Seide.id -Pada suatu malam menjelang pagi, sekitar 30-35 tahun lalu, aku sedang mengutak-atik cover perwajahan sebuah tabloid sambil mendengarkan Pink Floyd. Aku sendirian saja di malam menjelang pagi itu. Di sebuah “kantor setengah rumah” yang kami sewa di sekitar Senayan. Di ujung lagu “Vera”,…tiba-tiba terdengar suara flute, sayup-sayup. Semakin lama semakin jelas. Aku terkejut,… bukan takut,…jangan-jangan,…tapi tiba-tiba terdengar suara tawa berderai. Oasem!
Ternyata seorang sohib, mas Bujel (yang sudah almarhum) yang diam-diam memainkannya, dia datang mengendap-endap, sembunyi di balik pintu. …”Tadinya aku mau terus meniup flute ini,…tapi tak tahan ketawa melihat ekspresi kebingunganmu”, katanya. Mas Bujel adalah pemain flute andal. Dia pernah bergabung di “Kelompok Kampungan”, sebuah band teatrikal berasal dari Yogyakarta yang cukup disegani pada era ’80an.
Beberapa waktu lalu, seorang teman mengenakan T-shirt hitam bertuliskan: “Don’t underestimate an old man who listen to Pink Floyd”. Asli, dibelinya langsung dari Inggris. Tadinya aku kepingin juga punya. Tapi setelah mencari tahu, searching sana-sini, busyet,…harganya mahal banget. Belum ongkos kirimnya. Akhirnya,…ah gak jadi deh. Gak punya juga “gak pateken”. Sebetulnya istilah “gak pateken” itu menurutku ada unsur ‘menghibur diri’. Seperti jika kita menyambit mangga tetangga yang ranum, tapi gak kena-kena. Lalu kita menghibur diri dengan: “…Aah, paling-paling juga mangganya asem!”.
Kembali ke-T-shirt Pink Floyd itu. Demi murah meriah,…aku berencana ingin membuat sendiri saja, dengan cara mencontek desain T-Shirt itu. Lalu minta adik ipar untuk mencetak (kebetulan teman adik ipar punya usaha cetak-mencetak di T-shirt). Tapi sampai sekarang,…rencana tinggal rencana.
Aku pernah punya T-shirt Pink Floyd dengan desian lain. Yaitu poster tentang pertunjukan band itu di kota-kota di Amerika. Dicetak di T-shirt berwarna maroon. Gadis bungsuku suka. Dia kerap meminjam. Ketika aku iseng bertanya tentang Pink Floyd bungsuku mejawab: “Taulaah,…underestimate banget sama pengetahuan musik jadulku” Hehe…
Orang jadul dan kalangan penyuka musik, jika ditanya tentang Pink Floyd dan menjawab tak tahu, biasanya ada pertanyaan susulan yang agak sengak: Emang pada era 70-80an,…elo berada di planet mana? Atau:…emang jenis musik atau band apa yg elo dengerin? Ya mungkin saja yang didengerin adalah: George Baker Selection, Barry Manilow, Racmat Kartolo atau Lobo, ‘kan?
Tapi,…eh hlo-hlo-hloo,…ini mau blanyongan tentang David Gilmour atau Pink Floyd? Tenaang,…aku memang mau ngomongin David Gilmour, karena 2 hari lalu,…si mbah yang berpembawaan tenang (seperti umumnya gitaris rock?) dan masih bertubuh tegap itu, berulang tahun yang ke-…76! Karena ngomongin David Gilmour tak mungkin rasanya tanpa ngomongin Pink Floyd.
Banyak penggemar atau musisi, jika ditanya: Siapakah Pink Floyd? Sebagian akan menjawah: Roger Waters, sebagian lagi akan menjawab: David Gilmour.
David Gilmour yang “terlalu baik untuk sebuah band rock seperti Pink Floyd” punya jawaban diplomatis. “Roger Waters, selalu menganggap keberhasilan sebuah band, begitu juga Pink Floyd adalah semata-mata karena syair-syair lagu dan konsep bermusik dari dirinya (sebagian besar syair dan lagu memang ditulis oleh Roger Waters, juga Syd Barret pada awal-awal Pink). Tapi, Pink Floyd adalah sebuah band. Syair, baru bisa ‘bunyi’, pesannya sampai dengan indah dan diterima oleh pendengar, ketika diiringi musik. Diiringi alunan keyboard Richard (Wright), dentuman drum Nick (Mason) dan sound gitarku” (Gilmour dengan tendah hati tak mengatakan bahwa sound gitarnyalah yg paling dominan, Roger Waters bermain Bas).
Gilmour lahir di Cambridge, Inggris. Orangtuanya adalah pangajar di daerah elite itu. Ibunya guru sekolah. Ayah pengajar di sebuah Zoology. Semacam sekolah tempat orang belajar tentang penangkaran dan pembudidayaan hewan (?). Gilmour berteman sejak kecil dan satu sekolah dengan Syd Barret yang kelak mengajaknya menjadi gitaris di Pink Floyd.
Ketika remaja, seperti remaja lain pada umumnya, yg selalu ingin menunjukkan kemampuan, Gilmour ingin menunjukkan bahwa dia bisa menghidupi diri dengan kemampuan bermain gitar. Maka, dia bersama beberapa temannya (mungkin salah-satunya adalah Syd Barret) berkelana ke-Prancis dan Spanyol. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengamen. Tapi ternyata kemampuan bermain gitar saja tak cukup. Mereka bahkan tak bisa memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar, yaitu perut. Mereka hidup sengsara, terlunta-lunta, kurus dan tak terurus. Kurang gizi! Akhirnya mereka ‘balik kampung’ ke-Inggris.
Di kampung halaman, Gilmour, semakin giat berlatih. Tak jera, dia mengajak Syd untuk kembali berkelana. Tapi Syd malah mengajaknya menjadi gitaris Pink-Floyd, sebagai tandem atau gitaris pengganti. Jika Syd tak hadir atau terlalu teler untuk bermain gitar, Gilmour kerap menggantikannya. Pada era itu, narkotika yang sedang hit dan dikonsumsi oleh Syd adalah LSD (Lysergic acid Diethylamide) yg oleh Beatles diplesetkan jadi: Lucy in the Sky with Diamond. Narkotik yg terbuat dari gandum hitam(?). Dikemas dalam bentuk kertas. Dengan ‘nama sandi’: acid, perangko, trip, elsit atau “kertas dewa”.
Lalu,…tak terbendung,…hit-hit single dan album terus mereka cetak. Pink Floyd dikenal dunia!
Selain sound gitarnya membuat penggemarnya ‘terbang’, David Gilmour ternyata juga seorang produser ‘bertangan dingin’. Dia banyak bekerja sama dengan musisi-musisi berbakat. Sejak: Bob Dylan, David Bowie, Elton John, Kate Bush, Supertramp, Pete Townsend (The Who), Alan Parson, sampai Tom Jones dan BB King.
Gilmour kerap terlibat perseteruan dengan Roger Waters. Puncaknya ketika Gilmour membuat konser “The Wall” untuk memperingati runtuhnya tembok yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur. Waters, konon marah besar. Bertahun kemudian, ketika Pink Floyd diminta tampil dalam acara “Live-8”, mereka tampil. Tapi hubungan dan ‘perang dingin’ antara Gilmour vs Waters, sudah terlanjur tak bisa ‘dihangatkan’ lagi. Mereka nampak akur saat di panggung Live-8 saja.
Tak banyak diketahui, Gilmour ternyata juga seorang pembalap dan penerbang yang handal. Mungkin ‘ketenangan di atas, atau di bawah? rata-rata’ itulah yang membuatnya jadi pembalap dan penerbang handal. Karena Alain Frost, pembalap Formula-1 yang dijuluki “profesor” oleh pembalap lain, konon memiliki jumlah (permenit) detak jantung yang “tak biasa”, sehingga dia nampak selalu sangat tenang dalam situasi apa pun.
Untuk ‘menyelenggarakan’ hobi terbangnya, Gilmour sampai-sampai memiliki perusahaan penerbangan (dgn pesawat kecil?) bernama: Interpid Aviation. Lalu, untuk menghidupi perusahaan itu, manajemennya mengkomersialkan. Tapi, itu semua membuat Gilmour tak nyaman dan berkata: “Waah,…aku tak ingin hobi terbangku jadi seserius itu”. Akhirnya Interpid Aviation dijual.
Yang juga jarang diketahui adalah: Gilmour, dari 2 kali pernikahannya, memiliki 8 anak! Istri pertama membarinya 4 anak. Istri ke-2 yang sudah memilik 1 anak, memberinya 3 anak lagi!
Meski terlambat 2 hari,…selamat Ulang Tahun, mbah Gilmour. Terimakasih,…sudah membuat malam-malam kami ngelangut dan ngagaleong…
(Aries Tanjung)






