Cerpen: Akhir Sebuah Konflik

Seide.id -Jangan buang kesempatan! Kini, saatnya kau beraksi! Mumpung sepi, dan gadis itu sendirian. Ingat, Ibumu yang sakit dan berbaring tidak berdaya itu butuh biaya besar. Apa yang kau tunggu dan pikirkan lagi? Toh, keluarga besarmu juga tidak peduli dan tidak membantu!

Untuk yang kesekian kali aku meragu dan tersiksa. Aku seperti membentur dinding tembok. Segala usaha dan cara yang aku coba untuk memperoleh pinjaman uang dari teman atau famili itu gagal. Bahkan teman atau famili seperti menjauhiku dan menghilang. Padahal, sewaktu hidup, Bapak dikenal murah hati. Banyak teman yang ditolongnya. Apa semua ini karena pandemi panjang, sehingga mereka berubah dan kesulitan?

Begitu pula dengan rumah warisan Bapak yang sulit dijual. Karena rumahnya besar dan halamannya luas. Sehingga, jika ada orang yang berani menawar, itu pun jauh di bawah harga njop dan pasaran. Sedang untuk digadai ke bank, Ibu tidak mengizinkan, karena tidak sanggup untuk membayar.

Kini, kesehatan Ibu makin membaik. Ada kemungkinan besok lusa Ibu diizinkan pulang ke rumah. Sebagai anak tertua, aku belum memperoleh uang untuk membayar biaya Ibu di RS. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Pikiranku suntuk-sesuntuknya. Di sisi lain, aku ingin memperoleh uang dengan cepat. Untuk berbuat jahat, hati kecilku melarang. Aku juga belum pernah melakukan hal yang tercela itu.

Aku bimbang-sebimbangnya. Tubuhku menggigil, tapi berkeringat dingin. Kuamati gadis belia yang sedang ke luar dari atm itu. Aku menelan ludah. Dan tanpa berpikir panjang lagi, aku melarikan motor ke arah gadis yang melangkah menuju mobil itu. Aku lalu menarik tas itu dengan kasar, sehingga ia nyaris jatuh. Aku membedal motor dengan cepat, dan menghilang masuk ke jalanan kampung.

Setelah merasa aman, aku mencari tempat untuk membuka tas itu. Hatiku lega melihat uang lembaran
ratusan ribu yang lumayan banyak. Aku lalu menuju rumah sakit untuk menemui Ibu.

Aku melihat Ibu sedang berbincang dengan lelaki baya, yang tidak lain adik almarhum Bapak, Oom SR yang tinggal di kota B. Dan tanpa sepengetahuan kami, Oom SR telah melunasi biaya Ibu selama sakit. Bahkan Oom titip simpanan hingga kepulangan Ibu beberapa hari ke depan.

Ketika asyik ngobrol, seorang gadis menuju ke arah kami. Hatiku terkesiap dan jantungku berdetak kencang, ketika mataku beradu pandang dengan gadis itu. Karena aku mengenali pakaian gadis itu. Secara samar, aku ingat wajahnya. Dan … ternyata gadis yang kujambret di atm itu adik sepupuku sendiri!

(Mas Redjo)

Cerpen: Isteri Untuk Suamiku

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang