Mengapa Publik Seolah Tidak Peduli pada Kasus Pelecehan di Rumah Irjen Pol. Ferdy Sambo?

Irjen Ferdy Sambo dan isteri, Putri Chandrawathi

Sejak awal, kesalahannya terletak pada polisi dalam menangani peristiwa tersebut. Andai saja polisi memperlakukan kasus pelecehan ini sama seperti kasus pelecehan lainnya, mungkin ceritanya akan berbeda. Publik hampir pasti akan menunjukkan empatinya yang penuh kepada terduga korban pelecehan.

Oleh SYAH SABUR

DALAM wawancara podcast dengan DeddyCorbuzier, seksolog Zoya Amirin menyayangkan publiktidak memerhatikan adanya pelecehan di balik kasus adu tembak polisi yang menewaskan Brigadir Nofriansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Zoya juga heran publikcuma fokus pada kasus penembakannya saja.

“Halo, ada terduga pelecehan di sini. Dan dia juga salah satu dugaan saksi baku tembak,” kata Zoya seperti dikutip dari wawancara tersebut, Rabu 27 Juli 2022.

Ada lagi yang membuatnya bertanya-tanya mengingat tidak sedikit anggota masyarakat yang merasa bahwa istri dari Kadiv Propam Polri (nonaktif), Irjen Pol. Ferdy Sambo itu tidak mungkin dilecehkan. “Kenapa kalau ada kejadian seperti itu orang, kok,  relatif mudah, misalnya si perempuannya yang dalam posisi lemah. Seolah-olah perempuannya di posisi lebih tinggi, baik-baik, dia enggak bisa diperkosa atau disakiti, kenapa warga netmelihatnya begitu?” katanya.

Sebetulnya bukan salah publik jika ada anggapan mereka tidak peduli dengan dugaan kasus pelecehan.  Cara pandang publik seperti itu tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Sebab sejak awal, kesalahannya terletak pada polisi dalam menangani peristiwa tersebut. Andai saja polisi memperlakukan kasus pelecehan ini sama seperti kasus pelecehan lainnya, mungkin ceritanya akan berbeda. Publik hampir pasti akan menunjukkan empatinya yang penuh kepada terduga korban pelecehan.

Ditutup-tutupi

Yang menjadi pertanyaan besar, mengapa peristiwa penting yang terjadi di rumah orang yang sangat penting itu seolah hendak ditutup-tutupi? Mengapa peristiwa yang terjadi pada Jumat 8 Juli 2022 itu baru disampaikan kepada media tiga hari kemudian atau Senin 11 Juli 2022.

Soal keterlambatan polisi dalam merilis peristiwa tersebut pun sungguh ganjil. Menurutpolisi, mereka tidak segera merilisnya karena paham bahwa wartawan sedang fokus liputan Idul Adha.

Sejak kapan polisi peduli kegiatan wartawan? Bukankah selama ini polisi selalu sigap menghubungi wartawan jika ada peristiwa penting. Tak kenal jam atau hari, juga tak peduli apakah week-end, harilibur nasional maupun hari libur keagamaan.

Itulah awal mula mengapa kemudian publik (juga media) menerka-nerka, apa gerangan yang sesungguhnya terjadi? Maka wajar jika kemudian publik menafsirkan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Datang tiba-tiba

Apalagi di awal, polisi menceritakan bahwa Brigadir J seolah-olah datang tiba-tibatanpadiundang ke kamar pribadi majikannya untuk melakukan pelecehan yang diikuti pengancaman dengan menodongkan pistolnya ke arah Putri Chandrawathi Sambo. Baru belakangan agak jelas bahwa Irjen Pol. Ferdy Sambo beserta istri, ajudan, dan sopir (Brigadir J) ternyata baru pulang dari Magelang.

Soal posisi Ferdy saat peristiwa tembak-menembak dan pelecehan pun, publik baru tahu setelah belakangan Komnas HAM mengeluarkan pernyataan. Menurut Komnas HAM, setelah memeriksa sejumlah CCTV, rombongan langsung melakukan tes PCR sepulang dari Magelang.

Tapi penjelasan Komnas HAM juga agak membingungkan. Komnas menyebutkan, semua anggota rombongan yang baru pulang dari Magelang melakukan tes PCR di salah satu rumah, tak jauh dari rumah dinas tempat peristiwa tragis terjadi.

Padahalpolisi di awal kasus menyebutkan, saat peristiwa terjadi, Ferdy tidak berada di tempat karena sedang menjalanites PCR. Saat itu polisi hanya menyebutkan Ferdy yang menjalanites PCR dan sama sekali tidak menjelaskan bahwa anggota rombongan lain pun melakukanhal yang sama.

Pertanyaannya, apakah penjelasan Komnas HAM ini berarti bahwa Ferdy dan anggota rombongan lain tidak masuk ke rumah dinas secara bersamaan? Kalau tidakbersamaan, berapalama beda waktunya?

Duel jarak dekat

Soal tembak-menembak antara Bharada E dan Brigadir J juga menyisakan kecurigaan. BetulkahBharada E sama sekali tidak tertembak dalam duel jarak dekat itu? Masih ada keanehan lain, seperti CCTV yang dibiarkan mati sejak dua pekan sebelumnya, telepon genggam keluarga Brigadir J yang  diretas hingga polisi yang sempat melarang keluarga membuka peti jenazah.

Yang terakhir, mengapa pula Putri Sambo harusmemintaperlindungandari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)? Bukankah ancaman otomatis hilang setelah orang yang diduga pelaku pelecehan tewas dalam baku tembak? Siapa orang yang masih menjadi ancaman  Putri?

Jadi, amatlah wajar jika masyarakat memiliki pikiran yang beragam, yang melahirkan beragam spekulasi pula. Polisilah yang sejak awal memang membuat peristi wayang seharusnya terang-benderang ini jadi gelap gulita.

Karenanya, Putri Sambo yang bisa jadi memang korban pelecehan pun tidak beroleh simpati dari masyarakat.***

Avatar photo

About Syah Sabur

Penulis, Editor, Penulis Terbaik Halaman 1 Suara Pembaruan (1997), Penulis Terbaik Lomba Kritik Film Jakart media Syndication (1995), Penulis berbagai Buku dan Biografi