Seide Kebiasaan dan pembiasaan hidup dimulai dari keluarga. Bagaimana membangun sikap terhadap hidup. Semua menuju yang terbaik. Di antara yang terbaik ialah hidup berhemat.
Hemat bukan identik dengan pelit, tapi memahami kapan perlu keluar uang, kapan tidak perlu. Membeli yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Bagaimana elok menjadi konsumer, dan bukan konsumtif. Bagaimana memakai tisu, menarik banyak-banyak untuk sekadar menyeka mulut, lalu membuang. Kebiasaan kecil yang di mata yang hidup berhemat terasa sebagai pemborosan.
Hidup boros memakai segala sesuatu secara berlebihan dan kurang perlu. Keserakahan, dan rasa mumpung dorongannya. Tengok kalau mengambil makanan sewaktu undangan pesta, mengambil berlebihan, dan tidak dihabiskan. Makan hemat itu, kendati gratis, makan yang secukupnya, tidak mumpung. Itu sikap frugal juga.
Frugal living perlu ditanamkan sejak kecil, bagaimana hidup berhemat untuk tujuan mulia, untuk menyediakan hidup elok di hari esok. Hidup menabung, beli baju setahun sekali, tidak makan di luar terus, naik transportasi publik, ke salon kalau mau pesta saja. Uang ditabung untuk yang prioritas, lebihnya untuk hari depan. Prioritas untuk sekolah anak, untuk asuransi hidup, dan hari esok yang bisa elok.
Tidak ada cela memilih hidup berhemat, hidup sederhana. Sikap konsumtif diredam oleh sikap kesederhanaan dan konsumerism idealnya masuk kurikulum sekolah. Kebiasaan serba sederhana dibentuk di rumah. Hidup sederhana bukan menurunkan martabat, melainkan malah tampak mulia. Meyakini bahwa kita dinilai bukan dari apa yang kita pakai, atau apa yang kita miliki, sebagai dijuluki ascribed status, melainkan apa yang kita raih atau achievement status. Nilai kita pada isi kepala dan integritas kita, bukan pada tampang doang.
Warren Buffet sang milinoner, rumahnya dibeli hanya Rp 400 jutaan tahun 60-an dan masih ditempati sampai sekarang. Bill Gate yang juga millioner, memakai arlogi seharga 10 dollar AS saja. Itu sikap hidup sederhana, tanpa menurunkan derajatnya sebagai orang sukses.
Perhatikan budaya kaum Tionghoa totok maupun peranakan, terbentuk hidup sederhana, karena awalnya hidup susah. Kerja keras dan hidup sederhana untuk meraih hari esok yang elok. Kalau dagang untung 100 perak, cukup dibelanjakan 10 perak, selebihnya untuk ditabung kalau bukan untuk menambah modal. Maka berjualan butik atau barang fashion branded di lingkungan orang Tionghoa kurang laku karena beli baju, sepatu dan barang-barang yang tidak prioritas, cukup setahun sekali. Kalau membeli pun nawarnya luar biasa ketat, demi mengirit uang pengeluaran.
Jangan kaget kalau anda bertemu seseorang yang hanya pakai sandal, pakaiannya sederhana, ternyata seorang pengusaha garmen besar. Datang bertemu supervisor dan kepala supermarket yang berjas dan berdasi, kita melihatnya sebagai pemandangan yang kontras dan tak nyana.
Ada gerakan frugal living tahun 1990-an, yang mengajak anak muda dunia untuk hidup sederhana, berhemat, demi hari esok yang elok. Makan bergizi itu tidak perlu harga tinggi. Busana indah itu tidak perlu branded. Naik transportasi publik bukan merendahkan martabat. Yakin dihargai dihormati bukan karena tampang, atau naik mobil merk apa, melainkan seberapa cerdas dan baik seseorang di mata orang-orang.
Beda sikap milineal yang terimbas budaya Barat yang ingin menikmati hari ini, mereguknya sampai tandas “carpe diem”, lupa kalau jalan masih panjang. Ingat kalau mudanya keras, tuanya akan lembut. Menikmati masa muda sehingga hidup terasa lembut, berisiko hari tuanya keras. Hari tua yang masih harus banting tulang sekadar masih bisa menghidupi. Tidak demikian kalau masa muda memilih hidup frugal.
Generasi XYZ, generasi yang serba ingin segera menikmati eloknya hidup. Gaji bulanan dihabiskan untuk kenikmatan hari ini. Gerakan frugal living meredam dorongan duniawi, dorongan menikmati instant begini, menghabiskan gaji buat salon, makan di resto, rutin ke cafe, nonton, dan berwisata. Rata-rata Generasi Babby Boomers kita yang lahir setelah perang dunia hingga tahun 70-an, baru naik pesawat terbang setelah lulus sarjana. Generasi sekarang masih balita sudah keliling dunia.
Hidup adalah pilihan. Kita sendiri yang akan menjalani, dan mengalami. Gerakan frugal living mengingatkan ada risiko hari esok. Lebih dari itu, kalau ingin menikmati hidup elok lebih dini, pensiun lebih dini, maka pilihannya hidup sederhana dan berhemat dengan berhitung proyeksi hari depan.
Hidup hari ini untuk keeolkan hari esok, perlu berhitung memproyeksikan kebutuhan. Andai pengeluaran bulanan Rp 5 jutaan, setahun perlu Rp 60 jutaan, dikalikan sedikitnya 25 kali, maka itu yang minimal perlu ditabung kalau ingin elok hari esok. Hari tua yang tidak bergantung harus kerja keras karena tidak harus menghadapi kebergantungan finansial lagi (financial independence retirement early).
Meredam keinginan menikmati hari ini sampai tandas, carpe diem, nikmati pensiun dini kelak dengan menabung, agar bisa menikmati hari pensiun lebih dini. Mungkin sebelum umur 40-an. Carpe diem yang ditunda. Pada masa mana bisa mereguk kenikmatan sampai tandas setiap hari. Caranya dengan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ini sikap orang sukses, menyikap hidup keras selagi muda, agar lembut setelah tua.
Salam Carpe Diem,
Dr Handrawan Nadesul






