Hari-hari ini, cuaca begitu panas sekali. Orang menyebut panas ekstrem. Cuaca panas kali ini juga berkaitan dengan datangnya bulan Ramadhan. Sesuai namanya, Ramadhan berarti panas sekali atau terbakar. Jika anda saat ini berada di alam terbuka, cuaca sangat panas membakar tubuh. Mereka yang puasa, semakin berat oleh rasa dahaga yang sulit ditahan gegara panas ini. Para petani memerlukan perjuangan sendiri karena harus banyak menyirami tanaman mereka dan menjaga kelembaban di sekitar tanaman.
Ramadhan memiliki arti panas sekali berkaitan dengan makna tersembunyi yakni panas bagai neraka yang mengingatkan orang tentang pembakaran dosa-dosa manusia. Tetapi orang Indonesia yang biasa hidup dalam ilmu gathuk ( menghubungkan makna kata), ramadhan menjadi lebih relegius. Ini ilmu masyarakat yang disebut cocokologi.
Ramadhan dihubungkan dengan pemisahan kata RA ( Rahmat), MA (Maghfiroh) alias ampunan, DHA (dho’fu) yang artinya berlipat dan terakhir NA ( najihun minan naar) alias selamat dari panas neraka. Jika dihubungkan atau disatukan, akan menjadi Bulan pengampunan yang berlipat bagi mereka yang berpuasa dan dosa-dosanya akan terbakar alias dihapus. Itu jika artinya dicocok-cocokkan.
Kenyataan, saat ini cuaca panas sekali saat bulan puasa meneguhkan siapa yang kuat menjalani puasa, akan memperoleh kekuatan yang jauh di luar kebiasaan manusia. Puasa sendiri, dianjurkan oleh semua umat beragama, apapun keyakinannya.
Ramadhan berlangsung selama 29 atau 30 hari. Dan tanpa terasa, Ramadhan akan berlalu tiga hari lagi, muncul Idul Fitri. Hari mensucikan diri. Pertanyaan penting adalah; sudahkan kita menjalankan Ramadhan dengan baik sehingga kita lahir suci kembali ?
Orang berpuasa akan selalu memelihara diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Orang puasa sejak awal sudah meyakini untuk menjauhkan diri dari hal-hal buruk atau menyakiti orang lain. Tapi kita tahu, ada sekolompok orang seakan paling suci dengan melarang semua kegiatan masyarakat yang berbau pangan. Jika buka, akan dilabrak. Bahkan diporakporandakan. Apakah puasa kita berkenan jika mematikan kehidupan orang lain ? Kita berpuasa tapi perilaku kita terhadap orang lain malah lebih galak sebelum berpuasa, seakan orang lain itu harus tahu diri bahwa kita sedang berpuasa.
Orang puasa tak perlu memikirkan apakah orang lain puasa atau tidak, menghormati atau tidak, semuanya harus berjalan sescara alami. Alam membentuk karakter orang puasa, orang semedi, orang bertapa untuk menjadi sosok yang tegar, sabar dan menjadi pribadi lebih baik. Orang berpuasa melakukan tapa puasa sesuai tradisi, yang tidak puasa tentu memiliki alasan tersendiri seperti sakit atau alasan yang sangatg manusiawi.
Jika selama ini puasa kita dikotori oleh hal-hal duniawi atau justru berpuasa tapi berbuat kurang baik terhadap liyan, masih ada kesempatan tiga hari ke depan, sebelum ramadhan meninggalkan kita, puasa kita masih mendapatkan peluang untuk memperoleh manfaat dan pahala. Persis seperti kata Rasullulah SAW. “ Barangsiapa tidak menghentikan perkataan-perkataan dusta dan melakukan kedustaan itu, Allah tidak butuh dengan lapar dan haus “ ( HR Bukhari).
Puasa membentuk pribadi-pribadi yang senantiasa sabar menghadapi banyak hal seperti cuaca panas,, gangguan , musibah maupun godaan. Kuncinya adalah menjaga kesabaran, kerendahan hati dan memahami penderitaan orang lain.
Tiga hari lagi, Ramadhan berlalu, dan kita masih bisa mengehar Ramadhan agar puasa kita bermanfaat dan memperoleh kedamaian hati.
Tanpa Khusuk, Tanpa Godaan Asyiknya Dimana






