HUMOR PASUTRI Bekerja Sampai Tua

ORANG TUA

Oleh HARRY TJAHJONO

Di saat tanggal muda dan baru kemarin gajian, mestinya suasana kantor juga pulih seperti sediakala. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Sebagian besar karyawan malah resah.

“Kalian bisa menghitung sendiri. Selama lebih dari lima tahun kita ikut membesarkan perusahaan ini, dan yang kita dapatkan hanyalah kenaikan gaji rutin setahun sekali. Persentasi kenaikan gaji itu juga tidak lebih besar dari tingkat inflasi. Bonus? Tidak! Memang ada THR, tapi itu kan memang hak kita. Iya ‘kan?” lanjut Pras, yang sejak kemarin getol berkampanye sesama karyawan.

Doni dan teman sekantor lainnya, mengangguk-angguk. Apa yang dikatakan Pras memang ada benarnya.  

“Saya bukannya menghasut. Tapi, cobalah pikirkan. Dedikasi, integritas, loyalitas, profesialisme dan potensi kia yang telah membuat perusahaan ini berkembang seperti sekarang, ternyata tidak dinilai secara layak. Memang, kita diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dengan mengikuti kursus atau lokakarya dengan biaya perusahaan. Tapi, setelah kita lebih pintar, lebih profesional, toh gaji tetap segitu-gitu saja. Betul ‘nggak?” Pras menggedor lagi.

Teman-teman kembali mengangguk-angguk.

“Maka dari itu, tidak dapat tidak, kita harus bertindak!” tegas Pras mengepalkan tinju, menghantam udara.

“Mogok?” tanya Doni.

“Ngapain? Mogok cuma akan membuat kita masuk koran, atau malahan masuk penjara!” sahut Pras.

“Lha terus kita mesti bertindak apa?”

“Kita rame-rame keluar,” kata Pras dengan senyum kemenangan.

“Kamu gila! Keluar, terus mau kerja apa? Nganggur? Anak istri mau dikasih makan apa?” tanya Doni.

Pras tersenyum lebih lebar, lalu mengeluarkan setumpuk formulir dan membagikannya disertai penjelasan, “Jangan khawatir, saya tidak bodoh, dan nggak mau jadi pengangguran. Begitu kita keluar dari sini, kita langsung bekerja di perusahaan yang mau memberikan gaji hampir dua kali lipat dari gaji yang kita terima di sini….”

Formulir yang semula dibagi, segera menjadi rebutan.

“Oke…., kalian punya waktu sehari untuk berpikir atau minta pertimbangan istri. Kalau mau bergabung, isi dan tandatangani. Besok pagi harus sudah diserahkan pada saya,” tegas Pras.

Pertemuan rahasia di saat jam istirahat pun selesai. Semua bubar.

Namun, keresahan meruyak hingga jam kantor usai. Doni juga termasuk yang resah. Siapa yang tidak resah tatkala ditawari pekerjaan dengan gaji lebih besar?

Dengan cermat Doni membaca ulang isi formulir itu.

“Kok bengong?” tanya Pras yang nongol entah dari mana.

Doni menatap Pras yang tersenyum.

“Nggak usah ragu. Aku sudah ketemu langsung bos pemilik perusahaan ini. Dia butuh sejumlah orang yang punya pengalaman di bidang pekerjaan yang selama ini kita tangani.  Kebetulan bos itu mau bikin perusahaan baru yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahaan ini,” kata Pras serius.

“Bonafid?” tanya Doni.

“Ya jelas, dong! Kalau nggak bonafid ngapain aku ngajak teman-teman? Kamu mau bergabung nggak?” sahut Pras.

“Saya mesti bilang istri dulu…,” kata Doni.

Pras tersenyum mengerti, kemudian berlalu pergi.

Tapi, Doni merasa perlu minta pertimbangan Pak Pur terlebih dulu. Bukan apa. Sebagai karyawan senior, Pak Pur tentu punya saran yang lebih obyektif. Kalau langsung bilang istri, pasti langsung setuju. Maklum, semua istri tentu menginginkan punya suami yang gajinya besar.

“Bagusnya saya milih yang mana ya, Pak?” tanya Doni.

“Asal bukan golput, milih apa juga boleh kok, Dik…,” kata Pak Pur.

“Saya serius, Pak Pur….”

“Begini lho, Dik. Saya ini sudah tua. Umur saya sudah kepala lima. Sebentar lagi pensiun. Kalau pindah kerja, pensiun saya ‘kan bisa hangus? Beda dengan kamu. Masih muda, masa depan masih panjang…,” kata Pak Pur.

“Jadi, menurut Pak Pur, lebih baik saya bergabung dengan Pras?” tanya Doni.

“Terserah kamu, eh…, terserah istrimu. Sudah ya, saya mau kursus,” kata Pak Pur dan beranjak pergi.

Langkah Pak Pur terhenti, memandang Doni dalam senyum.

“Kela, kalau kamu sudah seumur saya, kamu pasti juga akan mendambakan dapat ikut kursus-kursus, apalagi dibiayai perusahaan…,” kata Pak Pur.

“Oya?” tanya Doni.

“Ya. Menjadi tua itu tidak enak. Di kantor, karena sudah tua, ndak bisa macam-macam. Ingin pindah kerja, sudah terlalu tua. Ingin bercanda, clelekan, ya ndak pantes, wong orangtua kok cengengesan. Sudahlah harus bekerja sampai tua, di rumah juga dihadapkan pada kenyataan sudah tua, karena selalu disebut Bapak, Pak De, Eyang. Kalau mau pindah rumah, kan berarti cerai…,” kata Pak Pur.

“Iya ya….,” sahut Doni.

“Memang iya. Satu-satunya tempat yang membuat saya merasa jadi muda kembali, ya bangku kursus. Karena di situ ‘kan menjadi murid. Dan sebagai murid, saya merasa boleh nakal, boleh menggoda Bu Guru…, ah, sudahlah…, nanti saya terlambat. Ini jam pelajaran Bu Ida,” sedetik kemudian Pak Pur meleset pergi. *

About Harry Tjahjono

Jurnalis, Novelis, Pencipta Lagu, Penghayat Humor, Penulis Skenario Serial Si Doel Anak Sekolahan, Penerima Piala Maya dan Piala Citra 2020 untuk Lagu Harta Berharga sebagai Theme Song Film Keluarga Cemara