Dimasak dan disajikan senampan saat ada anak yang khatam Al Quran. Foto Heryus Saputro Samhudi
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
“Hmmm…, harumnya nyebar ke rumah tetangga, nih, Bang…! Teh Resti pasti lagi ngolah…, wuih…apaan tuuuh? Abang nyarap Nasi Kunyit, Nasi Kuning? Asyik banget. Jadi inget tempo doeloe, saat belajar ngaji Juz-Amma. Murid pengajian nyang udah khatam surat Al-Bayyinah, sama Emaknya biasanya dibawain senampan Nasi Kuning, dan kita makan bareng di teras langar, ye, Bang…!” kata Mak Wejang.
Mak Wejang benar. Dulu, saat belajar ngaji Juz-Amma (juz ke-30 sekaligus juz terakhir Al-Quran, yang berisi 37 surat pendek dan kesemuanya turun di Madinah, karenanya disebut surat-surat Madaniyyah), tiap ada di antara kami yang dalam belajar ngaji telah khatam atau selesai membaca Al-Bayyinah (QS.98 dari 114 surat dalam Al-Quran), orang tua si murid biasanya memang membawa nasi kuning untuk dinikmati bersama.
Kenapa begitu? Bisa jadi ini cuma tradisi berbagi para orangtua murid pengajian. Paling nggak, karena rasa syukur anaknya (yang Bengal) sudah mau belajar ngaji, dan sudah lumayan banyak surat dalam Juz-Amma (merangkum 37 buah surat pendek) hingga bisa sampai ke surat ke-21 dalam urutan surat-surat Juz-Amma, yakni suratAl-Bayyinah yang berarti: bukti.
Tapi ada juga gurauan anak yang bilang ini gegara surat Al-Bayyinah dimulai dengan kalimat “Lam yakunilazina…” yang dalam kepala saya serta teman-teman tempo itu, kalimat tersebut mengasosiasikan kata ‘nasi ulam, nasi kuning’. Maka berdasar anjuran para senior, saya ‘todong’ Ibu saya untuk bikin Nasi Kunyit alias Nasi Kuning setipa saya ngaji sampai di surat Al-Bayyinah. Ha…ha…ha…! Dasar anak…!
Balik ke Nasi Kuning atau Nasi Kunyit yang pagi ini saya santap mbari nyimak kisah inspiratif Mbak Belinda Gunawan di laman seide.id, ini memang bagian dari olahan Resti yang kebetulan sedang dapat order (rezeki jangan ditolak, Sis & Bro…!) pesanan dari sohibnya, yang kangen Nasi Kunyit. Ya, sudah. Resti bikin 2 panci. Sepanci di-gofood-kan ke pemesan, dan lainnya buat breakfast kami serumah.
Bagaimana mengolah Nasi Kunyit? Gampang banget. Bukan rahasia, berbagai resepnya sudah jadi domain public dan mudah di’klik’ di Google, YouTube, dan laman medsos lainnya. Tiap orang punya cara masing-masing. Juga Resti, istri saya. Dari kumpulan lembar catatan resep ragam kuliner, warisan para sesepuh, Resti mengolah Nasi Kunyit yang bikin saya acungkan dua jempol. Suer…!
Pertama siapkan seliter beras pera (beras pulen juga nggak masalah, sih…!) seperti digunakan Tukang Nasi Goreng pinggir jalan. Beras dicuci bersih, rendam sejenak biar teksturnya rada empuk. Ambil dan kupas 5 siung bawang putih, 5 siung bawang merah, 2 rimpang kunyit masing-masing seukuran telunjuk orang dewasa, tuangi secangkir air matang, lantas di-blender hingga jadi bumbu dasar encer-kental berwarna kuning.
Jerang minyak sayur di wajan atau penggorengan. Tuang bumbu kunyit-bawang cair ke wajan, oseng-oseng hingga menguar harumnya. Masukkan 3 atau 4 gelas santan kelapa. Oseng aduk hingga merata dan menyatu. Masukan pula kedalamnya beberapa ruas serehwangi yang sudah digeprek pangkalnya, 3 lembar daun salam, 2 atau 3 lembar daun jeruk purut yang sudah disobek-sobek halus.
Jangan lupa, tabur juga 2 atau 3 sendok teh bubuk garam. Aduk hingga menyatu dan rata, dan rasa harumnya kian menguar. Angkat dan sisihkan bumbu dasar tersebut. Tuang beras yang sudah disiapkan ke dalam wadah magic-jaar atau panci liwet praktis berdaya listrik. Tuang semua bumbu dasar cair yang juga sudah disiapkan ke dalam beras. Aduk rata, dan pastikan cairan bumbu menggenang sekira 1 ruas jari telunjuk.
Semua bahan di atas siap dimatangkan. Tapi seperti biasa, Resti memperkaya dengan beberapa tambahan protein. Kadang ditambahi oseng-oseng daging kambing, atau goreng ati-tempelo ayam, atau suwiran pindang ikan tuna, plus pete pembangkit selera. Tapi kali ini (maklum ekonomi dapur ikut pandemi, hi…hi…hi…!), Resti cuma menambahi Teri Medan tawar ke dalam olahan, dan mengaduk adonan hingga rata.
Tutup rapat magic-jaar. Tekan tombol ‘cook’ agar arus listrik mengalir. Tunggu sekira 10 menit hingga nyala tombol merah itu berpindah ke rombol ‘warm’. Tunggu beberapa menit agar uap panas dalam magic-jaar bisa lebih mematangkan nasi yang kadang masih aron. Buka tutupnya, biarkan sisa uap menguap. Aduk-aduk isi di dalamnya. Singkirkan daun salam dan ruas jahe. Nasi Kunyit Teri Medan siap dihidangkan.
“Jangan lupa, Bang, ditata dulu biar tampil cantik dan menarik, Nasi Kuning Teri Medan ditakup sama bokor kecil, ditaburi Goreng Bawang, Telur Dadar Iris Tipis, irisan ketimun, dan Sambal Ceremai,” kata Mak Wejang. Iya sih, pantasnya begitu. Seperti saat-saat ada beberapa sohib dekat ngumpul di rumah kami, atau waktu terima pesanan menu serupa untuk slametan Tujuhbelasagustusan di kampung sebelah. ***
22/08/2021 Pk 11:08 WIB






