Mempermalukan anak karena rapornya buruk, ngompol di celana atau karena anak melakukan hal-hal yang kurang disukai orangtua, mungkin memang tidak membahayakan fisik sang anak, namun bisa berakibat pada kesehatan jiwa sang anak.
Dunia maya sedang ramai dengan gaya parenting suami istri influencer, yang membuat konten keseruan anaknya diajak berkegiatan ekstrem. Kabar terakhir malah dibuatkan artikel kritik oleh jurnalis media luar, dan yang terupdate keduanya meminta maaf atas konten tersebut dan berharap untuk tidak ditiru. Sayangnya, video juga tidak ditake down agar tak bercokol lagi di YouTube.
Kontradiksi teori pengasuhan serta teori kesehatan jelas banyak bermunculan setelahnya. Mulai dari Shaken Baby Syndrome yang membahas efek dan bahayanya mengguncangkan bayi, kritikan tentang kepentingan konten tanpa memperhatikan keamanan, kenyamanan dan keselamatan anak. Prihatin, sedih, jengkel, dan benci di kalangan netizen makin buram batasnya.
Saya, bukan di pihak yang menyetujui ataupun menghujat. Karena saya masih memvalidasi pernyataan, TAK MUNGKIN orang tua mau mencelakakan atau menyakiti anaknya. Apalagi ini untuk kepentingan sebuah konten. Untuk meningkatkan efek viral, bisa saja video dipotong dan ditampilkan bagian paling ekstrem. Bukankah semua kreator konten terbiasa seperti itu. Memotong yang tak perlu, menampilkan yang paling punya daya jual.
Mungkin terkesan membela ya, tetapi karena bahasan saya selanjutnya mungkin akan menampar tak hanya saya, juga orang tua yang lain.
Bermula dari sebuah Meme yang menampilkan ajakan untuk makin peduli dan memahami tindakan-tindakan orang tua yang MEMPERMALUKAN anak.
Apa lagi ini? Apakah saya, kita yang telah menyandang status orang tua (ternyata) membuat anak merasa dipermalukan?
Daniel Goleman, penulis fenomenal Emotional Intelligence mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini tindakan mempermalukan sering dipergunakan untuk menyiasati perilaku anak yang sulit, dan atau untuk mengatur yang tak bisa diatur.
Hal itu didukung penjelasan Dr Paul Eckman dari University of California. Rasa malu adalah hal yang paling personal dari emosi manusia, katanya serupa rahasia, rata-rata manusia belum mampu mengekspresikannya, malah menekannya seolah hal itu aib dan lebih baik tidak diketahui.
Tidak ada seorang pun lahir langsung memiliki rasa malu. Hal itu dipelajari, merupakan emosi yang sadar muncul sejak usia dua tahun ketika kemampuan bahasa anak mulai terlatih seiring pembentukan imej diri mereka.
Merasa malu, tidak sekonyong-konyong muncul setiap saat, tetapi lebih kepada situasi tertentu. Ini berarti ada subyek yang dipermalukan dan pelaku yang mempermalukan. Rasa malu makin meningkat, bila yang mempermalukan adalah orang terdekat, yang kita hormati, sayangi atau kagumi.
Jadi bisa dibayangkan bagaimana luka emosional pada diri anak bila kita sebagai orang tua, atau saudara kandung, guru, bahkan teman sebaya, mempermalukannya. Apalagi mengingat anak belum punya kemampuan untuk menghapus ingatan akan luka mental dari tindakan mempermalukan yang pernah diterimanya.
Hal-hal yang termasuk mempermalukan (meruntuhkan harga diri) anak.
Mungkin Anda bertanya-tanya, setelah membaca tentang teori psikologi dan pengasuhan di atas. Saya sudah menjadi role model dengan sebaik-baiknya, tidak melakukan hal yang melanggar baik norma sosial, moral dan hukum; bagaimana mungkin dituduh atau diasumsikan mempermalukan anak?
Coba lihat uraian berikut.
Sikap dan tindakan mempermalukan anak, umumnya berupa ungkapan verbal, langsung dan tidak langsung dan segera menyematkan imej buruk pada diri anak. Jarang atau tidak pernah terjadi sikap mempermalukan itu malah mendorong mereka untuk bersikap dan berperilaku yang diinginkan, atau menjadi lebih taat aturan dan normatif.
Penjelasan lebih dalam akan saya sajikan dalam contoh kasus.
1. Merendahkan
Ketika anak belajar makan, mungkin anak sedang merasakan sensasi mengendus atau menjilat makanan atau minuman yang baru diperkenalkan langsung dari piring, dan karena panik bila hal itu dilihat orang, kita seketika merespons,
“Nak, kok makanan diendus atau dijilat gitu. Cuma hewan yang melakukannya.”
Bukankah tanpa menunjuk bahwa hal itu perilaku hewan, kita bisa merespons dengan, “Enak ya bau masakannya, rasanya gimana setelah kamu coba. Coba yuk cicipi dengan sendok.”
2. Mempertanyakan moral
Ketika anak diajak ke tempat ibadah, alih-alih mencontohkan bagaimana bersikap; kita segera mengkritik sikap anak yang sepertinya tidak menghormati. Misal, karena terlalu senang di tempat baru, anak spontan lari-larian. Respons kita, “Kamu bikin malu saja, anak baik tak berlaku kayak gitu. Nanti Tuhan nggak sayang.”
3. Mempermasalahkan usia, berharap dia berperilaku ‘dewasa’
Di tempat bermain, anak konflik dengan temannya. Keduanya menangis. Alih-alih berusaha mengajak ngobrol untuk belajar menyelesaikan masalah, kita malah memarahinya. “Kamu udah bukan bayi. Malu … udah besar, nggak ada itu berantem terus nangis. Papa nggak ngajarin gitu.”
Padahal anak tersebut baru saja berulangtahun yang kelima minggu lalu, tetapi diharapkan sudah berlaku lebih dewasa dari usianya.
4. Mempertanyakan jenis kelamin
Di tempat klub sepakbola yang sama sekali baru, timbul kecemasan pada anak lelaki kita. Mungkin karena harus mulai berteman, baik dengan sebaya maupun kakak pelatihnya. Namun, bukannya memotivasi dengan baik, yang keluar dari mulut adalah, “Kok kayak cewe kamu. Jadi lelaki nggak boleh kayak gitu. Ayo jangan bikin malu Ayah!”
5. Membanding-bandingkan dengan diri orang tua, saudara kandung atau teman
Di sebuah kompetisi balet, sang anak perempuan bungsu sudah berusaha keras percaya diri maju bertanding. Namun, yang didapatkan dari ibunya, “Ingat, Mami dulu selalu mendapat peringkat dua besar. Kakakmu juga selalu jadi juara. Kamu nggak boleh lebih rendah dari kami. Anak-anak perempuan di keluarga besar kita selalu diperhitungkan lawan. Tunjukkin itu.”
Atau ketika di sekolah saat pengambilan rapor. “Bikin malu aja nilainya. Ibu putus asa lihat angka di rapormu.”
Membanding-bandingkan tak selalu juga dalam hal prestasi. Kesopanan atau kepatuhan anak akan norma, juga sering menjadi bahan untuk mempermalukan.
Ketika diajak ke tempat umum, mungkin pernah anak kita di usia PAUD pipis atau pup di celana. Tindakan seharusnya adalah segera membawa ke toilet dan membersihkannya. Menegurnya bisa merupakan tindakan susulan.
Namun, karena panik, tak jarang orang tua segera merasa perlu memberi pelajaran.
“Kenapa ngompol? Kenapa nggak ngomong kalau mau ke toilet. Duh, kok kamu begitu. Ini bikin malu dan repot, orang-orang ngeliatin kita. Dulu kakakmu nggak kayak gitu.”
6. Melimpahkan kondisi mood orang tua yang sedang tidak bagus sebagai tanggung jawabnya
Karena orang tua sedang dalam kondisi kelelahan, tak jarang kesabaran mengasuh dan mendampingi anak setipis kertas. Sehingga tak sadar kita menyalahkan semua perilaku anak yang menyebabkan kita seperti itu. “Liat nih, gara-gara perbuatanmu, Mama jadi dimarahi Papa. Terus Papa jadi nggak mau ngomong sama Mama. Jadi anak kok nakal sekali!”
Saya tak sepenuhnya yakin, anak akan paham betul tentang situasi ini, dan mungkin saja memiliki perasaan bersalah terus menerus akan konflik keluarga sampai ia dewasa.
Mempelajari contoh kasus itu, yang mungkin disadari atau tidak pernah kita lakukan, sekali atau dua kali; mungkin akan membuat kita berpikir lebih lanjut untuk menghujat, mengkritik pengasuhan orang tua lain.
Kita memang tak membahayakan fisik anak kita, tak melakukan kekerasan misalnya; tetapi apakah kita sudah pernah mengevaluasi. Apakah kita sudah memelihara kesehatan jiwanya, dengan menjaga lisan dan tidak sembarang berkata-kata kepada mereka.
Tak ada sekolah menjadi orang tua ideal, tetapi tak berarti kita tak bisa belajar untuk terus berproses menjadi orang tua yang baik.
Bukan yang ditakuti, tak melulu 100% sempurna; tetapi selalu terbuka, bisa diajak berdiskusi apapun topiknya, termasuk bisa mengevaluasi diri dan mengaku salah ketika keliru.
Sungguh deh, anak-anak akan belajar banyak, melihat orang tuanya mau belajar dan berusaha.
Mari!






