Reza Artamevia dan Maia Estianty Foto Instagram
@maiaestiantyrealSEMBARI NGOPI
Dua perempuan tangguh, Reza Artamevia dan Maia Estianty, mengunggah foto berdua mereka di Instagram @rezaartameviaofficial dan @maiaestiantyreal. Di usianya yang tak lagi belia, keduanya tampak bugar dan tak kehilangan kecantikannya.
Maia menulis, “Jangan pernah takut/malu untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki diri, quote dari Sang Diva! Sharing kehidupan dengan teman lama, kenal dari masih kuliah dan sampai saat ini anak-anak kita pun masih main bareng. Terima kasih teteh Diva. Mengenang masa lalu dan masa kini. Cerita kehidupan dari berdiri, jatuh, berdiri, jatuh sampai akhirnya berdiri bangkit lagi. Hebat, Rez. MaasyaAllah…”
Dan Reza menulis, “Makasih juga Mai, sudah bersedia sharing waktu dan pengalamanmu yang juga sangat luar biasa serta berhasil memberi insipirasi dan menjadi influencer yang hebat untuk kita semua khususnya kaum wanita dan generasi muda. MaasyaAllah.”
Foto dan kalimat mereka berdua, mengingatkan saya pada peristiwa tahun 2004, ketika saya menulis skenario dan menyutradarai FTV Perangkap Perkawinan. Pemerannya Reza Artamevia, Derry Drajat, Otig Pakis, Cornelia Agatha. Produsernya Arswendo Atmowiloto dan ditayangkan TV7 yang sekarang Trans7.
Sejak masih syuting, media sudah ramai memberitakan. Dalam wawancara dengan tabloid Nova, saya sebutkan bahwa Perangkap Perkawinan berangkat dari kisah nyata yang dialami Reza. Akibatnya, ketika Perangkap Perkawinan siap tayang, saya, Mas Arswendo dan TV7 mendapat somasi dari tiga pengacara terkemuka, antara lain Elza Syarief dan Ruhut Sitompul yang mewakili mantan suami Reza yang kini almarhum. Tapi, Perangkap Perkawinan tetap tayang. Meskipun tidak ada tuntutan hukum, Reza memilih “menghilang” di padepokan Gatot Brajamusti.
Pada 2006, saya diminta majalah Violet milik Eko Patrio untuk mewawancarai Maia dan Mulan yang eksis sebagai Ratu. Saat itu, lagu-lagu yang dinyanyikan Ratu sedang hit. Ada pertanyaan saya yang tampaknya sulit dijawab oleh Maia, yakni, “Kalau Ratu kenapa dua? Bukankah Ratu seharusnya hanya satu?” Sampai akhirnya realitas faktual yang kemudian menjawabnya.
Saya menaruh hormat kepada Reza dan Maia, perempuan tangguh dan unggul. Perempuan yang mampu menghadapi dan mengatasi perangkap perkawinan untuk menjadi ratu di istananya masing-masing. (hartjah)




