Menyadari Perpisahan dan Perjumpaan – Menulis Kehidupan 336

Foto : Polly Ata/Pixabay

Pengalaman bertemu dan berpisah adalah hal alamiah yang pasti dirasakan semua orang. Ada waktu yang hanya beberapa saat berpisah, tapi ada juga waktu yang lama. Bahkan, ada yang berpisah, dan tak pernah bertemu lagi sampai ajal menjemput.

Beberapa saat lalu, saya gembira bisa bertemu dengan seorang sahabat, yang sudah berpisah 40 tahun. Saya ke rumahnya dan saling berbagi cerita, ada makan minum. Suasan sangat menggembirakan. Lalu, refleksi dan terimakasih atas perjumpaan itu, saya tuangkan dalam sajak:

Merangkul Jarak Waktu

Empat puluh tahun berlalu
adalah sebuah jarak waktu
kami terpisah tidak bertemu
sejak 1982 hingga 2022
karena terpisah berbagai alasan
karena terbawa aneka cerita
karena menjalani kisah perjuangan
karena pilihan dan keputusan
karena upaya memaknai kehidupan
karena perbedaan ruang waktu
Lalu…
malam ini bisa bertemu
Berjumpa lagi merangkul waktu

Bertemu merangkul waktu
Saling jumpa melepaskan rindu
ruang kehidupan jadi satu
Jiwa raga hadir bersama
dengan aneka kisah cerita
dengan ekspresi suka cita
dengan berbagai nostalgia indah
karena damba sanubari jiwa
Bahwa kita sahabat lama
Bahwa kita sanak saudara
Bahwa kita sesama manusia
dan masih saling menyapa
karena ada kasih cinta

Perjumpaan terjadi di tempat kawanku
rumahnya di tengah kota
Jalan raya di depan runahnya
Belakang ada pantai terbentang
Pertemuan di rumah sahabatku
Seorang pegawai negeri sipil
yang memasuki masa pensiun
meskipun ekspresinya masih semangat
seperti usia belum 40 tahun
Sangat menggairahkan dan akrab
pertemuan merangkul jarak waktu
meski hanya beberapa jam
namun serasa mengobati rindu
seperti sudah merangkum cerita
sehingga jarak 40 tahun
seolah baru kemaren terlewat

Ketika perjalanan pulang
terbawa angan menerawang kagum
rasa senang dan terimakasih
bahwa bisa bertemu kembali
seorang sahabat dan saudara
Ada rasa syukur dan bangga
masih dikaruniakan nafas hidup
masih diizinkan jantung berdetak
masih boleh alam gembira
Sebuah berkat Pemilik semesta
karena rencana bisa dibuat
namun
ruang waktu milik Pencipta
kehidupan bukan milik kita
pribadi hanya bisa mengalami
selama masih diberi kesempatan
saat masih diizinkan berziarah
Memberi makna melukis warna
pada lembar pilihan keputusan
pada kanvas prinsip tujuan
dengan kata dan perbuatan
dari pikiran dan hati nurani
dari khasanah jiwa sanubari
Agar menggapai hakekat sejati
Agar diri pribadi berarti
Sebagai sosok anugerah Ilahi
bagi sesama insani di bumi

Perjumpaan dan perpisahan insani
dalam ruang dan waktu
pasti selalu terjadi dialami
bukan soal jumlah keseringan
bukan karena selalu bersama
Namun,….
soal mengapa mau berjumpa
soal untuk apa bertemu
“Adakah kasih sayang disana
Apakah aku membagi arti
Apakah aku memberi makna
Adakan aku membuat gembira
Bisakah aku membawa bahagia
bagi semua yang kujumpai ?”

Memaknai Salam Perpisahan Si Kecil