Mengapa Kita Harus Melawan Taliban?

Maudy Ayunda Family01

Pendidikan bukan satu satunya kunci sukses. Tapi dengan pendidikan generasi muda bisa mengembangkan diri, memaksimalkan pencapaian di bidang akademis yang diharapkan berguna bagi bangsa dan negaranya, khususnya bagi generasinya. Foto keluarga Maudy Ayunda (instagram)

ADA BANYAK alasan mengapa kita semua harus gigih melawan ideologi Taliban, baik yang di Afganistan, maupun bibit bibitnya, jentik jentik nyamuknya  –  yang sudah merebak di sini. Di negeri Nusantara kita tercinta.  

Antara lain karena foto foto indah yang saya pamerkan di sini.  

Sebab, jika mereka berkuasa kita tak bisa melihat pemandangan indah ini. Negeri Indonesia kita akan berubah total.

Taliban menentang pendidikan tinggi bagi wanita, bahkan melarang mereka keluar rumah. Taliban bengis kepada mereka.  Artinya generasi Maudy Ayunda dan Cinta Laura yang meraih gelar akademis dari universitas bergengsi kelas dunia tidak akan ada.  Gadis cantik dan cerdas seperti Maudy Ayunda dan Cinta Laura akan dikerudungi seluruh tubuhnya,  juga otaknya, bakatnya, wawasannya, pengetahuannya,  bahkan gerak geriknya. Mereka akan dipoligami oleh penguasa Taliban di sini, dijadikan isteri ke tiga atau ke empat. Dipaksa beranak pinak. Sungguh mengerikan!

Jangan sia siakan perjuangan RA Kartini yang telah bersusah patah membangkitkan kesadaran hak pria dan wanita. Adegan film Kartini karya Hanung Bramantyo

Ideologi Taliban jelas menolak busana Nusantara. Memaksa penampilan wanita kita agar ke Arab-araban. Atau pakaian ala gurun pasir – sebagaimana yang sudah diwajibkan di Aceh dan Sumatera Barat. Artinya kebaya Jawa Barat, Jawa Tengah dan Bali – memamerkan bentuk tubuh –  akan diharamkan. Warisan Budaya Indonesia akan tersingkir.

Di ibukota kita bisa menyaksikan dan menikmati MRT, Grand Indonesia, Plaza Senayan, Monas, dan pemandangan indah lainnya. Kita juga bisa melihat sedan Mercy, Audi, Tokyota Alpardh, lalu lalang. Rumah rumah yang bagus, apartemen, dan pertokoan yang cantik, menyejukkan mata.  Barang barang bagus di mana mana.  Kita tidak memilikinya. Tapi kita senang melihatnya. Mereka milik kita semua, bangsa Indonesia.

Gita Gutawa Tasya dan Maudy Ayunda
Pendidikan tinggi bukan jaminan sukses. Tapi perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi akan melahirkan generasi yang lebih baik dari sebelumnya. Jangan biarkan Taliban merenggut mereka.

Demikian halnya Luna Maya, Aura Kasih, Shandy Aulia, Bunga Citra Lestari, Wulan Guritno dan wajah wajah cantik lainnya. Kita tak bisa memiliki mereka, membawanya ke rumah. Tapi mereka adalah milik kita semua di Indonesia. Mari kita jaga mereka, jangan sampai mereka disekap Taliban.

Jangan percaya pada pernyataan Jusuf Kalla, Fadly Zon, Hidayat Nur Wahid, sebagai pengasong Taliban di sini. Politisi pembohong, tukang kibul, yang biasa membalikkan fakta karena nafsu politik dan gila kuasa di sini. Mereka sudah biasa membolak balikkan pikiran warga. Menipu kita.

Dua provinsi kita sudah jatuh ke paham Talibanisme dan sulit mengubahnya. Kita masih punya 32 provinsi lainnya yang kita harap terus bertahan merawat Budaya Nusantara.

Tak ada salahnya wanita Indonesia pamer rambut,  pamer bahu, pamer kecantikan, pamer kesaksian, pamer kaki,  pamer sebagian dada atau belahannya,  di tempatnya yang tepat. Tata krama membuat kita menghargai wanita, bukan buas melihat sebagai mangsa.

Saudarku seIndonesia. Jangan kita ke Arab Araban, jangan ikut beragama ala  Taliban.

Surga yang dijanjikan oleh kitab suci orang Arab mayoritas sudah ada di Indonesia. Gunung tinggi menjulang, hutan menghijau, sungai sungai dengan air jernih mengalir, ladang luas, matahari tak terlalu panas, tak terlalu dingin. Tanaman subur makmur, semua sudah ada di Indonesia. Surga kita.

Kenapa orang kita, wanita kita,  harus meniru niru Arab dan keArabaraban untuk mewujudkan mimpi masuk surga? Tanah dan laut di sekitar kita adalah surga. Di sekitar kita banyak bidadari. Luna Maya, Maudy Ayunda, Bunga CItra Lestari adalah penjelmaan bidadari, dan mereka orang kita.  Jangan sampai mereka jatuh ke Taliban ! ***

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.