Cerpen: Empat Musim

Jay, kutunggu balasan surat keseratus yang kukirim untukmu. Merpatiku terbang membisu menembus cakrawala, kepaknya yang gagah dengan moncong kosongnya tak sedikit pun memberi tanda kalau kau punya sedikit rindu yang kutunggu di batas keluhku. Di mana kini kau Jay? Rindu yang kukirim bersama desauan angin senja tak sedikit pun memberi makna yang bisa mengganti masa dalam kenanganku tentang kau. Jay, seandainya saja aku bisa, ingin kuhapus semua kenangan yang telah terajut dalam empat musim bersama desaunya nyiur-nyiur yang berpagut dengan pelangi senja .

Di sini empat musim berlalu, aku menyongsong usia bersamaan dengan guratan-guratan derita yang kuterima dengan lapang dada, di sini dengan tubuh ringkihku kutunggu kau selama empat musim bersama cinta yang menumpuk diiringi lintasan keluhku. Aku tetap menunggumu Jay, menanti janji yang kau ucapkan melalui bibir birumu yang mengecup bibirku dengan perlahan, sendu dan penuh keheningan. Jay, andai saja bisa kuberikan bongkahan hatiku, atau andai saja kalimat-kalimat cinta penuh getar bisa kau tangkap melalui desahku, kau akan mengerti bahwa di sini aku menunggumu, aku menunggumu bersama empat musim yang datang tanpa ada tanda-tanda kau akan menemuiku.

Kuterima takdirku Jay, kuterima apapun yang kau ciptakan tanpa ada harmoni indah yang bersarang di tiap empat musim itu. Aku tahu orang lain akan menganggapku bodoh. Tapi itulah aku, di musim terakhir meski aku tak pernah menerima surat darimu, aku memelihara kebodohanku dengan tetap mengamati merpatiku melanglang di angkasa dengan moncong terselip surat balasan darimu. Tapi moncong sang merpati tetap kosong, kau membisu, kau tak bergeming dengan kalimat-kalimat penuh ratap yang kurangkai hati-hati bersama tetesan air mata yang mengalir tanpa daya di kedua pipiku, aku ingin memanggil dengan lantang namamu.

Ya, aku memang cengeng Jay. Tapi tahukah kau, di balik air mataku yang kerap mengalir tepat di remangnya malam, ingin kuucapkan sebuah berita yang mungkin saja akan membuatmu bahagia. Di empat musim ini, kau tahu Jay, geliat itu kian menguat dan aku bahagia mendengar tendangannya bersamaan dengan turunnya embun pagi di atas rerumputan. Kau ingat Jay, tatkala empat musim sebelumnya, kukatakan aku mencintaimu dan kau dengan tawa tak bermakna menyambut ucapanku. Di situ aku tahu bahwa aku telah bertepuk sebelah tangan. Kau hanya datang bagai elang pemangsa yang menggerogoti bangkai dengan tandas tak bersisa. Kau tak tahu betapa pedihnya hatiku. Kubalut ragaku yang telanjang dengan hati perih namun bahagia. Aku tahu penyerahan diri itu berpagut dengan lukisan abstrak yang aku sendiri tak tahu apakah kau mengerti atau tidak akan isi hatiku yang terdalam.

Jay, empat musim telah berlalu…

Jika kau kembali melihat perubahan yang nyata, aku rasa kau akan tahu bahwa aku menjaga kemurnian cintaku dengan air mata, caci maki, dan cibiran. Aku tak berharap banyak, aku hanya ingin berkata padamu dan pada dunia, kalau cinta sejati itu masih ada. Entah kau mengabaikannya atau tidak, aku tetap bertahan dengan pendirianku, aku tetap bertahan dengan tekadku, aku tak peduli mereka bilang aku bodoh. Menunggumu hingga batas penantianku berakhir. Itulah diriku.

Jay, bila kau tak mau menemuiku, akan kulalui malam panjangku dengan memandang langit malam yang bertaburan bintang. Kau tahu, di sana kuberharap melihat wajahmu hanya selintas. Kau juga perlu tahu, dalam temaramnya malam, aku bersolek dengan sempurna bagai menunggu seorang suami yang pulang kerja dengan membawa keringat letih di tubuhnya. Aku terus berdandan di malam-malam penantian yang tak berujung itu. Aku menunggumu dalam nuansa jingga langit malamku yang tak bertepi.

Jay…

Di musim terakhir ini jika kau tak membaca suratku, aku hanya bisa berpesan lewat suara kalbu dan desauan angin malam. Sayangku Jay, andai penyakit kanker hati laknat ini telah memasuki stadium yang keempat, kuingin kau tahu, bahwa aku selalu mencintaimu, aku selalu menjaga benih yang kau tanam di rahimku. Jika ia lahir, kuharap kau telah menerima suratku. Selamat tinggal Jay, kasihku selalu menyertaimu…


Jay membaca surat itu…

Merpati putih telah memberinya bersama hembusan angin senja yang lamat-lamat merebakkan aroma melati di sampul surat itu. Air mata Jay mengambang. Terkenang kembali ia akan empat musim yang telah lewat. Masa itu, bukan tak mau ia memberi sedikit asa pada Karmila, pada kekasih pujaannya. Tidak Karmila! Jangan katakan aku mengabaikanmu. Bersama empat musim aku terus menunggu dan mencari celah yang pasti untuk bisa menemuimu, untuk membawamu mencari kebahagiaan yang kita harapkan. Meski benteng itu tetap menjulang, meski dayaku hanya mampu menatapnya dengan sisa-sisa tenaga yang berbalut luka, aku masih yakin Karmila, aku masih yakin bisa menjumpaimu di balik sana. Jangan, jangan kau resah dan menyatukannya dengan imajinasimu yang hampa, yang menduga bahwa cintaku hanya sebatas angin senja yang tertiup perlahan dan musnah. Aku adalah lelaki, lelaki penuh cinta yang selalu mengenangmu dalam setiap sendi-sendi ragaku.

Karmila… keluh Jay sambil meremas surat putih penuh tetesan gerimis yang ada di tangannya. Andai saja kau tahu, andai saja waktu bisa bergulir mundur, sesungguhnya detak jantungku berdebar kencang menanti rautmu dari balik jendela kamarmu. Kaulihat Karmila, dalam remangnya rembulan, wajah putihmu yang cantik bagai menyimpan duka bercampur lara yang tak bertepi. Kau tahu sayang, jika saja kalimat ancaman itu tak tercetus dari bibir ayahmu, aku akan selalu setia ada di sisimu.

“Anak yang lahir tanpa Ayah, adalah aib yang tak termaafkan untuk keluargaku. Carilah Ayahmu, minta padanya selembar akte kelahiran agar kau menjadi anak yang sah. Jika tidak, kau tetap anak haram, dan aku tidak sudi menikahkan puteriku dengan anak haram, anak yang dilahirkan dari seorang pelacur, anak dengan banyak lelaki yang bahkan Ibunya sendiri tidak pernah tahu benih yang mana dari sekian ratus lelaki yang telah menukik di tubuhnya!” gelegar ayahmu.

Pedih Karmila… meski cintaku tak lekang oleh batasan aturan yang dibuat bersama ego yang ada di benak ayahmu, meski aku merintih bersama jeritan pilu di batinku, meski aku tak ingin meninggalkanmu, itulah keputusan yang harus aku lakukan. Aku memenuhi permintaan ayahmu. Sungguh, aku tak berniat meninggalkan benih yang telah kusiram dengan hasrat cinta dan geloraku. Sungguh aku tak tahu kalau kau akan menerima semua akibatnya, maafkan aku sayang.

Jay kembali membaca surat yang ada di gegamannya. Tetesan air mata semakin membuat huruf-huruf yang tertera di situ buyar bersama rasa bersalah yang berkecamuk di hatinya. Ia berdiri, ia mendesah, menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya dengan rasa berat. Haruskah aku kembali dan menghadapi semua masalah yang telah terjadi? Persyaratan yang diberikan ayah Karmila tak bisa kupenuhi. Tak ada akte kelahiran, tak ada surat bukti kalau aku telah memiliki seorang ayah, karena ketika hal itu kutanyakan pada ibuku, perempuan tak berdaya itu hanya berkata lemah, “Ayahmu telah dibunuh, dia pengikut partai terlarang, dia mati dengan mengenaskan. Penduduk desa mencincang tubuhnya di ujung sungai tepian desa. Kisah kelahiranmu telah berubah, mereka menganggap kau lahir dari seorang pelacur. Itu cerita yang sudah diyakini menjadi benar adanya. Tapi sesungguhnya, itulah yang terjadi, ayahmu dicap komunis. Sudahlah, jangan mengusik-usik dia lagi. Kau pergi dari sini, ganti namamu dan hilangkan jejakmu. Lupakan perempuan itu. Asal kau tahu, aku, Ibumu, tidak pernah menjajakan tubuhku dari satu lelaki ke lelaki lainnya. Kau suci saat terlahir anakku, Ayahmu hanya dia, dia yang tetap bertahan dengan pilihan hidupnya. Itu sebabnya kau tidak pernah memiliki akte kelahiran. Mereka melarangnya, sebab ada cap di Kartu Tanda Pengenal ayahmu. Cap yang secara tidak sengaja juga berlaku untukmu.”

Karmila, itulah kenyataan yang harus kuterima…

Ayahmu sudah tahu itu. Tak ada bukti autentik untuk mengesahkan aku sebagai manusia yang beradab. Seberapa besar usahaku untuk meyakinkannya, yang hadir hanya kesia-siaan belaka. Semua yang dituntut ayahmu adalah realitas yang bias yang mengolaborasi otaknya untuk menyusun beragam rencana guna memisahkan kau dan aku. Aku anak pengikut partai terlarang dan kau puteri seorang pengusaha terhormat. Cap itu akan terus melekat meski jaman telah berganti arah. Stigma itu terus menyertaiku meski aku bersembunyi di lorong hitam berselimut kabut yang tebal, itulah jurang pemisah yang dalam yang membuat kita tak bisa bersatu.

Karmila…empat musim itu adalah kesia-siaan, waktu yang memberiku sejenak rasa bahagia dalam hidupku telah habis terampas. Aku terharu akan kepasrahanmu. Di malam sepi saat tubuh kita kuyup oleh rintiknya hujan, saat penyerahan diri yang total tanpa rasa takut dan curiga, saat kau berkata tak ada yang dapat memisahkan kita selain kematian, di situ air mataku menetes dan kau mengecupnya perlahan. Kepasrahan, cinta sejati yang kau tunjukkan makin membuatku merana. Aku benci pada dunia, aku bertanya pada Tuhan, haruskah status itu menjadi karma yang tak terpisahkan dari diriku?

Maka Karmila…seandainya saja kau tahu aku sama menderitanya dengan kau, kuingin terbang bersama rasa rindu yang menumpuk di setiap persendianku. Aku hampir gila memikirkan dirimu. Seterusnya, malam ini kubuka jati diriku, aku keluar dari persembunyianku. Akan kuhadapi ayahmu bersama segenap tirani yang ada di dirinya. Akan kujemput cinta sejatiku bersama ribuan bayang menegangkan yang setiap saat bisa memusnahkan jiwa dari ragaku. Karmila, tunggu, jangan pergi…aku akan datang menjemputmu!

Kini, di sinilah aku berada. Berhadapan dengan tembok besar yang kokoh menjulang tinggi. Dua merpati tak lagi berharap aku memberinya sepucuk surat, sebab ia tahu aku tidak mengabaikan suratmu. Karmila, kusongsong prahara itu dengan seonggok tanggungjawab yang ada di pundakku. Aku bukan lelaki pecundang yang tidak memiliki rasa dan hati, aku akan datang menjemputmu, membawamu ke kebahagiaan kita yang paling hakiki, kekebahagian cinta sejati kita.

Dan “Dorrr!”

Karmila…sambutlah nyawaku…ayahmu telah memasukkan timah panas itu ke jantungku. Ia tetap tak rela menerimaku. Tak apa sayang, kini kita bisa bersama, melanglang angkasa biru bersama kepak merpati dan iringan awan putih. Di sini, di antara mega-mega aku bisa mencumbumu, aku bisa mengecup bibirmu yang pucat merah jambu.

Empat musim telah berlalu…

Jay…aku tahu kau pasti datang. Mari…marilah kekasih, kita pergi bersama menyongsong langit biru di angkasa raya. Dunia tidak menginginkan kita. Dunia iri dengan cinta kita. Mari…

Cerpen ini merupakan salah satu kisah yang masuk dalam antologi cerpenku yang kedua

(Fanny Jonathan Poyk)

Suara Sesandu dari Jembatan Liliba

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis