Teladan Kerendahan Hati Seorang Pemimpin Rohani sampai Ajal – Menulis Kehidupan 267

Foto : Joe/Pixabay

Beberapa waktu lalu, seorang pemimpin rohani meninggal dunia. Semasa hidupnya hingga menjadi pemimpin rohani di wilayah Keuskupan, Mgr. Hubert Leteng, Pr. berjuang setia menjaga teladan hidup sahaja, jujur dan renda hati.

Ketika menghadapi persoalan dari para pastor dan umat yang dipimpinnya, almarhum tetap rendah hati dan memilih untuk berkorban mundur dari tugas jabatan, demi kedamaian umatnya. Teladan kesahajaan, kejujuran dan kerendahan hati itu, kemudian baru disadari pada saat beliau dijemput ajal. Sejatinya, kita manusia tidak pantas saling mengadili, apalagi mengorbankan satu orang demi kepuasan kita yang jumlahnya lebih banyak, bukan atas dasar kebenaran. Untuk mengenang teladan almarhum, saya tuliskan sajak pada hari Posesi kedukaannya. Sajak berjudul :

Sang Pendosa Jujur itu Dijemput Ajal

Lembaran angin dicatat waktu
Semua sejarah hidupmu
Jejak-jejak desah nafasmu
Catatan jari jemari tanganmu
Lukisan suara senyummu
Potret karya amal bhaktimu
debu lumpur khilaf dosamu
Juga semua misteri pribadimu

Sudah tergenapi kebiasaan insani
Satu kesalahan lebih diingat
dibanding seribu kebaikanmu
Satu khilafmu disiar sebarkan
dibanding ribuan amal bhaktimu
Lalu
Sang Waktu dia merekam
tanpa mengurangi atau menambah
tanpa mengadili menghakimi
Karena
setiap pribadi manusia berharga
membuat keputusan pilihan
lalu melakukan dengan bebas
dan nanti memanen hasilnya

Tugas akhirmu sebagai gembala
Dipercaya memimpin umat gereja
Dan
Ketika dipermasalahkan sesama
dirimu ada khilaf salah
Maka engkau memilih mundur
dari tugasmu sebagai gembala
agar yang mempermasalahkan puas
dan engkau diam menyendiri
Menulis lembar jiwa raga
dengan kata apa adanya
Entah seorang pendosa
Entah seorang penjahat
Entah seorang korban
Entah apa pun judulnya
Tapi
Engkau jujur rendah hati
Tinggalkan tugas kepercayaan
agar semua bisa terpuaskan
meskipun berat dan menyakitkan

Selamat jalan Sang Pendosa
Selamat berpulang sosok jujur
Selamat bertemu Sang Pencipta
Yang paling mengenal dirimu
MataNya Maha Melihat
KasihNya Samudera kerahiman
CintaNya Mata Air Kehidupan
DarahNya Maha Kasih abadi
Beristirahatlah dalam damaiNYA
Kraeng Tua….
Mgr. Hubertus Leteng

Merenungkan Pembunuh dan Korbannya – Menulis Kehidupan 265