Ada sekitar 60-70 variasi baru bahasa Inggris di penjuru dunia sejak tahun 1960-an. Hal ini dipicu oleh semakin gencarnya kontak dan pencampuradukan antara bahasa Inggris dan muatan bahasa lokal, kata David Crystal – Ahli bahasa dari Inggris
Oleh DIMAS SUPRIYANTO
PERKARA yang muncul kerap saat bertandang ke negeri seberang adalah komunikasi dalam bahasa penghubung, ‘wa bil’ khusus bahasa Inggris. Bahkan sebagai sesama Melayu, di negeri jiran Asia Tenggara, kita repot menghadapi aksen dan lafal yang berbeda, di antara pengucapan Inggris versi Jawa, Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei.
Tak semua petugas imigrasi – pihak pertama yang kita jumai saat berurusan dengan orang asing – beres bahasa Inggrisnya. Banyak petugas dari India di bandara Singapura dan Kuala Lumpur yang ngomong seperti di film itu, sambil geleng geleng kepala – yang khas sebagai “Hinglish” (Hindian English). Belum lagi saudara kita, China Singapura yang sudah melekat dengan “Singlish” (Singapore English)nya.
Menjadi kelaziman selama ini, bila lawan bicara mendadak kebingungan, maka segera menyampaikannya, atau mendahului dengan pernyataan maaf, “I’m sorry my English is not good” (maaf, bahasa Inggris saya tidak bagus). Atau “Sorry if my pronunciation is not clear” (maaf jika pelafalan saya kurang jelas”).
Pernyataan paling canggih dan tembak langsung adalah, “Sorry for my broken english” (Maaf bahasa Inggris saya patah-patah ) mengingatkan pada goyang pedangdut Dewi Persik, Si Goyang Patah patah.
Saya termasuk yang sering omong seperti itu, disebabkan aksen bawaan “Ngapak Banyumas” saya tak kunjung hilang. Gak ketulungan. Meski lidah sudah merasai hamburger, hot dog, spagheti bolognise, Sirloin bahkan Tenderloin Steak – sudah menyesap red wine dan nenggak Whiskey Cola. Tapi aksen ngapak saya gak ilang ilang.
Mungkin karena panganan dan minumen bule yang sukses masuk lambung itu, hasil dari traktiran, bukan bayar sendiri. Kutukan bawaan si English Medok ini kadang bikin minder.
Billy Nathan Setiawan, PhD – Candidate in Applied Linguistics, University of South Australia, menghibur saya dengan menyatakan, “Anda tidak sendiri!”.
Tentu saja. Presiden gue aja gitu bahasa Inggrisnya, saya menyela.
Di laman ‘Conversation’ Billy membahas khusus perihal ini – baru baru ini, dengan menegaskan, kita harus berhenti meminta maaf atau merasa minder ketika berbicara bahasa Inggris dengan aksen kita sendiri. Sebab, sememangnya – ada banyak variasi bahasa Inggris di dunia.
“Banyak dari kita yang terlalu fokus pada aksen native speaker seperti aksen Amerika Utara, Inggris, atau Australia ” katanya. Faktanya, bahasa Inggris tidak lagi digunakan untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari negara tersebut saja. Globalisasi telah memicu penyebaran bahasa Inggris ke negara-negara yang secara tradisional tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama mereka.
Mengutip pernyataan David Crystal – Ahli bahasa dari Inggris, dia memperkirakan ada sekitar 60-70 variasi baru bahasa Inggris di penjuru dunia sejak tahun 1960-an. Hal ini dipicu oleh semakin gencarnya kontak dan pencampuradukan antara bahasa Inggris dan muatan bahasa lokal.
Beberapa contoh variasi “World Englishes” (bahasa Inggris dunia) ini antara lain “Singlish” (bahasa Inggris ala Singapura), “Spanglish” (percampuran bahasa Inggris dan Spanyol), “Chinglish” (bahasa Inggris dan Mandarin atau Kanton), dan “Taglish” (bahasa Inggris dan Tagalog di Filipina). Ada lagi Inggris aksen Italia dan Russia.
Dia juga menunjukan peta global, ikhwal beberapa variasi bahasa Inggris di dunia, merujuk pada The Times Educational Suplement (TES)
Crystal memperkirakan bahwa jumlah penutur asli bahasa Inggris (sekitar 400 juta) berada jauh di bawah jumlah orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (sekitar 800 juta) atau sebagai bahasa asing (lebih dari 1 miliar). Artinya, aksen berbicara ala native speaker tidak lagi relevan untuk dijadikan acuan tunggal.
Billy menyatakan, dengan merasa minder ketika berbicara bahasa Inggris dengan aksen kita sendiri, secara tidak langsung kita mendukung praktik ‘linguistic imperialism’ (penjajahan bahasa).
Saya punya pengalaman tak menyenangkan, saat jumpa pers bareng Cinta Laura Kiehl di Jakarta – beberapa tahun lalu. Dengan sengaja yang menegaskan kemedokan saya dalam mengacukan pernyataan untuknya, dan satu gedung langsung menjerit, ”Huuu…udah pakai bahasa Indonesia aja! Dasar Jawa kowek, medok! ” jerit mereka.
Ada kesombongan mereka di sini – yang merasa sudah “was-wes-wos” bahasa Inggrisnya di forum publik – terhadap orang yang masih “blekatak blekutuk” seperti saya. Saya merasa ternista. Terdzalimi.
Padahal, saat di New York, bareng Bre Redana (“Kompas”) , yang bahasa Inggrisnya beraksen Salatiga, si “Inggris Ngapak” ini bisa ngobrol panjang dengan orang orang Hispanik (kaum yang beraksen Spanyol) yang nongkrong di taman dekat hotel tempat kami nginap. Saya ngobrol juga dengan pekerja Korea yang masih ribet bahasa Inggrisnya. Tapi kami bisa bercanda.
Di Cannes Film Festival, Prancis, pertanyaan saya “clear” dipahami moderator jumpa pers dan dijawab seperti yang saya sampaikan. Saksinya masih hidup, Arya Gunawan – jurnalis eks “Kompas” yang waktu itu meliput untuk BBC. Orang Eropa lebih toleran terhadap si “blekatak blekutuk” ini – ketimbang kaum sawo matang Jakarta yang merasa sudah piawai ber-British dan ber-American-ria.
Profesor ilmu bahasa, Robert Phillipson mengartikan “linguistic imperialism” sebagai eksploitasi ideologi, budaya, dan kekuatan elit bahasa Inggris untuk keuntungan politik dan ekonomi negara-negara penutur asli bahasa Inggris.
Dalam praktik “linguistic imperialism” ini, variasi tertentu yang umumnya dari Amerika Utara, Inggris, dan negara native speaker lainnya dijadikan standar berbahasa.
Hal ini memicu ketimpangan di mana berbagai variasi bahasa Inggris lain di luar negara ‘native speaker’ dianggap inferior, pasif, dan mudah didominasi.
Mengutip Porter dan Garvin, guru bahasa Inggris pun sejatinya tidak perlu berupaya mengubah aksen murid mengikuti standar ‘native speaker’ – hal ini bisa merusak identitas dan jati diri mereka. Di luar kelas, bahasa Inggris tidak lagi digunakan untuk berkomunikasi dengan native speaker semata, tetapi sebagai “lingua franca” (bahasa penghubung) dengan masyarakat dunia lainnya yang bukan ‘native speaker’.
Hal ini semakin penting untuk diperhatikan mengingat bahasa yang kita gunakan juga merupakan ekspresi identitas kita sendiri.
Bahkan, tidak tertutup kemungkinan bahwa di masa depan, kita pun akan punya variasi “Indoglish” (pencampuran bahasa Inggris dan Indonesia) atau bahkan aksen “Javlish” (bahasa Inggris dengan aksen Jawa).
Sedangkan saya nampaknya masuk dalam varian baru yang juga bakal mendunia yaitu “Paklish” (Ngapak English).
Semoga. ***






