Presiden Jokowi: Covid-19 Melandai, Keterisian Tempat Tidur di Rumah Sakit di Pulau Jawa Menurun Jauh

Seide.id – Jika ada masyarakat yang tidak bersedia divaksin, sebaliknya juga ada masyarakat yang sangat ingin divaksin Covid-19.

Menurut survey yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 22-25 Juni 2021 terhadap 1.200 responden di 34 provinsi, sekitar 36,4 persen masyarakat tidak bersedia menerima vaksinasi Covid-19.

Tiga alasan besar disebut Direktur Eksekutif LSI, Djayadi ,di antaranya , takut efek samping, mengganggap vaksin tidak efektif serta tidak butuh vaksin karena tubuh sehat. Di luar itu, ada yang meragukan kehalalannya atau harus bayar.

Dari jumlah di atas, 23,5 persen yang tidak percaya bahwa vaksinasi bisa mencegah penularan, cenderung dari masyarakat berpendidikan rendah.

“Dari segi pendidikan, tingkat kepercayaan ini, vaksin mampu cegah penularan itu cenderung lebih tinggi di kalangan pendidikan lebih tinggi. Di kalangan pendidikan rendah, itu cenderung tingkat kepercayaannya lebih rendah,” ungkap Djayadi dalam konferensi pers virtual, (18/7).

ANIMO MASYARAT

Terlepas dari hasil survey bahwa 63, 6 persen masyarakat mau menerima vaksin, keinginan masyarakat di luar pulau Jawa terlihat dari ‘aksi’ pada video yang beredar di media sosial.

Diperkirakan, lebih dari 1.000 warga Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT), merobohkan pagar Gedung Jurusan Farmasi, Poltekes Kemenkes Kupang, saat antre untuk mendapatkan vaksin. (14/6).

Begitu juga di Batam. Kembali beredar video antrean di GOR Abdul Jamal, Batam. Antrian membludak, aparat terpaksa turun tangan.

Kabar menggembirakan ini ditanggapi warganet sekaligus menuntut kesiapan pemda setempat sebagai penyelenggara dalam menghadapi animo masyarakat.

MELANDAI

Pada Instagram Presiden Jokowi, 30/7, Presiden ‘berbicara’ tentang upaya dan situasi pandemi, berikut di bawah ini.

Sepanjang Januari hingga Mei kemarin, situasi Covid-19 di tanah air sudah mulai melandai. Kegiatan perekonomian juga mulai bergairah. Akan tetapi, muncul varian baru yang menyebabkan kasus positif naik drastis terutama di Pulau Jawa dan Pulau Bali. Pemerintah pun mengambil keputusan yang sangat sulit dengan menerapkan kebijakan PPKM Darurat.

Mengapa bukan lockdown? PPKM Darurat yang berlaku kemarin ini pun sebenarnya semi-lockdown. Dapat Anda bayangkan, masih status semi itu saja, ketika saya masuk ke kampung, ke daerah, semuanya menjerit, meminta untuk dibuka.

Jadi, kita tetap menangani sisi kesehatannya, di saat yang sama aktivitas perekonomian dibuka perlahan.

Tadi pagi, saya mengecek langsung tingkat keterisian tempat tidur di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran. Isinya sudah menurun jauh, dari semula hampir 90 persen, sekarang 38 persen dari kapasitas. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain di Pulau Jawa. Yang sekarang kita waspadai adalah peningkatan kasus di luar Pulau Jawa.

Kabar ini patut disambut gembira.
Menyusul pulau di luar Jawa .

Indonesia pasti bisa..(ricke)

Avatar photo

About Ricke Senduk

Jurnalis, Penulis, tinggal di Jakarta Selatan