Salah satu upaya memperbaiki hubungan adalah dengan memaafkan. ( Foto: Liputan6)
Semua orang pasti memiliki kekurangan, pernah berbuat salah dan keliru kepada sesamanya. Pengalaman bersalah dan keliru, atau dalam agama disebut berdosa, kepada sesama mengakibatkan relasi yang terganganggu. Sebagai pelaku ada rasa tidak nyaman. Lalu, pihak lain yang mengalami akibat kesalahan, keliru dan perbuatan dosa itu pun pasti ada hal yang tidak nyaman. Mungkin fisiknya, perasaannya, pikiran dan hati sanubarinya, bahkan jiwanya.
Salah satu upaya memperbaiki adalah dengan meminta maaf dan memohon ampun. Artinya karena sadar salah, keliru dan berniat dosa, lalu menyesali kekurangan itu, serta mau memperbaikinya, maka berjuang meminta maaf dan memohon ampun. Ternyata, tidak mudah dan yang paling sulit adalah memaaafkan diri sendiri dan memohon ampun kepada pribadi sendiri. Lalu, saya tuangkan refleksi itu dalam sajak:
Mengemis Maaf dan Ampun
Berjalan mengulurkan harap
Berkelana mengemis maaf
ketika sadari bersalah
dengan lapar pengampunan
saat insyafi lalai keliru
dengan dahaga belaskasih
Kuketuk pintu maaf
pada seribu istana hati
namun tak terbuka bagiku
Kuminta sejuta maaf
di sejuta ruang jiwa
namun tiada jawaban untukku
Aku terus berjalan
menjejak setiap ruang
mendatangi seluruh waktu
menadah tangan mengemis maaf
memohon ampunan
Tapi
tiada maaf dan ampun
Dan
aku terkapar lelah
jiwa raga terkulai
di tepi jalanan pasrah
di selokan harap
dengan telapak gemetar
tersisa sehembis nafas
Ada suara membisik lirih
“Maaf itu ada di dasar samudera jiwamu
Ampun itu ada di puncak pelataran angkasa imanmu
Jangan mencari…
Jangan mengemis..
Cukup mengakui
Hanya mensyukuri
Lalu ambilah dengan sepuas-puasnya
dalam nafas terimakasihmu
Maaf dan ampun
itu milik asalimu
Itu anugerah Ilahi bagimu”
BACAAN LAIN
Menggapai Makna dari Tradisi Kubur – Menulis Kehidupan 240
Ini Alasan Mengapa Anda Masih Layak Berharap Pada Aset Kripto






