Merenungkan Pembunuh dan Korbannya – Menulis Kehidupan 265

Foto : Stefan Schweihofer/Pixabay

Secara hukum positif, kasus pembunuhan adalah tindakan pidana. Secara agama, pembunuhan adalah kejahatan menghabisi hak hidup sesama dan melawan hukum Sang Pencipta. Ada juga cara pandang dalam kearifan adat budaya, dengan hukum adatnya. Ada ketentuan tentang pelaku pembunuhan dan korban pembunuhan.

Ada hal prinsip yang dilanggar yaitu hak dasar tentang hidup seseorang. Ada banyak kasus di seluruh dunia, juga di tanah air kita. Termasuk yang ramai terakhir ini, ada polisi yang mati di rumah polisi, diduga dibunuh secara bersama dan terencana. Proses penegakkan hukum sedang berjalan, semoga semua akan terang benderang secara hukum dan adil bagi pihak pelaku, korban, keluarga dan masyarakat. Merenungkan hal pembunuhan ini, saya tulis dua sajak: Sang Pembunuh dan Korban dan Darah Berteriak, Nyawa Menggugat

1.Sang Pembunuh dan Korban

Darah….
sudah menetes dan tertumpah
telah mengalir beku hilang
Darah korban
adalh darah Pembunuh
Sesama saudara alam

Daging korban
Terbujur kaku tanpa nyawa
terluka senjata tajam
memar patah benda tumpul
tersobek ditembus peluru
hangus dibakar api
hancur digilas disiksa
Raga korban
adalah raga sang Pembunuh
Sesama insan manusia

Nyawa
Hilang pergi berkelana
Tinggalkan raga
Merana, menagih, menggugat
pada langit angkasa
pada tanah bumi
pada nafas sang Pembunuh
Agar sadar dan mengakui
tindakannya tega membunuh
Apa pun alasan dan caranya
Lalu terima tanggungjawabnya
Nyawa mengikuti nafas Pembunuh
seperti udara bagi nafas

Darah mengalir
Tubuh tak bernyawa
Nyawa yang melayang
Kehidupan yang hilang dihentikan
Korban pembunuhan itu
adalah diri pribadi pembunuhnya
Sesama satu udara
Sesama satu darah
Sesama satu nyawa
Sesama saudara semesta
Sesama milik Sang Pencipta

Bisakah pembunuh bersembunyi
Mampukah pembunuh berbohong
Dapatkah pembunuh lari hilang
Menghindari nafas dan darahnya
Mengingkari nyawa dan tubuhnya
Membohongi jiwa raganya
Sampai kapan dan kemana ?

2. Darah Berteriak, Nyawa Menggugat

Aku kau dia mereka
Kita semua manusia
punya darah dan nyawa
Bukan milik pribadi kita
Tapi anugerah Sang Pencipta
dan
tak seorangpun meminta terlahir
Hidup ini tak ternilai
dengan uang harta pangkat
Semua pribadi sama harkat

Ketika berani habiskan nyawa
saat lancang tumpahkan darah
menghilangkan kehidupan sesama
Apa pun alasan dan caranya
Maka
sejatinya membunuh diri sendiri
menumpahkan darah pribadi
menghabisi nyawa  sendiri
Karena
darah korban berteriak ke langit
mengadu kepada Bapa Angkasa
nyawa korban menggugatmu pelaku
memohon kepada Ibu Bumi
wajah korban membayangi wajahmu
Engkau tak bisa sembunyi

Wahai kau pembunuh
yang tumpahkan darah korban
Berapa pun kata-kata ceritamu
tak mampu luputkan perbuatanmu
Wahai kau pembunuh
yang hilangkan nyawa korban
Barap pun uang hartamu
tak bisa selamatkan tindakanmu
Wahai kau pembunuh
siapa pun relasi kuasaMu
tak bisa gantikan kehidupan
yang sudah engkau habiskan

Wahai kalian pembunuh
Hanya ada satu jalan
Maafkan dan ampuni dirimu
lalu katakan sejujurnya perbuatanmu
Terima resiko tanggung jawabnya
Agar
damai nyawa  jiwa korban
tenang darah jasad korban
kehidupannya kembali  pada asalnya
Dan
sesama manusia kembali menerimamu
Alam kembali bersahabat denganmu
Sang Pencipta mengampuni dirimu

Perjuangan Hadapi Penyakit dan Ajal Menjemput – Menulis Kehidupan 264