Kuliner Nusantara: Doclang 405 Jembatan Merah

Herys Saputro - Doclang02

Mohon antre, tangannya cuma sepasang, kata abang penjualnya. – Foto Heryus Saputro Samhudi

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

BILA ke Kota Bogor, Jawa Barat, jangan lupa sempatkan mampir ke kasawan Jembatan Merah. Tak jauh dari lingkar barat Kebon Raya Bogor. Persisnya di ujung Jalan Kapten Muslihat, cuma beberapa langkah dari ujung Stasiun Commuter-Line ataupun Stasiun KA Pledang, di pertigaan Jalan Panaragan – Merdeka. Persis di tenggara Jembatan Merah itu ada terdapat penjual Doclang.

Doclang adalah one-dish-meal atau hidangan sepinggan yang tak cuma dikenal masyarakat Bogor, tapi juga oleh masyarakat Sukabumi dan Cianjur bahkan banyak kota lain di Jawa Barat. Biasa disantap sebagai sarapan pagi, Doclang tersaji dari campuran isi lontong atau buras yang diiris-iris dengan siraman bumbu kacang kental yang sudah diberi campuran bumbu, diimbuhi kerupuk, kecap dan sambal.

Sepintas mirip Kupat Tahu atau Ketoprak, karena juga menggunakan tahu, kentang goreng, telur rebus yang diiris-iris, serta sayuran seperti tauge, kangkung dan kubis yang juga sudah direbus. Bedanya, lontong atau buras untuk Doclang tak dibungkus daun pisang atau kelapa seperti ketupat, melainkan dibungkus dan direbus dengan daun patat atau juga daun tasbih, menghasilkan rasa lontong yang sangat khas.

Tradisinya, kuliner Nusantara satu ini biasanya dijajakan berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya dengan cara dipikul. Tapi di Kota Bogor, tradisi Doclang keliling ini susah ditemui. “Sejak dulu, kalo mau makan Doclang, ya mesti datang ke Jembatan Merah. Nggak cuma pagi, tapi juga siang hingga menjelang tengah malam,” kata Resti yang lahir dan besar di Kota Bogor.

Doclang, murah meriah Rp15.000 kemplet – Foto Heryus Saputro Samhudi

Melintasi Ci Pakancilan, Jembatan Merah merupakan landmark tua Kota Bogor yang dibangun tahun 1881, nyaris berbarengan dengan stasiun kereta api. Sejarah Bogor karangan Dasasminya, menyebut Cipakancilan dibuat Kanjeng Aria Natanegara, Demang Kampoeng Baroe tahun 1776, untuk mengairi pesawaran di utara Dayeuh Bogor seperti Kebon Pedes, Bodjong Gede, Depok dan berakhir di Ciliwung

Di Jembatan Merah yang bersejarah itu Bang Akib, sejak beberapa generasi di atasnya berdagang Doclang dengan satu gerobak bernomor 405, dilengkapi satu meja Panjang dan beberapa kursi, baur dengan gerobak kuliner lain yang juga buka usaha di kaki lima itu. Kini ada beberapa cabang Doclang 405 Jembatan Merah di beberapa sudut Kota Bogor. Lucunya, tetap saja orang antre di gerobak yang aseli.

08/09/2021

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.