitkan, sedih, atau musibah. Tapi ada juga pada kenyamanan,
ketakutan, kemalasan, kemarahan, kesombongan, dan seterusnya.

Rasa nyaman membuat kita jadi mager. Kita berpuas diri dengan keadaan, hingga lupa untuk terus berjuang agar kita sukses dan bahagia.

Rasa ketakutan yang berlebihan membuat hidup kita tidak tenang. Kita senang menghindar, menjauhi, atau sembunyi dari keramaian. Kita jadi pribadi yang kuper dan tertutup.

Rasa sombong membuat kita mudah meremeh-rendahkan orang lain. Kita merasa lebih hebat, pintar, dan lebih terkenal. Akibatnya, kita bisa dijauhi atau dikucilkan.

Rasa ingin marah yang berlebihan membuat kita sulit mengontrol diri. Jiwa kita tersiksa dan stres, ingin mencari pelampiasan. Akibatnya, kita mudah terserang penyakit, dan sakit.

Dari sekian banyak badai itu, yang harus diwaspadai dan disikapi hati-hati adalah badai materialisme. Kenapa? Ketika pandangan, sikap, keyakinan, hingga spiritual dan intelektual kita didasari pada hidup demi materi semata.

Hidup yang berorientasi dan demi materi itu bahaya, karena bakal membunuh jiwa ini. Manakala kita mentuhankan materi, berarti kita melupakan Allah Yang Maha Memberi. Padahal, sejatinya hidup ini untuk memberi, karena kita telah diberi oleh-Nya.

Sesungguhnya, sedahsyat apapun badai kehidupan itu, kita mampu melewati dengan aman, selamat, dan bahagia hingga di tujuan.

Dengan eling lan waspada, kita jadi pribadi yang rendah hati. Ketika kita makin merendah untuk sujud di hadapan Allah, maka badai itu tidak mampu menerbangkan kita.

Dengan bergantung dan andalkan Allah, kita dijauhkan dari badai kejahatan.

Taat dan setia pada kehendak Allah adalah pribadi orang yang rendah hati.

Foto : Arturo Rey / Unsplash

Awas, CoinFlex Bermasalah

Kala Badai Melanda Keluarga

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang