Foto : Paul Steuber/Pixabay
Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Tepat di sudut lampu merah, di kota kecilku, hatiku ini pernah meraung meronta tak keruan.
Hari itu, Minggu, … pukul 10.20 pagi.
Aku menyaksikan dengan mata kepalaku. Seorang anak peminta-minta, berumur kira-kira 12 tahun mengulurkan tangan kumalnya, dan matanya penuh harap kepada sekelompok kecil ibu muda yang baru pulang ibadat gereja.
Dan, apa yang terjadi? Si malang itu tidak dihiraukan. Mereka melewatinya sambil ngobrol dan tertawa kecil.
Pengemis itu pun menurunkan tangan kurusnya sambil mata liarnya mencari-cari mangsa berikutnya.
Lima hingga sepuluh menit berikut, dari jarak agak jauh, tampak dua pria remaja berpakaian putih hitam sambil memegang gitar Spanyol. Barangkali keduanya hendak atau baru pulang dari gereja.
Sang bocah malang itu pun sekali lagi mengulurkan tangan kurusnya sambil dan berucap, “Kak, saya minta uang untuk beli nasi…”
“Maaf de, uang kami hanya cukup untuk derma di gereja,” jawab salah seorang dari kedua pria muda itu sambil bergegas lewat.
Sang pengemis cilik itu pun diam tak berguman.
Aku lalu berpikir keras, siapa yang akan memberinya makan hari ini? Siapa yang akan memberinya uang hari ini?
Kehidupan di kota-kota besar di seantero negeri ini, rata-rata mirip sikap masyarakatnya terhadap uluran tangan para pengemis.
Tidak banyak yang peduli atau pun ya, sedikit agak peduli. Tentu, sikap-sikap ini dilandasi oleh berbagai pertimbangan serta dasar pemikiran yang berbeda-beda pula.
Salahkah jika warga pelintas jalan itu bersikap tidak acuh? Dan salahkan jika para anak jalanan itu selalu mengulurkan tangan sengsara mereka demi sesuap nasi?
Uang ini untuk didermakan di gereja dan bukan untuk pengemis di jalan.
Saya jadi teringat akan sabda sang Nabi, “Jika kamu peduli kepada orang kecil ini, kamu telah melayani Aku.”
Apakah Tuhan hanya hadir di dalam gedung gerejamu, di gereja kita? Siapakah Tuhannya para pengemis di jalan-jalan kota di negeri ini.
Kita tentu, dapat saja berdebat tentang realitas pahit pedih ini.
Dan, orang bijaksana pernah mengatakan, “Janganlah kamu menilai serta mengadili sikap sesamamu begitu saja, karena setiap orang, toh bersikap atas dasar pertimbangan nuraninya.”
Yang utama dan pertama, mungkin, kita perlu mengoreksi isi batin kita. Peduli dan ada kasihkah saya kepada si miskin? Itu dasarnya, tentu sambil melihat sikonnya.
Hati yang berbelas kasih akan mengulurkan tangan-tangan kasihnya pada saat yang tepat, tentu sesuai kebutuhan serta manfaatnya.
Di bumi ini, orang akan bersikap sesuai kualitas isi hati pribadinya, dan tidak selalu atas dasar apa agamanya.
Jadi, beragama jangan diidentikan begitu saja dengan beriman, karena mungkin saja, seseorang yang tidak beragama, namun dia sangat beriman!
Yang “utama adalah para pengemis di sudut hatimu dan bukan di sudut lampu merah.”
Malang, 4 September 2022






