Kuliner Nusantara: “Dendeng Rusa Merauke”

Kuliner di Merauke tak kalah ruah dengan kota-kota lain di Indonesia. Dari resto popeda yang asyik dinikmati dengan Ikan Kuah Masak Kuning, hingga hidangan mengenyangkan lainnya yang berbasis sagu, ubi, talas dan pisang mudah ditemui di Kota Merauke.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

Seide.id 19/02/2023 – Seorang adik ditugaskan kantornya, inspeksi rutin ke lingkungan kantor cabang di Merauke, Papua. Usai tugas  seperti biasa, dia pergi ke pasar membeli oleh-oleh sebagai cangkingan pulang ke rumah di Citayam, Bogor, Jawa Barat. Alhamdulillah, sebagian ragam oleh-oleh itu sampai ke meja makan rumah kami. Antara lain kuliner khas berupa bagea atau kue sagu panggang, dan (ini yang eksklusif dan spesial)…beberapa kantong kemasan berisi Dendeng Rusa, yang segera saja membetot ingatan saya saat beberapa kali mampir ke kawasan paling timut Indonesia: Merauke.

Kota dan Kabupaten Merauke, yang kini masuk wilayah Provinsi Papua Selatan, itu memang pantas buat dikenang dan kapan-kapan (bila ada sehat dan rezeki) ingin lagi saya singgah ke kawasan yang bertetangga dengan PNG dan terdapat tugu Kilometer NOL. Merauke –   Sabang. Ragam situs wisata eksklusif juga dimiliki Merauke. Ada Tugu LB Moerdani yang sekaligus.merupakan gerbang keluar-masuk Indonesia dan PNG. Ada Lotus Garden, Monumen Kapsul Waktu. Bagi peminat outdoor activity sila datang ke Pantai Payun, Pantai Lampu Satu, Pantai Onggaya, Pulau Habe, dan Danau Rawa Biru yang pernah dipilih Garin Nugroho dan tim sebagai lokasi syuting serial film televisi.

Merauke juga punya Taman Masional Wasur yang khas, dengan ragam flora dan fauna endemik Papua. Sebut misalnya  benalu berkhasiat obat yang kita kenal sebagai tumbuhan Sarang Semut serta sejenis tumbuhan pandan penghasil Buah Merah. Taman Nadional.Wasur juga dihuni fauna khas semisal kangguru, burung kasuari, ular berkaki, serta musamus –  rumah rayap yang menjulang hingga ketinggian 3 meter.

Perut Anda ‘kruyuk…kruyuk…” minta isi? Ho…hooo..! Kuliner di Merauke tak kalah ruah dengan kota-kota lain di Indonesia. Dari resto popeda yang asyik dinikmati dengan Ikan Kuah Masak Kuning, hingga hidangan mengenyangkan lainnya yang berbasis sagu, ubi, talas dan pisang mudah ditemui di Kota Merauke. Bahkan jika Anda penggemar bakso, ada banyak Warung Bakso di keramaian Merauke yang bisa dinikmati dengan Rebus Talas ataupun Ubi.

Tapi jangan cari Bakso Sapi sebagaimana mudah ditemui di warung-warung pinggir jalan6 di Tanah Jawa ataupun kota-kota besar lainnya di Indonesia. Karena kuliner bakso di Merauke umumnya diolah dari adonan sagu berbumnu dan cingcang daging rusa. “Pasar hari-hati di sini jarang dijual daging sapi. Kalaupun ada, harganya jauh lebih mahal dibanding daging rusa yang mudah ditemui,” ungkap seorang sahabat sekali waktu.

Yang menarik buat diselisik, rusa (Cervus sp.) dan sebangsanya bukan merupakan hewan aseli Papua. Rusa, kijang, menjangan, kancil dan lainnya memang banyak tersebar di pulau-pulau Indonesia lainnya, tapi para biolog masa lalu (sekali lagi) tidak mencatat rusa sebagai fauna Papua. Lalu bagaimana bisa kini banyak terdapat kawanan rusa di sekitar Merauke yang bahkan kerap masuk ke ladang memakan sayur-mayur yang ditanam hingga warga pun menganggap rusa sebagai bagian dari hama ladang? Bagaimana mereka berimigrasi dari habitat aseli ke Tanah Papua?

Alkisah, kolonialis Belanda pernah mengirim rusa-rusa endemik Indonesia ke daerah-daerah baru di luar habitatnya. Tercatat antara tahun 1886 s/d 1912, Belanda beberapa kali mengirim rusa timor (Cervus timorensis) ke Australia, dan tahun 1900 ke Papua Nugini, serta tahun 1907 ke Selandia Baru. Di tahun 1928 beberapa orang Belanda juga kedapatan memelihara rusa timor sebagai hewan peliharaan nan eksotik di pekarangan rumah dan kantor kolonial di Merauke. Rusa-rusa penghuni baru Papua yang segera beranak-pinak.

Warga Papua berburu rusa

Sebagaimana sejarah mustang di benua Amerika, yang bernenek-moyang dari kuda-kuda beban yang zaman baheula dibawa pendatang asal Spanyol dari negerinya ke tanah baru tersebut  yang lantas terlepas (atau meloloskan diri dari kekang) ke padang-padang prairi luas dan.lantas membentuk koloni kuda baru yang masyarakat Indian menyebutnya mustang, demikian pula halnya sejarah kawanan-kawanan  rusa yang kini menghuni hutan dan savana di sekitar Merauke dan Papua pada umumnya.

Konon, rusa-rusa peliharaan di pekarangan rumah dan instansi kolonisl Belanda di Merauke itu beranak-pinak dengan cepat hingga kandang jadi penuh sesak. Konon ada rusa  yang lolos keluar kandang. Ada juga cerita, pemilik sengaja melepas rusa peliharaan karena over populasi. Yang pasti di luar kandang, didukung hutan yang amat sangat cukup menyediakan makanan dan tidak adanya predator  (seperti harimau ataupun ular sanca) pemangsa, rusa-rusa timor itu berkembang biak dengan baik di tanah Papua. Bahkan banyak generasi masa kini mengira bahwa rusa juga merupakan bagian dari hewan aseli Papua.

Dendeng Rusa khas Merauke dalam kemasan

Tapi kehadiran sebentuk alien (species baru dari luat habitat) selalu menghadirkan hal positip fan negatif bagi lingkungan. Kehadiran rusan misalnya, menjadikan hewan liar di Papua, Merauke khususnya, jadi kian variatif. Tapi di lain pihak ada banyak masyarakat petani menjulukinya sebagai hama, karena rusa sering nyelonong masuk kebun sayuran. Itu antara lain alasan mengapa rusa diburu, selain berkait kebututuhan masyarakan akan daging segar.

Di zaman Belanda, ada aturan bahwa rusa cuma boleh diburu sekali dalam setahun, khususnya pada Desember menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Yang boleh diburu cuma rusa-rusa tua, bukan betina  yang sedang mengandung ataupun anak-anak rusa.

Tak jelas, apakah aturan itu masih berlaku? Yang pasti kini relatif mudah menemukan warga lokal di kitaran Merauke yang sedang berburu rusa, baik dengan cara memanah, menombak ataupun menjeratnya dengan.perangkap tali-temali.

Satu cara berburu rusa yang unik biasa terjadi di musim penghujan dimana sungai-sungai yang ada di sekitar Marauke meluap, dan bahkan merendam banyak cekungan tanah rawa dan hutan tempat rusa-rusa merumput. Saat-saat banjir itu banyak rusa berenang jauh (dengan badan terendam air, dan hanya menyisakan sembulan kepala di atas air) untuk menjangkau daun pohonan yang jadi makanan mareka. Nah, saat kawanan rusa mencari makan di tengah banjir itu, warga memburunya dengan menggunakan (mendayung) sampan, mengejarnya hingga satwa-satwa yang berenang itu, untuk memanahnya, menombak, atau melasso dengan tali.

Rusa-rusa hasil buruan warga ini yang tiap hari dagingnya memenuhi pasar di Merauke, dibeli para Abang Bakso, atau diolah pengusaha jadi dendeng yang dioleh-olehi adik kepada rumah kami. Hmmm…! *

19/02/2023 PK 14:23 WIB.

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.