Bathi Mulyono (Foto Herman Wijaya)
Oleh HERMAN WIJAYA
Budi Mulyono alias Bathi Mulyono, biasa dipanggil Pak BM, tak mampu menyembunyikan kekesalannya. Pemaparannya yang tenang dengan bahasa yang memukau di awal diskusi, tiba-tiba meninggi.
“Para copet, maling, atau penjahat jalanan lainnya, berbuat jahat karena terpaksa. Mereka perlu hidup, keluarganya perlu hidup, sementara mereka tak punya pekerjaan lain. Kalau mereka punya pekerjaan, mereka tidak akan berbuat kejahatan! Tapi lihat itu pejabat-pejabat yang sudah digaji besar, dapat fasilitas mewah, masih terus saja korupsi! Menggarong uang rakyat!”
“Para penjahat jalanan itu dihabisi! Dibunuh! Mayatnya dibuang di pinggir jalan, di jurang atau tempat-tempat yang tidak layak! Sedangkan para pejabat yang korupsi masih dikasih tempat yang enak di tahanan, bisa menikmati hidup dengan layak, kalau ke luar hartanya masih banyak!” papar Pak BM dalam Diskusi Publik secara virtual yang diadakan oleh Universitas Negeri Semarang (UNES), pada Kamis, 23 September 2021.
Lelaki 74 tahun itu tak dapat menahan emosinya bila memaparkan pengalaman pahit yang dialaminya, dan juga orang-orang jalanan yang dihabisi oleh aparat di masa Orde Baru, yang kemudian dikenal dengan peristiwa Petrus (Pembunuhan Misterius). Selain nyaris jadi korban, ribuan anggotanya kehilangan nyawa dalam operasi pembersihan penjahat di masa Orde Baru.
Ketika itu Pak BM adalah Ketua Yayasan Fajar Menyingsing, organisasi massa yang anggotanya mantan residivis dan pemuda di Jawa Tengah. Selain itu, Pak BM juga menjadi penasihat di Prems (Preman Sadar), organisasi massa yang anggotanya mantan preman di Jakarta. Dalam peristiwa Petrus, pentolan dan anggota Prems juga banyak yang dihabisi oleh aparat.
Dalam outobiografinya Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya yang ditulis oleh Ramadhan KH, Presiden Soeharto mengatakan, Petrus ditujukan untuk mencegah kejahatan seefektif mungkin, dengan harapan menimbulkan efek jera. Akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan tidak semua korban Petrus adalah penjahat. Pak BM menyebutkan beberapa nama korban yang dalam keseharian tidak melakukan kejahatan. Ada pedagang koran di terminal, ada seorang aktivis gereja. Orang baik-baik yang bertato ketika itu bisa saja jadi korban.
Setelah terjadi silang pendapat dan tekanan internasional, operasi Petrus dihentikan pada tahun 1985. Ada seribu lebih korban jiwa. Menurut KontraS, korban terbanyak terjadi pada tahun 1983, yakni 781 orang dibunuh!
Operasi pembunuhan misterius yang dilakukan pemerintah untuk sementara memang berhasil mengurangi kejahatan di jalanan. Tetapi yang perlu dipertanyakan, jika operasi tersebut terus dijalankan, apakah kejahatan benar-benar habis? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang terpaksa melakukan hal itu karena tidak menemukan jalan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya? Bisa jadi kejahatan akan semakin canggih, dan penjabat akan semakin kejam. Dibunuh atau membunuh (Kill or to be killed).
Penjahat berdasi!
Sementara tindakan kejam dilakukan terhadap penjahat para kriminal dan penjahat jalanan, para penjahat berdasi dan penggarong uang rakyat, jauh lebih enak nasibnya. Kelompok penjahat seperti ini akan menjalani proses hukum yang wajar, dan kemudian mendapat hukuman yang mengusik rasa keadilan rakyat.
Apalagi pada masanya berkuasa, Soeharto banyak memberikan fasilitas berusaha untuk kroni dan anak-anak sendiri, yang malah merugikan rakyat banyak. Hutan Kalimantan habis dibabat oleh pengusaha kayu lapis yang mendapat konsesi dari pemerintah; Bisnis cengkeh dikuasai oleh pengusaha yang berafiliasi dengan Cendana, dan belakangan anak Presiden Soeharto sendiri menjadi Ketua Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang memonopoli pembelian cengkeh di tanah air, dengan menentukan harga pembelian sehingga harga cengkeh hancur.
PT Bimantara melalui PT Rajasri Sejahtera (RS) memiliki peran penting dalam tata niaga jeruk. Perusahaan tersebut memperoleh kutipanharga dari setiap jeruk yang diperdagangkan. PT RS mendapat jatah 10% dari harga jual, dan sewa gedung plus ongkos bongkar muat Rp 1500 per kilogram jeruk yang akan dilempar ke pasar. Akibatnya harga jeruk anjlok, jeruk Pontianak yang terkenal itu bahkan menghilang karena penduduk enggan menanam jeruk lagi.
Bisnis anak-anak Pak Harto memang merajalela di tahun 90-an. Tetapi kroni-kroninya telah menguasai bisnis jauh sebelum itu. Apa dampak bisnis yang mereka lakukan? Lihatlah kondisi Pulau Kalimantan saat ini, juga dengan pamor jeruk di Kalimantan dan cengkeh yang meredup di Sulawesi. Kroni-kroni Orde Baru masih tetap menguasai bisnis dan perekonomian sampai hari ini.
Berbeda dengan nasib para penjahat jalanan yang harus merelakan tubuhnya jadi bulan-bulanan masyarakat atau aparat, tidak jarang nyawa melayang di jalanan, para penjahat berdasi masih tetap menjalani kehidupan yang nikmat – kecuali kebebasannya yang tersita.
Sampai saat ini tidak ada penjahat berdasi yang menjalani hukuman maksimal, atau divonis mati. Apalagi diperlakukan seperti penjahat jalanan. Di penjara, para penjahat berdasi itu masih bisa menikmati hidup. Karena mereka bisa membayar kemewahan yang dibutuhkan!
Setiap rezim yang berkuasa selalu tak berdaya menghabisi kejahatan berdasi. Dalam setiap kampanye presiden kita hanya mendengar janji para calon untuk memberantas korupsi, namun tidak pernah bisa membuktikan janjinya ketika berkuasa.
Undang-undang Pembuktian Terbalik, yang dianggap sebagai obat ampuh memberantas korupsi, tak pernah bisa diwujudkan. Karena eksekutif dan legislative yang mempunyai tugas membuat undang-undang, akan jadi korban pertama jika UU itu terwujud. Begitu pula yudikatif. *






