Pratiwi Sudarmono, Ikon Perempuan Bidang Antariksa dari Bumi Pertiwi

Seide.id – Sejarah antariksa mencatat, 36 tahun lalu Indonesia pernah memiliki calon astronot perempuan kelas dunia. Ia, Pratiwi Sudarmono.

Pada 1985, Pemerintah Indonesia pernah menjalin kerja sama dengan NASA (National Aeronautics and Space Administration) dalam rangka misi Wahana Antariksa.

Rencananya, misi ini bakal dijalankan pada 24 Juni 1986 dengan menggunakan pesawat ulang-alik Columbia.

Misi ini bertujuan membawa tiga satelit komersial, yaitu Skynet 4A, Palapa B3, dan Westar 6S.

Palapa B3, sebut Christian Lardier dan Stefan Barensky dalam The Proton Launcher: History and Developments (2018), merupakan satelit milik Indonesia. Oleh karena iti, Pemerintah merasa perlu melibatkan astronot sendiri.

Pratiwi Pudjilestari Sudamono, ketika itu 34 tahun, terpilih sebagai wakil Indonesia dan akan berperan sebagai Spesialis Muatan untuk pesawat ulang-alik Columbia.

Misi dan perjalanan yang menantang

“(Ke luar angkasa) sesuatu yang sangat menantang waktu itu,” kisah Pratiwi pada 19 September 2020.

Alhasil, banyak sekali yang mendaftar. Mereka antara lain dari kalangan tentara, pilot pesawat pemburu, penerbangan Angkatan Laut, remaja, mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga. Namun, Pemerintah memprioritaskan ilmuwan.

Kementerian Riset dan Teknologi bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ketika itu kemudian mendiskusikan siapa ilmuwan yang tepat untuk melakukan misi penelitian di angkasa luar.

Muncul nama Pratiwi Sudarmono. Ia penerima gelar Master dari Universitas Indonesia pada 1977, dan Ph.D. dalam bidang Biologi Molekuler dari Universitas Osaka, Jepang, pada 1984

Nama peneliti di bidang genetika dan mikrobiologi serta pengajar di UI ini pun diajukan.

Pratiwi kemudian mengusulkan riset untuk melihat ketahanan fisik manusia di luar angkasa. Riset itu dilatarbelakangi cita-cita NASA menempatkan koloni manusia di luar angkasa.

Astronot

Pratiwi, kelahiran Bandung, 31 Juli 1952, mengalahkan 207 kandidat, termasuk 25 wanita. Ia pun menjadi a

Selain Pratiwi, ditunjuk pula Taufik Akbar. Insinyur telekomunikasi dari ITB ini akan mendampingi Pratiwi sekaligus menjadi awak cadangan dalam misi bertajuk STS-61-H, yang bakal diluncurkan dari Amerika Serikat tersebut.

“Yang berat itu mempelajari sistem kerja pesawat ulang-alik. Bagi saya, seorang dokter dan ahli laboratorium, cukup sulit,” tutur Pratiwi pada 19 September 2020, yang dikutil dari Antara.

Namun, impian Pratiwi dan seluruh rakyat Indonesia seketika buyar ketika, pada 28 Januari 1986, pesawat ulang-alik Challenger milik Amerika Serikat yang hendak menunaikan misi lain, yakni STS-51-L, meledak di udara.

Challenger meledak, hancur berkeping- keping, hanya 73 detik setelah diluncurkan pada ketinggian 15 atau 16 kilometer. Tujuh orang astronot menjadi korban, tewas. Dunia menangis.

Apa mau dikata…

Tapi, sekali pun karena tragedi tragis itu Pratiwi Sudamono, yang kini masih mengajar di UI, gagal ke antariksa, ia menjadi salah satu ikon perempuan antariksa kelas dunia dari Indonesia.

Pratiwi sudah menunjukkan perempuan bisa jadi apa pun layaknya laki-laki.

Selamat Hari Perempuan Internasional 2022.

Wapres Perempuan Pertama AS, Kamala Harris, Sosok Yang Mengguncang Dunia

About Ricke Senduk

Jurnalis, Penulis, tinggal di Jakarta Selatan