Foto: AZ Central
Effi S Hidayat
Kenapa orang suka bermain dengan boneka? Sedari kecil asyik bermain rumah-rumahan, punya babyyang dimimikkan, ditimang-timang, dininabobokan laiknya bayi manusia sungguhan. .
Ya, bermain pura-pura. Jadi ibu, jadi ayah, jadi kakak. Punya uang banyaaak (walau cuma guntingan koran bekas atau sobekan buku pelajaran), pakai kacamata item gede, tas keren, sepatu higheels, dan longdress yang menyapu lantai. Nah.
“Asyik aja!” Begitu jawaban Julia. Tetapi, itu dahulu. Sebelum punya ponsel dan mulai ketak–ketik–ketuktuts komputer. Berpura-pura punya rumah besar dengan perkebunan luas aneka sayuran dan bunga, serta pets yang kudu dipelihara sarat kasih-sayang. Lalu, ketika si Broni mati, dia sesegukan menangis histeris.
Aduhai, seolah-olah nyata! Semakin seru berkelindan candu ketika dia mulai mengenal baby care, candy crush, mobile legend. Jadi hero punya senjata canggih menembak musuh bebuyutan yang dibenci. Sekaligus tahu persis bagaimana cara merawat bayi. Aww, luar biasa adrenalin berpacu. Hidup jadi berwarna-warni ceria tak membosankan!
Maka, jika seperti itu masa kecil dan remajanya; apa bedanya sekarang setelah usianya hampir merambat kepala empat? Ayah dan ibunya, juga saudaranya yang lain, seluruh anggota keluarga besar, termasuk juga teman, bahkan tetangga toh, sudah bosan. Tak lagi menanyakan kapaaan sih, dia menikah?
Tak jadi soal punya pasangan atau tidak. Yang paling utama kini, Julia sudah merasakan betapa oh, betapa nikmatnya menjadi ibu! Beneran berpredikat mommy, tanpa perlu punya suami yang bikin makan hati berulam jantung.
Ya, bahkan tak perlu repot-repot mengabdikan diri mengurus seabrek pekerjaan rumah tangga yang bikin rungsing. Julia bisa tetap rajin ke salon agar kulit wajahnya glowing. Yup, body-nya pun tetap langsing terjaga berkat fitness dan sauna yang rutin dilakoni.
Pekerjaannya sebagai financial planner bisa dilakukan di mana saja. Ia bangga menjadi ibu yang baik bagi Annette. Biar rambutnya secuil nyempil di ubun-ubun dan lumayan seemprit keriput laiknya bayi pada umumnya, kulitnya liat kenyal dan haluuus di sentuh. Julia sangat suka menggendongnya. Wangi bedaknya harum aroma bunga Camelia . Ah, menyegarkan.
Annette tidak rewel. Paling-paling dia menangis dan pipis sehabis minum susu. Setelah dimandikan, Julia menantikan momen ini; gonta-ganti pakaian. Pagi hari berhujan pakai sweater lengkap dengan topi, sarung tangan, dan kaus kaki berwarna terang.
Siang hari, karena udara lembap, Annette tampil ceria ber-backless-ria. Paduan yang serasi dengan mini pants seksi. Lalu, malamnya, Julia akan mendandani lebih modis. Warna salem rok nan cantik berjumbai, berpadu harmonis dengan celana panjang longgar putih berbunga kecil-kecil merah berdaun hijau segar.
Awuwooo, cantik nian! Sampai akhirnya dia akan berganti piyama warna pink genit bercampur biru muda yang lembut. Seperti awan di langit yang bergerombol bersama domba-domba dan bulan bintang sabit di corak baju tidurnya. Apa tadi? Ya, ituuu… piyama! Dan, di ujung hari Julia tentram damai menemani Annette bobo terlelap nikmat lahap mimik susu.
Hari ke hari berlalu, Julia tidak lagi berselimut sepi. Ada alunan suara bayi yang merengek-rengek manja menghibur hatinya yang semula gersang tandus. Kesibukan Julia sebagai ibu adalah fase momen terbaik yang pernah hadir di dalam hidupnya.
Sehingga malam Jumat, eh, Jumat malam kali ini, entah mengapa Annette menangis lebih keras dari biasa. Apa ini efek ia sempat terjatuh dari ranjang? Tetapi, hei, bukankah tidak apa-apa seperti bayi pada umumnya yang kerap tersungkur ‘melompat’ dari sisi ranjang (kebetulan Julia lupa mengganjal bantal!).
Hampir pingsan bingung tak terkendali, Julia gesit berusaha menangkap kepala Annette agar tak membentur lantai. Dia takut sekali bayinya akan gegar otak.
Terlambat!
Annette terlanjur terjun bebas. Walau untungnya dia jatuh tiarap. Bukan kepala, tetapi wajahnya… Oh, mengapa hidungnya berubah bentuk? Seperti lilin meleleh. Dan, matanya melesak ke dalam. Biji matanya yang hitam pekat, sedikit cokelat menggelinding satu, nyelip di kolong ranjang. Entah di mana!
Julia menjerit jengkel. Katanya terbuat dari silikon yang awet tahan lama, mengapa jadinya seperti ini? Annette… oh, my baby Annette! Julia terisak sedih. Hatinya mendadak seolah diremas, dikucuri irisan nipis. Perih,euy!
Cuma sedetik. Julia terpekik lantang ketika mata Annette yang tinggal menunggal itu tiba-tiba terbuka. Menatap lurus serius kepadanya. “Hi, Ma…maaa…. “, sapaan lembutnya terdengar nyaring. Merayap, mengambang memenuhi udara…byuuh!
Julia tersengat hampir mati rasa. Teringat dia saat membeli Annette, fake baby Annette tepatnya. Versi doll model terbaru panjang body 55 cm. Lalu, spesifikasi andalan yang ditawarkan adalah: bisa pipis, mimik susu, dimandikan….
Hanya itu saja. Tanpa tertera di buklet panduannya, bahwa boneka bikinan Jerman itu bisa bicara. Apalagi menyapanya… apa tadi? Kalau tidak salah dengar, memanggilnya : Mama?
“Baby Annette… Baby Annette, My Baby Annette…. ” Wah, kini dia bernyanyi? Suara sayup lirih dari kejauhan yang bikin bulu kuduk Julia meremang dan merasa dibanjiri sesal seketika.
Mengapa ia tidak melahirkan saja seorang bayi manusia yang normal. Mengapa harus (lagi dan lagiii) bermain pura-pura , berlomba menjadi konsumen sebuah dunia yang bukan reality?
Mengapa?
Julia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Haruskah ia bertanya kepada rumput yang
bergoyang?
Atau… aha,cling!
Sebuah ide brilian melintas di kepala dan segera dieksekusi. Julia sigap menyambar
ponsel. Pilihannya jatuh kepada : si Mbah Google!
Tetapi kali ini pun si Mbah tak mampu memberi jawab memuaskan. Malah Miss
YouTube yang muncul, menampilkan nyanyian tak berbeda nada. Dan, duo itu sekarang makin garing saja berlagu ‘Baby Annette… baby Annette… My baby Annette…, ‘ mengayun di seluruh ruangan. Menelisik berbisik-bisik di keheningan malam yang beranjak tua.
Di sisi ranjang yang mendadak dingin, Julia duduk membeku memeluk kedua lututnya yang gemetar. Tak tahu harus menangis atau tertawa menatap Annette, bayinya.
Akhirnya, bibirnya sendiri bergumam pelan ikut bernyanyi trio, “Baby Annette.. My Baby Annette…. “
Kau dengarkah?





