Kebaikan Hati Teruskanlah

Kebaikan, teruskanlah ( Foto; M.Oase.id)

Cukupkah orang menjadi baik tanpa memberi. Kalau sudah memberi apakah harus dibalas. Perlu gak sih balas budi dalam kebaikan. ( Foto: m.oase.id)

Effi S Hidayat

“Sudah cakep, pintar, kaya, baik hatiiii lagi… , “mungkin Anda pernah mendengar ucapan bernada memuji seperti ini. Padanan kata baik hati diletakkan di ekor kalimat menegaskan; betapa hebatnya seseorang!

Kebaikan hati alias ‘berhati emas’, ah, mengapa jadi patokan pujian bagi karakter manusia? Ayo, coba utarakan kepada saya beberapa alasan masuk akal. Tampak tak penting-penting amat dibandingkan poin sebelumnya. Cakep, pintar, kaya, apa lagi? Ngetop, sukses, blabla… .

Bukankah justru poin yang disebut belakangan alias kebaikan hati itu lebih sederhana, bahkan terkesan biasa-biasa saja?  Mengapa malah ditaruh urutan paling buntut, ditambah kata ” lagi” sehingga membuat stratanya menjadi paling tinggi ketimbang yang lain? Seolah si baik hati ini menjadi amat sangat teramat urgent?

Ya, compassion alias sincerity orang Inggris bilang tak sembarang lho, mampu memeroleh gelar ini. Tentu saja, pada dasarnya saya percaya, bahwa semua orang itu baik. Dan memang demikianlah adanya ketika Tuhan menciptakan manusia serta segenap isinya. Namun dengan perjalanan waktu, selaras poros bumi yang semakin tua berputar, kebaikan hati ini kok, terasa langka.

Duh, jujur saja berapa banyak manusia yang berhati baik, namun tanpa sadar berpretensi baik jika… . (isi saja ya, sendiri). Gamblangnya: menjadi baik dengan maksud terselubung. Ada pamrih di balik kebaikannya. Ada udang di balik bakwan, eh, batu – begitu kata pepatah kuno.

Padahal yang ingin saya ungkap sedari awal adalah seseorang yang memang tulus hati, welas asih tanpa pamrih sedikitpun dalam membantu atau melayani orang lain. 

Nah, berapa banyak dari kita yang mampu konsisten berprilaku demikian? Tanpa tameng, “Saya baik jika kamu baik,” atau, “Saya baik karena….”

Berbagai alasan muncul di baliknya. Sangat berbeda dengan kebaikan hati spontan tanpa tendensi.

Contoh paling gampang, dalam urusan memberi. Coba lihat, ketika Anda stop memberi sesuatu kepada seseorang ketika berulang tahun, misal (entah karena alasan apapun), maka akibat yang terjadi ada dua. 

Dia juga akan ‘lupa’ memberi hadiah, atau sebaliknya tetap saja balas memberi tanpa terganggu dengan tindakan Anda. HahahaSee?

Saya tak pernah melupakan cerita seseorang sahabat tentang kebaikan hati orangtuanya. Tanpa ragu, sang ayah menampung kenalan bule yang rumahnya musnah karena musibah kebakaran. Putrinya, sobat saya itu lalu memeroleh guru privat bahasa Inggris secara tanpa imbalan alias gratis.

Pria berkebangsaan Inggris yang menetap bersama keluarganya itu rajin mendongeng beragam cerita klasik Grimm’s Fairy Tales dalam ‘bahasa ibunya’. Sepupu dan anak-anak tetangga di sekitar rumahnya ikut kecipratan belajar berbahasa Inggris rutin seminggu satu kali. Ilmu bahasa dunia yang ternyata menetap di benak sehingga dewasa.

Kisahnya semakin menarik ketika pada suatu hari, sang guru bule itu memberikan kepadanya seuntai kalung manik-manik berwarna biru. “Oleh-oleh dari teman di luar negri, ini untukmu. Terimalah….”

Saking senang muncul pertanyaan lugu, “Bagaimana harus membalas kebaikan teman Anda, Mr. Mann?”

Mr. Mann menjawab sembari mengulas senyum,”Kebaikan tidak harus dibalas langsung kepada orang yang bersangkutan, tetapi diteruskan kepada orang lain… . “

Lama setelah Mr. Mann pindah ke Florida, AS, sobat saya itu baru menyadari apa maksud ucapan itu. Dengan caranya sendiri, Mr. Mann telah meneruskan kebaikan hati yang diterima dari sang ayah memberinya atap untuk berteduh; mentransfer ilmu berbahasa Inggris.

Belum lagi kecintaan membaca yang ternyata berurat akar hingga hari ini. Bahkan, andai Mr. Mann tahu, anak perempuan kecil yang bernama Belinda kini telah menjadi seseorang yang punya nama dan dicintai kalangan penulis fiksi… Duh, indah sekali,’kan, buah dari kebaikan hati?

Karen Armstrong, seorang penulis kenamaan buku spiritual rajin mendengungkan Compassion ofdeclaration di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Ia mengatakan, “Alangkah cantiknya dunia ini jika semua orang bisa berwelas asih seperti laiknya seorang ibu. “

Sungguh dalam makna ucapan mantan biarawati yang beralih profesi menjadi penulis buku spiritual best seller itu. Mengapa ia merasa perlu mengemukakan sosok ibu, apakah karena ia juga perempuan? “Oh,no! ” jawabnya tegas.

Tiada lain tiada bukan karena cinta kasih kebaikan hati seorang ibu itu mulia, tak ada dua di alam semesta ini. Bukan cuma manusia, seekor hewan sekalipun memiliki naluri keibuan alami. Rela berkorban bagi anak-anak dan keluarganya. Seorang ibu punya kekuatan hati dan kebaikan tiada batas… begitu panjang lebar penegasan Armstrong.

Ah, andai semua orang mampu memiliki kebaikan hati seorang ibu? Memberi tanpa berharap. Bersukacita memberi asupan makan janin, calon seorang manusia sedari meringkuk tak berdaya di dalam rahim? Bayangkan betapa nyaman dunia yang penuh kasih sayang. Kebaikan hati spontan yang sampai detik ini masih kudu harus saya sendiri kais-kais….

Ya, apa-lah saya, hanya manusia biasa yang kerap berpikir dengan logika mengabaikan nurani. Malah boleh jadi jika ada yang berbaik hati kita dituntut untuk berprasangka, “Jangan-jangan, euy, ada mauuunya? “

Sedari kecil saya sudah tahu sebaris kata “terima kasih”, tetapi jujur setua sekarang saya baru ngehhakekat katanya. “Terima, lalu… kasih.” Sistem paling tua : tabur tuai, prinsip paling dasar hukum memberi dan menerima. Inti kehidupan reliji dan moral belas kasih yang bersemayam dalam jantung semua agama, etika, bahkan tradisi spiritual.

Diam-diam saya teringat (lagi dan lagiii) kepada alm.ibu saya tercinta. Imbauannya selalu agar memerlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan terngiang di bilik sanubari. “Memberi ya, memberi saja. Tak usah ngedumel. Cape, lho, mengkalkulasi spekulasi untung dan rugi. Apalagi berharap pahala segala. Ikhlas itu membantu diri sendiri. “

Aih, memang tak mudah mengabaikan prasangka, berpedoman pada satu rumus kasih, bahwa, “Kebaikan tidak harus dibalas langsung, tetapi cukup-lah diteruskan kepada orang lain. “

Hari itu, saya sudah belajar banyak dengan menyimak cerita seorang sahabat , sekaligus guru saya, Belinda, sepenuh hati saya. Dan, satu cara yang saya bisa perbuat adalah meneruskan cerita tentang kebaikan hati ini kepada Anda.

Siapa tahu bisa menjadi setitik api kecil yang bernyala menerangi kegelapan. Karena bukankah di tengah kegelapan yang ada ketimbang mengutuk sumpah serapah membuang energie, adalah lebih baik jika kita mengambil sebatang lilin dan menyalakannya?

Berkah dalem.

BACA LAINNYA

CERPEN JUMAT MALAM: Gaun Putih Mawar Melati

SATU CERPEN DUA KARAKTER

About Effi S Hidayat

Wartawan Femina (1990-2000), Penulis, Editor Lepas, tinggal di BSD Serpong, Tangerang